Mempertahankan Idealisme : Review Captain Fantastic 2016

captain-fantastic-fr-670.jpg

Apa yang terjadi jika kau muak dengan kondisi masyarakat yang hedonistik, konsumerisme, materialisme, sosialita, kecanduan gadget, game, acara TV dan sebagainya?

Pastinya kau menghindar dari semua itu, menuju ke sebuah tempat, menyendiri, menciptakan sistem sesuai idealisme dan menikmatinya. Bukan cuma untuk dirimu sendiri, tapi juga mengajak keluargamu, istri dan anak-anak supaya tidak ikut terjerumus ke kondisi masyarakat yang materialis tadi.

Tapi, sejauh mana idealisme kau dan keluargamu tadi bisa bertahan menghadapi aturan-aturan bernegara, aturan masyarakat jika dibenturkan dengan idealismu tadi?

Dari tadi tanya terus ya….

Jawabannya bisa ada di film Captain Fantastic ini.

Pilihan pertama, kau menyerah dan ikut alur. Bagai buih di lautan, hanya bisa ikut ke mana arus membawanya tanpa bisa membuat arus sendiri.

Atau punya pilihan kedua?

***

Menyikapi Logika di Film/Cerita


Ada film yang bagus, tapi kita kritik habis-habisan karena aktingnya lah, karena plotnya lah, karena twist endingnya lah, karena tidak sesuai dengan harapanlah karena ada beberapa bagian yang tidak masuk logika lah dan sebagainya.
Dan ada juga film yang bagus, kita tonton berulang kali karena saking bagusnya, ada beberapa karakter yang aktingnya jelek, ada bagian yang tidak masuk logika, tapi kita hiraukan, biasa saja, membiarkan saja dan menikmati film itu.
Sebenarnya apa yang menyebabkan bisa perlakuannya berbeda?
Contoh, di Star Trek Beyond dan Interstellar misalnya. di Interstellar, untuk turun di suatu planet, harus cek dulu berapa kadar oksigennya, tapi di Star Trek bebas saja. Di Interstellar, ledakan-ledakan di luar angkasa tidak terdengar suaranya dan api ledakannya juga hanya sebentar kemudian mati. Berbeda dengan Startrek yang penuh desing peluru penuh ledakan di luar angkasa. Padahal menurut ilmu fisika, bunyi bisa merambat kalau ada udara. Api juga bisa menyala kalau ada oksigen. Jadi seharusnya tidak ada suara ledakan di luar angkasa. Seharusnya tidak ada api ledakan yang menjalar ke mana-mana karena sudah padam dulu, tidak ada oksigen.

Jadi jawabannya sudah cukup jelas. Jika sebuah film sudah jelas tidak masuk akal, maka jangan biarkan otak ikut nimbrung. Biarkan mata saja yang bekerja.

Misalnya, untuk Startrek ini, kita tak perlu berpikir dengan rumit. Cukup ikuti ke mana film berjalan. Dengan disuguhi CGI yang memanjakan mata, makhluk-makhluk aneh planet lain. Cukup dinikmati saja.

***

Syair Biji

dalam biji utuh
tersimpan tumbuh

dalam tumbuh
mungkin menjelma kayu

dalam kayu
semoga menjulang

ada yang berbuah dan buahnya membuat senang

ada yang tegak hingga langit tertantang
ada yang kokoh berdiri hingga angin meradang
karena hanya mampu membuat daunnya melayang

ada yang berubah jadi lembaran kertas dan tulisan yang tercoret di atas menginspirasi semua anak di tiap kelas

ada yang rindu ingin jadi biji
kembali

***