Belajar Ekonomi dari Film Rocket Singh : Salesman of The Year dan Film Wardogs 2016

Belajar ekonomi artinya belajar mencapai hasil maksimal dengan pengorbanan minimal. Dari dua film ini kita belajar mendapat hasil maksimal dengan mengutamakan pada servis alias pelayanan.
Ceritanya…… (awas ada spoilernya)  Rocket Singh ini menarik karena twistnya tidak bisa ditebak. Kalau mendengar judul Salesman of The Year pasti dalam pikiran kita ada seorang salesman yang gigih ‘mengejar’ konsumen hingga akhirnya perusahaan untung karena hasil pekerjaan salesman tersebut memuaskan. 
Namun ceritanya tidak seperti itu. Ada seorang pekerja baru yang selalu disia-siakan oleh pemimpin perusahaan, manager maupun teman-teman satu kantornya. Karena tidak puas, karyawan tersebut mendirikan perusahaan sendiri, tapi perusahaan itu adalah perusahaan bayangan yang fasilitasnya masih menggunakan fasilitas perusahaannya. Dan ia sendiri belum keluar dari perusahaan tempat ia ‘dianiaya’. 
Karena perusahaan bayangannya itu lebih mengutamakan servis, maka perusahaannya lebih terkenal dan banyak permintaan dari klien, bahkan pelanggan dari perusahaan lamanya berpindah ke perusahaan bayangannya itu. 
Maka dari itulah servis atau pelayanan ke pelanggan adalah hal mutlak.
Kalau di film Wardogs juga sama (awas ada spoiler lagi), mengenai pedagang senjata dan peluru. 
Ada permintaan dari tentara di perang Irak untuk mengirimkan dalam jumlah besar pistol buatan Italia (Beretta). Akan tetapi karena ada suatu hal, adanya embargo barang-barang Italia tidak boleh masuk, akhirnya dipilihlah melalui Jordania untuk kemudian bisa masuk ke Irak lewat jalur darat. Sialnya, visa dari pedagang senjata itu kadaluarsa sehingga pistol-pistol satu truk tertahan di bandara. Karena komandan tentara merasa barang pesanannya belum sampai juga, ia kemudian berniat membatalkan pesanan untuk beralih ke kontraktor senjata yang lain. 
Nah ini dia kata kuncinya: servis atau pelayanan. 
Sang pedagang senjata berusaha bagaimanapun juga supaya barang sampai ke tangan pelanggan. Dengan menyuap orang dalam di pihak bandara Jordania dan mengantarkan sendiri pistol satu truk itu masuk ke markas tentara AS di Irak yang penuh dengan jalan panjang gurun panas, dihadang tentara penjaga perbatasan Irak dan juga dikejar-kejar Tentara Irak yang ingin mengusir Amerika. Hingga kemudian sampailah barang dagangan itu ke pelanggannya dan dibayar banyak.
Kasus berikutnya, karena tamak bin serakah alias rakus, pedagang senjata tersebut lupa membayar pegawai pengepakan peluru, yang akhirnya berujung pegawai pengepakan lapor ke Kedutaan Amerika mengenai asal negara pembuatan peluru yang ternyata musuh negara AS.
Langsung saja ke kesimpulannya:

1. servis/pelayanan ke pelanggan harus diutamakan daripada menambah jumlah pelanggan (kualitas versus kuantitas) karena kalau pelayanan sudah bagus, tidak perlu ada iklan, pelanggan akan bertambah otomatis.

2. bukan hanya ke pelanggan saja servis/pelayanannya, tetapi ke pegawai/bawahan juga suatu kewajiban.

3. kalau belum punya pegawai/bawahan bagaimana? ya servis kepada diri sendiri,  dengan jangan bekerja terlalu keras hingga mendzolimi diri. Ada hak-hak atas tubuh juga yang perlu ditunaikan.
Bagaimana, menurutmu postingan ini sudah super belum?
***
Nb. Tulisan ini sudah dikirimkan di acara pelatihan menulis bebas, reportase dpdpkswonogiri 16 November 2017

Iklan

Mempertahankan Idealisme : Review Captain Fantastic 2016

captain-fantastic-fr-670.jpg

Apa yang terjadi jika kau muak dengan kondisi masyarakat yang hedonistik, konsumerisme, materialisme, sosialita, kecanduan gadget, game, acara TV dan sebagainya?

Pastinya kau menghindar dari semua itu, menuju ke sebuah tempat, menyendiri, menciptakan sistem sesuai idealisme dan menikmatinya. Bukan cuma untuk dirimu sendiri, tapi juga mengajak keluargamu, istri dan anak-anak supaya tidak ikut terjerumus ke kondisi masyarakat yang materialis tadi.

Tapi, sejauh mana idealisme kau dan keluargamu tadi bisa bertahan menghadapi aturan-aturan bernegara, aturan masyarakat jika dibenturkan dengan idealismu tadi?

Dari tadi tanya terus ya….

Jawabannya bisa ada di film Captain Fantastic ini.

Pilihan pertama, kau menyerah dan ikut alur. Bagai buih di lautan, hanya bisa ikut ke mana arus membawanya tanpa bisa membuat arus sendiri.

Atau punya pilihan kedua?

***

Empati Untuk Para Pelupa: Review Memento (2000), Finding Dory (2016)


(Awas, mengandung spoiler)

Memento. Hanya film sederhana, tapi dibuat rumit. Alur ceritanya bisa saja dibuat searah, tapi demi membuat teka-teki, supaya penonton bertanya- tanya, maka dibuatlah alur sepotong-potong. Bila suka dengan teka-teki membosankan, tonton saja filmnya. Memento.
Tokoh utamanya seorang pegawai asuransi yang kebetulan rumahnya disatroni seseorang, istrinya terbunuh, kepala pegawai asuransi itu dipukul selanjutnya cacat kemudian mengalami seperti yang dialami Dory di Finding Dory (2016), mengalami masalah di ingatan jangka pendek alias pelupa parah. Saat-saat berikutnya pegawai asuransi itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Padahal pegawai asuransi tersebut cukup cerdas dengan membuat sistem pengingat yang bisa dibilang aneh, dengan mentato tubuhnya, dengan foto instant polaroid, mengingat jaman itu belum ada smartphone yang ada fitur kamera, reminder, note dan lain-lain.
Orang-orang yang memanfaatkannya yang pertama, ia dimanfaatkan oleh detektif polisi yang mengincar gembong narkoba, hingga gembong narkoba dibunuh oleh pegawai asuransi.
Kedua, dimanfaatkan oleh istrinya gembong narkoba untuk membunuh  detektif polisi yang menyebabkan suaminya terbunuh.
Kira-kira seperti itu jalan ceritanya. Coba tanyakan ke orang lain yang sudah menonton Memento. pasti beda lagi ceritanya :). Kita, penonton, hanya bisa menebak apa maksud dari penulis cerita. Christoper Nolan (sutradaranya) cukup bagus memotong-motong film ini. Sepertinya kita cukup tau apa maksud di belakang ini semua. Dalam hati Nolan pasti berkata, ” Nih, filmku, rasakan, Memento, mumet tho?”
Klau mau jelas ya, silakan siapkan aplikasi movie maker atau sejenisnya untuk memotong-motong film ini. Bagian paling belakang dipotong, letakkan di depan. Belakangnya lagi dipotong lagi letakkan di belakang yang tadi dan seterusnya.  Jadinya malah ini film seperti film belum jadi atau setengah jadi dan kita, penonton diminta menyusun kembali potongan.
Atau mungkin film ini untuk mengetes apakah penontonnya juga termasuk menderita gangguan ingatan jangka pendek?
au ah.
Yang terpenting, film ini membuka empati kita terhadap para pelupa. diibaratkan smartphone, penderita gangguan ingatan jangka pendek ini adalah smartphone yang memiliki memory internal yang sedikit alias kecil. Dikatakan smart ya smart. Tidak bisa kita bilang smartphone yang bermemory sedikit sebagai stupidphone. Ya tetap smartphone, hanya saja aplikasi dan hal-hal yang mau disimpan atau ditanamkan di memory dipilih-pilih yang penting saja. 
Karakter Dory juga sebenarnya cerdas dan fokus kepada satu hal, hanya saja butuh suatu sistem pengingat, sebuah catatan, sebuah tanda, untuk menjalani hidup ini hingga akhir hayat.
***