Suatu Nanti Pada Hari

Suatu hari kau kan menanti
waktumu mangkat menembus mati
menyatunya pikir dan hati
dirimu kembali dalam sendiri

Suatu hari kau kan menanti
di alam kubur semoga sepi
malaikat penunggumu tak perlu bertanya itu-ini
karena kau hanyalah pembuat puisi

Tanpa menunggu hari nanti
semoga tulisanmu jadi jariyyah tanpa henti
tanpa terputus usangnya kayu nisan tergerus hari
nisan yang tertulis namamu: Sapardi

SAPARDI DJOKO DARMONO
20 Maret 1940- 19 Juli 2020

Hanya Berjemur Saja

textgram_1586434229
Kau tau, Sang Pencipta sudah menciptakan segala sesuatu dengan adil. Termasuk virus-virus yang menyerang datang dengan sendirinya tanpa dipanggil.
Sederhana. bahwa sebenarnya dia tidak menyerang dengan usil. Mereka hanya butuh tempat tinggal sebagai kuil. Tempat tinggal mereka adalah di tubuh makhluk hidup hidup yang lemah, dekil, dan memiliki benteng daya tahan yang mungil. Sehingga saat mereka masuk, tubuh yang dimasukinya jadi demam menggigil. Mereka hanya butuh habitat secuil. Kau tau Sang Pencipta adalah Yang Maha Adil. Makhluk-makhluk kecil itu punya andil, mereka sebagai alarm bagi tubuh, itu berarti, kondisi tubuh sedang kurang sempurna bila mereka berusaha masuk dan berhasil.

Ini sudah April. Mentari kemarau tersenyum centil. Ditemani lembut angin kering sedikit, belum keluar tunai, masih menyicil. Membuat awan-awan mendung yang terlahir bungsu alias ragil, merasa tersingkir akhirnya terkucil. Momen lockdown, berdiam diri sambil paginya menikmati sinar matahari perlu dinikmati. Setelah sekian lama bekerja di dalam ruangan tanpa terkena sinar matahari.

Nah, pada suatu pagi. hanya memakai APD (Alat Perlindungan Diri) seorang lelaki yakni celana yang menutupi aurat saja, untuk menghadapi suatu peristiwa yang disebut berjemur. Kau tau hakikatnya berjemur? Matahari sebagai busur. Ibu dari anak-anak panah cahayanya meluncur. Panah-panah yang melesat masuk ke bumi, planet lain dan siapa saja yang mengenai tanpa mengenal umur. Dan taukah kau siapa yang merentangkan busurnya? Sang Penciptalah yang merentangkannya. Saat pagi maka anak-anak panah menghangatkan, saat siang saatnya membakar dan saat senja melembutkan. Sang Pencipta merenggangkan letupan senar busur matahari lalu melesatkan anak-anak panah cahaya menembus hati. Sang Pencipta yang ahli. Memberi kekebalan kepada pagi. Sungguh tak terkira Maha Kasih Sayang kepada benda-benda ciptaan-Nya. Hanya dapat dirasakan bagi mereka yang sadar, kau takkan bisa menghindar.

Wonogiri, 9 April 2020

Pengorbanan Perantau Galau

Sebuah cerpen
Sejak 2009 dia merantau ke ibukota dan sejak 1 bulan ia terpenjara di kota ini. Menyusuri lorong-lorong sepi rusunawa, rumah susun sederhana sewa, apartemen mewah khusus masyarakat.

Di 30 hari ini, pada Bulan Maret, saatnya panen di desanya. ia mendaki anak-anak tangga di rumah susun yang lengang. Melepaskan pandangan penuh rindu ke hamparan lahan kosong di samping rumah kontrakannya yang ditumbuhi semak belukar. Dadanya terasa lapang, di satu sisi, ia gembira. Menutupkan kelopak mata. Tertimbun kenangan, tergenang air mata yang entah air mata bahagia atau air mata isakan kesedihan. Mengalir bersamaan dengan doa-doanya di lubuk hati. Berharap masa virus ini segera berlalu.

Setelah dirasa puas, ia menuruni lagi anak tangga. Ada kesedihan dalam suara di hatinya, bagaimana bisa aku meninggalkan rumah ini dengan hati yang tenang, hati yang halus tanpa goresan luka? Tapi tetap bagaimanapun aku ingin kembali ke tanah kelahiranku. Mudik. Tempat ini sudah sepi. Sesama perantau sudah kembali ke desa mereka masing-masing. Tidak ada gunanya di sini. Tinggal aku sendiri.

Masih terngiang himbauan gubernur ibukota, kalau semua bis AKAP, antar kota antar propinsi, akan dibatasi karena efek dari lockdown. Jangan sampai perantau pulang karena akan menyebarkan virus corona ke daerah masing-masing. Begitu kata-kata Sang Gubernur.

Tapi segera setelah itu seorang menteri kabinet rupanya berseberangan pendapat dengan gubernur. Pemudik tetap boleh pulang asalkan setelah sampai di tempat tujuan segera mengisolasi diri. Tentu saja menteri itu lebih tinggi kedudukannya daripada gubernur. Mungkin saja gubernur ibukota sama galaunya dengan Si Perantau ini.

Ia masih berkata dalam hati, ah, terlalu banyak kepingan pikiranku yang berserakan. Berserakan entah ke mana. Ada yang terserak ke kampung halaman. Oh, bukankah ini saatnya panen padi? Terbayang wajah-wajah ceria Kang Yadi, Yu Warmi, dan kangmas-kangmas dan mbakyu -mbakyu yang lain yang merayunya untuk segera beli tiket bis, mengemasi barang, tuk segera pulang. Aku tak ingin menunggu lebih lama lagi. Tempat ini sepi sesepi malam terkelam. Wangi getah padi yang baru ditebas dan segarnya bau amis lumpur bercampur bau keong sawah memanggilku. Aku ingin segera berangkat pulang. Tidak ada waktu lagi menunggu. Aspal hitam dan suara gemuruh knalpot bis antar propinsi adalah tempatku kembali. Jeritan bis-bis itu memanggilku. Aku harus segera berangkat.

Namun ia kembali terdiam. Hampir-hampir saja dia tergoda. Suara gubernur ibukota menggetarkan jiwanya. Kembali ia melempar pandangan ke lahan kosong yang penuh semak belukar tadi. Dilihatnya ke angkasa, tampak burung elang dengan gembira terbang melintasi gedung-gedung sepi, tower dan tiang listrik. Menikmati udara ibukota tanpa hiruk-pikuk manusia.

Kembali ia duduk di anak tangga yang biasanya ramai tetangga kamarnya. Ia kembali berkata dalam liang hatinya, tidak mungkin, sungguh tidak mungkin aku pulang. Meskipun aku sehat, bagaimana jika aku justru membawa virus ini ke wilayah tempat tinggalku? Bagaimana jika pertemuanku ke keluargaku malah menjadi akhir hari-hari bagi mereka? Apakah aku bisa menjadi pohon lebat yang buahnya bisa kupanen untuk kuberikan pada mereka, atau sebaliknya, aku membawa benalu kegersangan yang mematikan? Ah…..

Ia membulatkan tekad, sebaiknya aku tetap tinggal di sini. dalam kesendirian dan tanpa penghasilan. Toh masih ada sisa tabungan.

Banyak dialog antara dia dan jiwanya. Tentang kemelut yang diceritakan di tembok-tembok yang takkan terdengar oleh kalian. Ia sedang berkorban untuk tidak mudik. Demi keselamatan orang-orang yang dicintainya. Pengorbanan yang takkan dipahami orang-orang biasa. Pengorbanan yang terkunci dalam hati. Pengorbanan yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta yang dia sendiri tak mampu mengungkapkan rahasianya.

Wonogiri, 31 Maret 2020.