Untung Saja

Di antara taring hujan menjarum. Mengoyak menembus kulit hingga ke sumsum. Selayaknya itulah bayangan itu senyum. Tak mau pergi, tak mau layu, tak mau alum.

Tentang bibirmu merekah ranum. Berkecupan denganku dalam suatu forum. Dalam liur basah mengkungkum. Lidah bertemu, bergulat menjadi satu kulum. Semua masalah berguguran dalam sebuah cium.

Ah, kenangan ini jeruji yang menghukum. Diri terperangkap dalam satu lembaran album. Pada potongan kebun ingatan berisi bunga indah berkuntum-kuntum. Ditambah aroma nafasmu begitu harum.

Kau menjelma berubah kostum. Dari kupu-kupu menjadi penyu buatku kagum. Gemulai menari di riak hujan mendentum. Otak tak lagi memenuhi kuorum. Tak tau masihkah sadar atau belum.

Ku khawatir saat tidurku mengaum. Menyebut berulang dirimu bagai ayunan pendulum. Untung saja namamu terlalu umum. Dinyanyikan sheila on 7 serenyah biskuit gandum.

Kau dan lingkaran jiwamu
Menarik langkah kakiku
Bermain dengan hatimu
Aku terbakar bahagia… aiaiaiaia…

Kau Benar, Aku Tak Ingin Biru

“Biru saja ah…”
“Jangan biru….”
“Kenapa, bukankah aku suka biru?”
“Ah, kau suka biru hanya saat-saat awal hidupmu saja. kau suka biru saat nonton Power Ranger warna biru. Berkacamata. Ahli menguasai teknologi. Lalu kau suka biru saat teman-temanmu menjagokan Intermilan dengan seragamnya biru-hitam. Setelah itu kau tak lagi peduli warna-warna, termasuk biru.” Terang Napas. Baca lebih lanjut

kumohon jangan rindu

kumohon jangan rindu padaku
seperti rindunya batang-batang kangkung ingin ditumis
seperti rindunya pasir hitam pantai ingin dibelai ombak parangtritis
seperti inginnya paving-paving trotoar diinjaki kaki-kaki para penunggu halte bis

janganlah merinduiku
karena hatimu pasti takkan mampu
menahan beratnya beban ini rindu
bisa-bisa hatimu retak, pecah, terpukul lebam membiru

sudahlah, stop merindukanku
biar aku saja yang rindu padamu
biar aku saja yang menanggung tiupan rindu di dalam qalbu
semoga saja qalbuku bisa elastis sanggup menampung kenang bayangmu

***