Kenangan Betal Lawas

Bagi orang-orang biasa, musim kemarau adalah musim yang diharapkan segera berlalu. Mereka, orang-orang biasa itu, ingin segera menemui hujan-hujan yang dirindukan, ingin segera membaui aroma tanah kering yang tersiram air dari awan mendung menimbulkan aroma-aroma khas. apalagi sambil diiringi lagu November Rain dari GNR. Wuih sedap. Setelah bulan September-Oktobernya menyanyikan lagi Wake Me Up When September End Green Day lanjut diakhiri November Rain atau lagu Hujan dari Utopia.

Itu semua tak berlaku bagiku.

Justru kemarau adalah saat-saat yang ditunggu, atau berharap kemarau tak segera usai. Teriknya mentari memijiti punggung, debu-debu memenuhi relung hidung dan angin senja menerbangkan layang-layang autis nan hiperaktif tanpa dinaungi awan mendung. Tapi ada satu hal dari kemarau yang sangat ditunggu. Apa itu? Berkaitan dengan sejarah Wonogiri. Berkaitan dengan Waduk yang katanya terbesar se-Asia Tenggara. Saat kemarau panjang tiba, kota-kota besar yang tenggelam di dasar Waduk Gajah Mungkur terlihat. Saat itulah nostalgia dimulai.

Bagi saya yang masih muda, nostalgia ini memang tak ada artinya. Pembangunan waduk diawali tahun 1975 dan prosesnya berlangsung hingga 1979. Saya belum lahir, namun yang rasa ingin tahu serta emosi dari paman-paman, kakak-kakak yang saya tunggu-tunggu. Ada sebagian dari mereka yang berbahagia dan ingin melihat tanah air mereka dan ada juga yang sakit hati jika teringat waduk Wonogiri. Bagi yang berbahagia tadi, saat mereka menceritakan lokasi para tetangga yang dulu dan asmara apa saja yang terlibat, hal ini mengasyikkan. Meski bangunan-bangunan sudah hancur, ada yang tertimbun dan ada yang batu-batanya diambili penduduk sekitar karena memang batanya kualitas bagus. Yang tersisa hanya bangunan sumur dan kamar mandi.

Coba saja bayangkan, jika program transmigrasi besar-besaran waduk ini terjadi di jaman sekarang, di mana apapun jadi viral Di mana hak asasi manusia sedang digembar-gemborkan. Apa yang akan terjadi?

Muncul pertanyaan-pertanyaan iseng:

1. Mengapa orang-orang Betal Lawas ini mau-mau saja saat dipindahkan ke daerah lain, bahkan ke luar Jawa? Bagimana jika nanti saat tiba di daerah tujuan transmigrasi keadaannya tidak seperti yang dibayangkan? Padahal rumah yang sudah dibangun ditambah lahan pekarangan yang mungkin sudah ditanami macam-macam tanaman, apalagi kenangan tanah air kelahiran yang membekas dalam akan menyebabkan pengelola waduk mungkin akan mendapatkan status pelanggar HAM karenan memaksa mereka untuk pindah.
2. Apakah ini pengorbanan yang luar biasa dari orang-orang Jawa tulen yang katanya pasrah, nrimo, sabar dan sebagainya?
3. Kenapa kepala desa saat itu, menteri transmigrasi, menteri dalam negeri, bahkan Presiden Suharto jaman itu sedemikian cerdas memindah ribuan orang, ribuan hektar, menyiapkan lahan pengganti, menyiapkan dana-dana dan sebagainya?

Sebagian pertanyaan-pertanyaaan itu mungkin terjawab dengan artikel yang tersebar di WA tentang Betal Lawas yang ada di akhir postingan ini.

Dari Betal Lawas ini, banyak pelajaran yang diambil, tentang bagaimana merelakan sesuatu, bagaimana menerima keadaan yang ada, bagaimana menciptakan kenangan, yang meskipun kenyataannya pahit, namun terasa manis juga dikenang.

DSC_0216

 

 

 

Artikel dari WA:
Sejarah panjang pembangunan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri.

Waduk Gajah Mungkur, Pengorbanan Orang Wonogiri untuk Indonesia
Air tampungan di waduk ini juga menjadi energi pembangkit tenaga listrik yang memasok kebutuhan listrik

Besarnya manfaat Waduk Gajah Mungkur itu tentu tak lepas dari “pengorbanan” orang Wonogiri yang sebelumnya menghuni wilayah ini, karena waduk ini dibangun diatas areal tanah hunian, persawahan, dan perladangan penduduk seluas 90 Km2 yang mencakup 51 desa di 7 Kecamatan. Terdapat 12.525 Keluarga (68.750 jiwa) penduduk Wonogiri yang tinggal di areal ini, 10.350 Keluarga diantaranya secara sukarela meninggalkan “tanah kelahiran-nya” pindah melalui transmigrasi dan sisanya sekitar 2.175 Keluarga pindah secara mandiri ke berbagai daerah, baik di wilayah Jawa Tengah maupun kota-kota lain di Indonesia. Pertanyaannya “mengapa mereka bersedia secara sukarela meninggalkan tanah kelahiran atau tanah tumpah darah atau tanah airnya?”.

Bisa dibayangkan betapa kompleksnya masalah yang dihadapi saat waduk ini dibangun. Mulai dari proses “pembebasan tanah”, pembayaran ganti rugi, penyiapan tempat tinggal untuk membangun hidup baru di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, dan Bengkulu, serta proses perpindahan penduduk dengan berbagai kompleksitas masalahnya, baik yang berhubungan dengan masalah sosial, budaya, mobilisasi orang dan barang maupun aspek psikologis lainnya. Satu hal yang wajar jika dalam proses itu terdapat beberapa “gesekan kecil” dari mereka yang ihklas, setengah ihklas, dan bahkan menolak rencana besar itu.

Syukur Alhamdulillah, Bupati Wonogiri waktu itu (Harmoyo) adalah seorang pemimpin bijak yang mampu meyakinkan masyarakat yang dipimpinnya. Didukung oleh para Menteri terkait waktu itu, Menteri Transmigrasi Prof. Subroto, Menteri Pekerjaan Umum Prof. Purnomosidi Hajisarosa, dan diakhiri Menteri Muda Transmigrasi Martono melakukan “blusukan” untuk mengajak dialog dengan masyarakat Desa-desa genangan. Akhirnya melalui proses panjang, pendekatan manusiawi dilandasi falsafah “nguwongke”, proses panjang itu berhasil dilalui. Permukiman transmigrasi di wilayah Sitiung Provinsi Sumatera Barat yang (waktu itu) dipimpin Gubernur Prof. Harun Zein siap menampung para pahlawan pembangunan dari Wonogiri, sementara Menteri Transmigrasi bersama Menteri Perhubungan juga telah siap dengan berbagai sarana perpindahnnya.

Awal Desember 1976, rombongan pertama 100 Keluarga pahlawan pembangunan Waduk Gajah Mungkur Wonogiri meninggalkan Transito di Giriwono menuju Stasiun Kereta Api Jebres Solo, selanjutnya menggunakan Kereta Api menuju Stasiun Tanjung Priok Jakarta untuk langsung naik Kapal menuju Pelabuhan Teluk Bayur, Sumatera Barat. Inilah peristiwa terbesar dalam sejarah perpindahan penduduk melalui transmigrasi di Indonesia. Awal Desember ini Trip pertama gelombang awal terdiri dari 100 kepala keluarga (448 jiwa) bergerak dari Pelabuhan Teluk Bayur menelusuri jalan melingkari Danau Singkarak menuju Desa Sitiung (Sumatera Barat) sepanjng sekitar 217 Km.
Penduduk setempat-pun berjejal menyambut ceria dengan berbagai tetabuhan, ada telepong, bahkan reog Ponorogo. Sampai bulan Maret 1977 sejumlah 2.000 kk (65 517 jiwa) warga daerah genangan Waduk Gajah Mungkur berhasil ditempatkan di 4 Desa baru wilayah Sitiung, Tiuamang dan Silalang kabupaten Sawahlunto Sijunjung.

Sambutan masyarakat “urang awak” waktu itu cukup ramah. Upacara adat Minang ‘sekapur sirih’ dilakukan oleh Zohar sebagai wakil Ninik-mamak, diterima oleh Prawiro Diyono, bayan dukuh Karanglo, yang dilanjutkan dengan sambutan ketua adat setempat, Datuk Mendaro Kuning. Hari itu, Rabu perjalanan dari jam 06.00 dan tiba di Sitiung jam 15.00 sore hari. Kawasan Sitiung seluas 108 kilometer persegi dan berpenduduk asli 3.471 jiwa itu, dikenal sebagai daerah subur. Di desa yang terletak 4 kilometer dari Trans Sumatra Highway itu sudah tersedia ladang yang akan dibagikan. Juga areal persawahan yang kini sebagian besar masih menunggu selesainya proyek irigasi dataran Batanghari. Dengan tambahan 100 kk itu, dipastikan Sitiung akan menjadi 2 desa. Dan sesuai dengan ketentuan semula, desa baru itu akan dipimpin oleh Kepala Desa baru, (waktu itu) Bapak Pardi Padmosumarto yang memang telah ditunjuk oleh Bupati Wonogiri. Pembukaan permukiman baru itu juga dilengkapi dengan beberapa prasarana seperti SD, SLTP, dan SLTA, Balai Pengobatan, dan lain-lain. Yang menarik, pada waktu itu juga dibangun pasar yang oleh masyarakat setempat diberi nama “Wonositi” sebuah nama yang menggabungkan nama Desa setempat Sitiung dengan asal transmigran Wonogiri. Akhir tahun 1976 itu, sebanyak 2.000 KK warga asal Kabupaten Wonogiri berhasil ditempatkan di hamparan Sitiung.

Namun memang tak ada perjalanan yang selalu mulus dan berbagai persoalan-pun seringkali menghadang. Ketika proses pembangunan Waduk kurang sinkron dengan proses pembangunan permukiman baru untuk menampung penduduk Wonogiri berbagai persoalan pelik memaksa para pejabat untuk secara cerdas mencarikan solusi. Waktu itu, secara teknis pembangunan waduk mengharuskan seluruh areal dikosongkan karena arealnya harus segera digenangi. Namun, karena berbagai masalah lapangan, pembangunan permukiman transmigrasi belum semuanya siap. Daya tampung kawasan Sitiung ternyata tidak mampu menampung seluruh penduduk daerah genangan waduk, sehingga Depnakertranskop dibawah komando Prof. Subroto harus berjuang keras mencari tempat lain. Tempat itu diperoleh, ada di kawasan Jujuhan Provinsi Jambi bersebarangan dengan Sitiung, ada di kawasan Baturaja Provinsi Sumatera Selatan, dan ada pula di kawasan Kuro Tidur Provinsi Bengkulu. Namun ternyata penyebaran penempatan orang yang merasa menjadi “korban Waduk” itu “ditolak” oleh sebagian warga. Tentu hal demikian cukup merepotkan.

Tahun 1980, sebanyak 1.850 KK menolak dan mereka enggan meninggalkan tanah kelahirannya. Bahkan jika Pemerintah memaksa, merekapun menyatakan siap “tenggelam bersama” karena menganggap Pemerintah “ingkar janji”. Sitiung yang waktu itu menjadi lokasi “idola” bagi “korban waduk” ternyata tidak mampu menampung semua.
Berbagai cara dilakukan untuk mengharap “keihklasan” warga “korban Waduk Gajah Mungkur” Wonogiri ini. Berbagai strategi komunikasi dilakukan, dan berkat “kenegarawanan” mereka, 1.850 KK tersebut bersedia berangkat menuju kawasan Kuro Tidur di Kabupaten Bengkulu Utara Provinsi Bengkulu. Itulah kenegarawanan orang Wonogiri, walaupun dengan berat hati, mereka menyadari bahwa waduk adalah kepentingan bangsa yang lebih besar. Akhirnya pada tanggal 17 November 1981, Waduk Serbaguna Gajah Mungkur-pun diresmikan oleh Presiden Soeharto.

Kini, setelah rata-rata sekitar 34 tahun, perjuangan 10.350 KK warga Wonogiri “korban Waduk Gajah Mungkur” di Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, dan Bengkulu-pun berhasil meraih sukses. Mereka merajut masa depan bersama keluarga dan handai taulannya dengan berbagai bidang usaha. Ada yang sukses dengan Budidaya pertanian, perkebunan, dan berbagai bidang usaha, merintis karier di pemerintahan, dan bahkan melalui jalur Politik. Saat ini tidak sedikit transmigran warga genangan waduk Gajah Mungkur yang menjadi pejabat publik dan juga anggota parlemen, baik DPRD Kabupaten/Kota maupun Provinsi. Pengorbanan mereka meninggalkan tanah kelahirannya berbuah sukses, dan itulah bukti bahwa jiwa kenegarawanan berhasil memberikan manfaat bagi sesama dan juga dirinya.

Demikian pula Waduk Gajah Mungkur, kini menjadi idola Kabupaten Wonogiri, persawahan di wilayah Kabupaten Sukoharjo, Karanganyar, dan sekitarnya tertata apik, dan pasokan listrik-pun mendorong pertumbuhan kawasan Jawa Tengah Tenggara ini. Itu semua berkat “kebesaran jiwa dan kenegarawanan” puluhan ribu warganya. Kini, mereka yang dulu merasa menjadi “korban” telah memetik buah keberhasilan, tidak hanya diri dan keluarganya, tetapi juga masyarakat yang ia tinggalkan, Wonogiri dan sekitarnya. Sekian (Berbagai sumber Bedol dhesa/Transmigrasi)

Kau Benar, Aku Tak Ingin Biru

“Biru saja ah…”
“Jangan biru….”
“Kenapa, bukankah aku suka biru?”
“Ah, kau suka biru hanya saat-saat awal hidupmu saja. kau suka biru saat nonton Power Ranger warna biru. Berkacamata. Ahli menguasai teknologi. Lalu kau suka biru saat teman-temanmu menjagokan Intermilan dengan seragamnya biru-hitam. Setelah itu kau tak lagi peduli warna-warna, termasuk biru.” Terang Napas. Baca lebih lanjut

Belajar Ekonomi dari Film Rocket Singh : Salesman of The Year dan Film Wardogs 2016

Belajar ekonomi artinya belajar mencapai hasil maksimal dengan pengorbanan minimal. Dari dua film ini kita belajar mendapat hasil maksimal dengan mengutamakan pada servis alias pelayanan.
Ceritanya…… (awas ada spoilernya)  Rocket Singh ini menarik karena twistnya tidak bisa ditebak. Kalau mendengar judul Salesman of The Year pasti dalam pikiran kita ada seorang salesman yang gigih ‘mengejar’ konsumen hingga akhirnya perusahaan untung karena hasil pekerjaan salesman tersebut memuaskan. 
Namun ceritanya tidak seperti itu. Ada seorang pekerja baru yang selalu disia-siakan oleh pemimpin perusahaan, manager maupun teman-teman satu kantornya. Karena tidak puas, karyawan tersebut mendirikan perusahaan sendiri, tapi perusahaan itu adalah perusahaan bayangan yang fasilitasnya masih menggunakan fasilitas perusahaannya. Dan ia sendiri belum keluar dari perusahaan tempat ia ‘dianiaya’. 
Karena perusahaan bayangannya itu lebih mengutamakan servis, maka perusahaannya lebih terkenal dan banyak permintaan dari klien, bahkan pelanggan dari perusahaan lamanya berpindah ke perusahaan bayangannya itu. 
Maka dari itulah servis atau pelayanan ke pelanggan adalah hal mutlak.
Kalau di film Wardogs juga sama (awas ada spoiler lagi), mengenai pedagang senjata dan peluru. 
Ada permintaan dari tentara di perang Irak untuk mengirimkan dalam jumlah besar pistol buatan Italia (Beretta). Akan tetapi karena ada suatu hal, adanya embargo barang-barang Italia tidak boleh masuk, akhirnya dipilihlah melalui Jordania untuk kemudian bisa masuk ke Irak lewat jalur darat. Sialnya, visa dari pedagang senjata itu kadaluarsa sehingga pistol-pistol satu truk tertahan di bandara. Karena komandan tentara merasa barang pesanannya belum sampai juga, ia kemudian berniat membatalkan pesanan untuk beralih ke kontraktor senjata yang lain. 
Nah ini dia kata kuncinya: servis atau pelayanan. 
Sang pedagang senjata berusaha bagaimanapun juga supaya barang sampai ke tangan pelanggan. Dengan menyuap orang dalam di pihak bandara Jordania dan mengantarkan sendiri pistol satu truk itu masuk ke markas tentara AS di Irak yang penuh dengan jalan panjang gurun panas, dihadang tentara penjaga perbatasan Irak dan juga dikejar-kejar Tentara Irak yang ingin mengusir Amerika. Hingga kemudian sampailah barang dagangan itu ke pelanggannya dan dibayar banyak.
Kasus berikutnya, karena tamak bin serakah alias rakus, pedagang senjata tersebut lupa membayar pegawai pengepakan peluru, yang akhirnya berujung pegawai pengepakan lapor ke Kedutaan Amerika mengenai asal negara pembuatan peluru yang ternyata musuh negara AS.
Langsung saja ke kesimpulannya:

1. servis/pelayanan ke pelanggan harus diutamakan daripada menambah jumlah pelanggan (kualitas versus kuantitas) karena kalau pelayanan sudah bagus, tidak perlu ada iklan, pelanggan akan bertambah otomatis.

2. bukan hanya ke pelanggan saja servis/pelayanannya, tetapi ke pegawai/bawahan juga suatu kewajiban.

3. kalau belum punya pegawai/bawahan bagaimana? ya servis kepada diri sendiri,  dengan jangan bekerja terlalu keras hingga mendzolimi diri. Ada hak-hak atas tubuh juga yang perlu ditunaikan.
Bagaimana, menurutmu postingan ini sudah super belum?
***
Nb. Tulisan ini sudah dikirimkan di acara pelatihan menulis bebas, reportase dpdpkswonogiri 16 November 2017