Mempertahankan Idealisme : Review Captain Fantastic 2016

captain-fantastic-fr-670.jpg

Apa yang terjadi jika kau muak dengan kondisi masyarakat yang hedonistik, konsumerisme, materialisme, sosialita, kecanduan gadget, game, acara TV dan sebagainya?

Pastinya kau menghindar dari semua itu, menuju ke sebuah tempat, menyendiri, menciptakan sistem sesuai idealisme dan menikmatinya. Bukan cuma untuk dirimu sendiri, tapi juga mengajak keluargamu, istri dan anak-anak supaya tidak ikut terjerumus ke kondisi masyarakat yang materialis tadi.

Tapi, sejauh mana idealisme kau dan keluargamu tadi bisa bertahan menghadapi aturan-aturan bernegara, aturan masyarakat jika dibenturkan dengan idealismu tadi?

Dari tadi tanya terus ya….

Jawabannya bisa ada di film Captain Fantastic ini.

Pilihan pertama, kau menyerah dan ikut alur. Bagai buih di lautan, hanya bisa ikut ke mana arus membawanya tanpa bisa membuat arus sendiri.

Atau punya pilihan kedua?

***

Empati Untuk Para Pelupa: Review Memento (2000), Finding Dory (2016)


(Awas, mengandung spoiler)

Memento. Hanya film sederhana, tapi dibuat rumit. Alur ceritanya bisa saja dibuat searah, tapi demi membuat teka-teki, supaya penonton bertanya- tanya, maka dibuatlah alur sepotong-potong. Bila suka dengan teka-teki membosankan, tonton saja filmnya. Memento.
Tokoh utamanya seorang pegawai asuransi yang kebetulan rumahnya disatroni seseorang, istrinya terbunuh, kepala pegawai asuransi itu dipukul selanjutnya cacat kemudian mengalami seperti yang dialami Dory di Finding Dory (2016), mengalami masalah di ingatan jangka pendek alias pelupa parah. Saat-saat berikutnya pegawai asuransi itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Padahal pegawai asuransi tersebut cukup cerdas dengan membuat sistem pengingat yang bisa dibilang aneh, dengan mentato tubuhnya, dengan foto instant polaroid, mengingat jaman itu belum ada smartphone yang ada fitur kamera, reminder, note dan lain-lain.
Orang-orang yang memanfaatkannya yang pertama, ia dimanfaatkan oleh detektif polisi yang mengincar gembong narkoba, hingga gembong narkoba dibunuh oleh pegawai asuransi.
Kedua, dimanfaatkan oleh istrinya gembong narkoba untuk membunuh  detektif polisi yang menyebabkan suaminya terbunuh.
Kira-kira seperti itu jalan ceritanya. Coba tanyakan ke orang lain yang sudah menonton Memento. pasti beda lagi ceritanya :). Kita, penonton, hanya bisa menebak apa maksud dari penulis cerita. Christoper Nolan (sutradaranya) cukup bagus memotong-motong film ini. Sepertinya kita cukup tau apa maksud di belakang ini semua. Dalam hati Nolan pasti berkata, ” Nih, filmku, rasakan, Memento, mumet tho?”
Klau mau jelas ya, silakan siapkan aplikasi movie maker atau sejenisnya untuk memotong-motong film ini. Bagian paling belakang dipotong, letakkan di depan. Belakangnya lagi dipotong lagi letakkan di belakang yang tadi dan seterusnya.  Jadinya malah ini film seperti film belum jadi atau setengah jadi dan kita, penonton diminta menyusun kembali potongan.
Atau mungkin film ini untuk mengetes apakah penontonnya juga termasuk menderita gangguan ingatan jangka pendek?
au ah.
Yang terpenting, film ini membuka empati kita terhadap para pelupa. diibaratkan smartphone, penderita gangguan ingatan jangka pendek ini adalah smartphone yang memiliki memory internal yang sedikit alias kecil. Dikatakan smart ya smart. Tidak bisa kita bilang smartphone yang bermemory sedikit sebagai stupidphone. Ya tetap smartphone, hanya saja aplikasi dan hal-hal yang mau disimpan atau ditanamkan di memory dipilih-pilih yang penting saja. 
Karakter Dory juga sebenarnya cerdas dan fokus kepada satu hal, hanya saja butuh suatu sistem pengingat, sebuah catatan, sebuah tanda, untuk menjalani hidup ini hingga akhir hayat.
*** 

Cerita Cerita Cerita : Review The Words (2012)


Apa yang terjadi jika kau menjadi seorang penulis, yang menjadikan istri dan anakmu serta keadaan yang menimpamu menjadi inspirasi bagi tulisanmu, kemudian karena sebab tertentu, istrimu menghilangkan karya tulismu itu kemudian kau memarahi istrimu dengan sangat, kau ngambek sampai tidak pulang, terus ketika kau pulang, istrimu sudah meninggalkanmu?
Atau pertanyaannya diganti,
Mana yang kau pilih, kehilangan hasil karyamu atau kehilangan sumber inspirasimu?
Tentu pastinya kita memilih kehilangan karya, karena karya bisa dibuat lagi. Namun bila sedang marah, maka kita bisa kehilangan keduanya. seperti di film The Words ini.
untuk menonton film ini diperlukan konsentrasi dulu, karena memuat cerita yang menceritakan cerita yang menceritakan cerita lagi dan cerita di balik cerita.
Pusing?
(Awas, spoiler jangan dibaca)

Lebih jelasnya, mengisahkan penulis yang membacakan novelnya yang juga tentang penulis, penulis yang diceritakan itu menemukan sebuah teks ketikan sebuah novel di sebuah tas tua. Karena ceritanya menarik, sedih, mengharukan sampai masuk ke dadanya, maka ia menyalin teks ketikan itu dengan laptopnya supaya jiwa tulisan itu semakin merasukinya. keesokan harinya istrinya membuka-buka laptopnya dan menemukan ketikan tersebut dan membacanya. Ia pun ikut terbawa isi dari novel itu dan menemui suaminya dan menyarankan supaya cerita itu dikirimkan ke penerbit. Si penulis tau, itu bukan hasil karyanya. ia melihat kondisi hidupnya. Novelnya sendiri, ada dua cerita yang selalu ditolak penerbit. Maka ia mengambil keputusan untuk mengirimkannya ke penerbit. Singkat cerita, novel bajakannya laku keras, dijual ke mana-mana. Ternyata penulis aslinya masih hidup dan membaca novelnya. 
Ini dia. Ia kemudian menemui penulis plagiat novelnya dan menceritakan kisah di balik novelnya itu.
Kira-kira seperti itu isi film ini 🙂
***