
Saat Dendam Terbalaskan
Bagi orang-orang pendiam, menyembunyikan masalah memang sudah biasa, karena berjalan seiringnya waktu, masalah tersebut akan sirna dengan sendirinya. Tapi ada tidak enaknya ketika berhadapan dengan orang pendiam, kita tidak tahu bagaimana cara menghadapinya, karena ia menyembunyikan permasalahannya. Bisa jadi ketika ditanya, dia menjawab tidak ada masalah, tetapi jauh di lubuk hati, masalahnya amat berakar-urat. Berbeda saat berhadapan dengan orang yang ekspresif, bisa melampiaskan sesuatu pada saat itu juga. Ketika ada konflik, ketegangan yang terjadi hanyalah di awalnya saja, setelah ia melampiaskan uneg-unegnya, keadaan akan normal kembali, seperti biasa, tertawa-tawa-bercanda seperti biasa lagi. Itulah enaknya saat membersamai orang-orang yang ekspresif.
Menepati Deadline
Lagi-lagi Belajar Menulis lagi
Memejamkan mata,
menarik nafas,
Bola mata yang tadinya panas, lambat laun menjadi dingin, basah, dibasahi beberapa mili air mata. Dunia menjadi tak terlihat. Gelap, tapi bukan pekat. Berkas-berkas sinar masih menembus kelopak mata. Baru ketika telapak tangan ditekan di atasnya barulah hitam, gelap, tentram.
Berusaha melupakan sejenak perdebatan sengit dengan beberapa atasan di kantor yang seringnya, bahkan, takkan pernah mau kalah. Berusaha mengenang peristiwa saling curhat dengan teman karyawan satu nasib satu perjuangan. Inilah hidup.
Sudah jam 18:20, sudah adzan… saatnya buka puasa.
Buka pakai chicken nugget pemberian teman.
Heran,kenapa yang jadi nugget harus daging ayam?
Pernahkah kau dengar kambing nugget, atau bebek nugget?
***


