Cerita Cerita Cerita : Review The Words (2012)


Apa yang terjadi jika kau menjadi seorang penulis, yang menjadikan istri dan anakmu serta keadaan yang menimpamu menjadi inspirasi bagi tulisanmu, kemudian karena sebab tertentu, istrimu menghilangkan karya tulismu itu kemudian kau memarahi istrimu dengan sangat, kau ngambek sampai tidak pulang, terus ketika kau pulang, istrimu sudah meninggalkanmu?
Atau pertanyaannya diganti,
Mana yang kau pilih, kehilangan hasil karyamu atau kehilangan sumber inspirasimu?
Tentu pastinya kita memilih kehilangan karya, karena karya bisa dibuat lagi. Namun bila sedang marah, maka kita bisa kehilangan keduanya. seperti di film The Words ini.
untuk menonton film ini diperlukan konsentrasi dulu, karena memuat cerita yang menceritakan cerita yang menceritakan cerita lagi dan cerita di balik cerita.
Pusing?
(Awas, spoiler jangan dibaca)

Lebih jelasnya, mengisahkan penulis yang membacakan novelnya yang juga tentang penulis, penulis yang diceritakan itu menemukan sebuah teks ketikan sebuah novel di sebuah tas tua. Karena ceritanya menarik, sedih, mengharukan sampai masuk ke dadanya, maka ia menyalin teks ketikan itu dengan laptopnya supaya jiwa tulisan itu semakin merasukinya. keesokan harinya istrinya membuka-buka laptopnya dan menemukan ketikan tersebut dan membacanya. Ia pun ikut terbawa isi dari novel itu dan menemui suaminya dan menyarankan supaya cerita itu dikirimkan ke penerbit. Si penulis tau, itu bukan hasil karyanya. ia melihat kondisi hidupnya. Novelnya sendiri, ada dua cerita yang selalu ditolak penerbit. Maka ia mengambil keputusan untuk mengirimkannya ke penerbit. Singkat cerita, novel bajakannya laku keras, dijual ke mana-mana. Ternyata penulis aslinya masih hidup dan membaca novelnya. 
Ini dia. Ia kemudian menemui penulis plagiat novelnya dan menceritakan kisah di balik novelnya itu.
Kira-kira seperti itu isi film ini 🙂
***

Review Suicide Squad 2016: Terlalu Banyak Bumbu

Seperti makanan, bahan utamanya adalah pasukan Suicide Squad (SS) itu sendiri, dan bumbunya adalah Joker dan Batman. Banyak yang kecewa dengan SS karena tidak sesuai ekspektasinya. Makanan utama kalah tenar dibanding bumbu-bumbunya.
Tapi bagi saya, cukup puas, karena sebelum menonton film ini, cangkir otak ini sudah dikosongkan sampai tetes terakhir. 
Sebelum nonton, kesampingkan dulu siapa itu Joker, siapa itu Batman. Meski porsi bumbu juga agak banyak, misalnya kisah antara Harley Queen dan Joker yang durasi, detail kisahnya keduanya yang cukup bertaburan.
Sedang di mata orang awam, di dalam SS sendiri tokoh-tokohnya tidak ada yang ditonjolkan. Tapi untung, karena saya dibekali cangkir otak yang kosong tadi sehingga penglihatan jadi lebih jernih. Ada satu tokoh yang menonjol, yakni Deadshoot. 
Tentang bagaimana Deadshoot menjadi komandannya SS, bagaimana dendam Deadshoot kepada Batman, dan bagian terakhir, bagaimana Deadshoot mengajari anaknya rumus matematika tentang sudut sin, cos, tangen, mengingat Deadahoot ini sangat ahli menentukan jarak dan sudut tembakan peluru.
Maka dari itu kalau menonton film ini, jangan terlalu berharap kepada Batman atau Joker. Dua tokoh itu hanya cameo, hanya pelengkap, hanya bumbu. Hanya bumbunya saja yang kebanyakan.
Kosongkan dulu cangkir otakmu.
***

Menyikapi Logika di Film/Cerita


Ada film yang bagus, tapi kita kritik habis-habisan karena aktingnya lah, karena plotnya lah, karena twist endingnya lah, karena tidak sesuai dengan harapanlah karena ada beberapa bagian yang tidak masuk logika lah dan sebagainya.
Dan ada juga film yang bagus, kita tonton berulang kali karena saking bagusnya, ada beberapa karakter yang aktingnya jelek, ada bagian yang tidak masuk logika, tapi kita hiraukan, biasa saja, membiarkan saja dan menikmati film itu.
Sebenarnya apa yang menyebabkan bisa perlakuannya berbeda?
Contoh, di Star Trek Beyond dan Interstellar misalnya. di Interstellar, untuk turun di suatu planet, harus cek dulu berapa kadar oksigennya, tapi di Star Trek bebas saja. Di Interstellar, ledakan-ledakan di luar angkasa tidak terdengar suaranya dan api ledakannya juga hanya sebentar kemudian mati. Berbeda dengan Startrek yang penuh desing peluru penuh ledakan di luar angkasa. Padahal menurut ilmu fisika, bunyi bisa merambat kalau ada udara. Api juga bisa menyala kalau ada oksigen. Jadi seharusnya tidak ada suara ledakan di luar angkasa. Seharusnya tidak ada api ledakan yang menjalar ke mana-mana karena sudah padam dulu, tidak ada oksigen.

Jadi jawabannya sudah cukup jelas. Jika sebuah film sudah jelas tidak masuk akal, maka jangan biarkan otak ikut nimbrung. Biarkan mata saja yang bekerja.

Misalnya, untuk Startrek ini, kita tak perlu berpikir dengan rumit. Cukup ikuti ke mana film berjalan. Dengan disuguhi CGI yang memanjakan mata, makhluk-makhluk aneh planet lain. Cukup dinikmati saja.

***