Belajar Memanajemen Rasa Takut Lewat Avengers: Age Of Ultron

Kalau membicarakan mengenai resensi film Age Of Ultron ini rasanya sudah kadaluarsa. Filmnya sudah lama berlalu. Dan biasanya yang dibahas oleh reviewer adalah mengenai kekurangan film ini yang Tony Stark-nya terlalu serius, terlalu banyak dramanya atau jalan ceritanya yang jelek.

Atau tidak banyak juga para pengulas film yang mengungkapkan kelebihannya berupa visual efek yang keren, hampir-hampir mirip Transformers, apalagi sewaktu Iron Man dengan baju Hulk-Buster melawan Hulk yang sedang mengamuk di Afrika. Mereka bilang keren.

Namun yang menjadi fokus di postingan ini adalah satu sisi mengenai ketakutan atau kekhawatiran yang menghinggapi personel Avengers. Kita semua manusia diinstal oleh Sang Pencipta dengan adanya perasaan akan rasa takut, cemas atau khawatir. Rasa inilah yang mengantarkan kita untuk melakukan aksi perubahan.

Sedikit cerita untuk film ini. Diawali oleh seorang tokoh di pihak musuh Avengers bernama Wanda Maximof. Perempuan ini memiliki kekuatan super untuk menghipnotis. Semua anggota Avengers dihipnotisnya, mulai dari Tony Stark dengan bayang-banyang jika nanti kelak kemudian hari semua Avengers akan mati. Kemudian Thor yang takut dengan masa lalunya saat masih tinggal di Asgard. Lalu berikutnya Natasha yang teringat ketakutannya saat masih kecil, sewaktu akan direkrut menjadi agen harus melalui siksaan-siksaan bahkan sampai rahimnya harus disterilkan. Juga anggota Avengers yang lain dihipnotis oleh Wanda Maximof dengan ketakutan yang berbeda-beda. Semua anggotanya terganggu dan tidak bisa berkoordinasi dengan baik.

Khusus untuk Tony Stark, karena ketakutannya akan kematian semua Avengers terbayang tampak nyata, ia berambisi meneruskan proyeknya untuk menciptakan sebuah robot dengan AI (Artificial Intelegent)-kecerdasan buatan, mirip-mirip Jarvis, robot pemandunya.

Yang Tony butuhkan adalah batu sumber energi dari tongkat Loki. Batu yang fungsinya seperti batu baterei itu memiliki energi yang besar hingga menguasai Jarvis dan benar-benar robot itu hidup. Robot itu kemudian dinamakan : Ultron. Sayang sekali proyek itu hanya dikerjakan berdua saja yakni antara Tony dan Dr. Bruce Banner (Hulk), jadi tidak diketahui oleh anggota Avengers yang lain.

Oleh Tony, robot tersebut akan mengayahi (mengayahi itu dari bahasa Jawa, bahasa Indonesianya mengayahi adalah mengambil alih semua peran), robot yang nantinya akan mengambil alih tugas-tugas Avengers. Sehingga Avengers bisa pensiun dengan tenang. Ultron seharusnya secara otomatis akan mengetahui mana saja yang terjadi kejahatan serius dan akan mengatasinya. Itulah yang seharusnya terjadi, seperti itu skenario yang ada dalam kepala Tony Stark.

Tetapi yang terjadi adalah, Ultron berpikir: justru manusia sendirilah yang berbuat kerusakan di muka bumi. Maka jalan satu-satunya adalah dengan melenyapkan seluruh manusia dari permukaan bumi.

Begitulah, film ini berangkat dari perasaan takut kemudian bekerja untuk mengatasi rasa takut, namun dengan hasil yang di luar perkiraan.

Jika dihubungkan dengan dunia nyata kita, hampir-hampir semua aktivitas yang kita lakukan adalah berlandaskan oleh rasa takut. Kita bekerja untuk mendapat uang karena takut jika nanti suatu saat kekurangan uang. Kita bawa mantol/jas hujan saat bepergian karena takut jika nanti kehujanan. Kita beribadah sekuat tenaga karena takut masuk neraka. Kita belajar dengan tekun karena takut nanti dikatakan anak bodoh. Kita pakai parfum karena khawatir kalau nanti siang bau badan kita menyebar. Kita membuat rencana-rencana karena takut nanti presentasi atau pekerjaan kita amburadul. Takut-takut-takut. Khawatir-khawatir-khawatir. Cemas, cemas dan cemas.

Bahkan rasa takut ini juga dijadikan modus bagi sementara sebagian orang untuk menjalankan bisnisnya. Bisnis ini terutama pada masalah kesehatan.

Sebut saja MLM (Multi Level Marketing) yang dulu gencar-gencarnya. Saya mohon maaf jika ada yang tersinggung. MLM kesehatan umumnya ketika presentasi ada dua sesi. Sesi pertama adalah menakut-nakuti peserta presentasi (calon downline) dengan berbagai masalah kesehatan yang menjangkiti dunia era mutakhir ini. Kemudia sesi kedua adalah cara menanggulangi supaya masalah kesehatan itu teratasi, caranya dengan ikut MLM itu.

Contoh bisnis lainnya adalah bisnis asuransi, baik itu asuransi jiwa, kesehatan maupun asuransi harta/uang. Awalnya calon konsumen ditakuti-takuti dulu jika tidak ada pihak yang akan mengatur Anggaran Pemasukan dan Belanja Keluarga (APBK) maka sudah pasti hidup kacau. Memang benar juga. Kemudian dari pihak asuransi akan mulai memberikan tips supaya kekhawatiran itu hilang adalah dengan ikut asuransi tersebut, karena pihak asuransi akan mengaturkan anggaran keuangan/kesehatan kita jika kita menyetorkan perbulan dengan perjanjian tertentu. Maka dari itu diawali dulu dengan ketakutan dan kekhawatiran serta kecemasan-kecemasan.

Demikian pula dengan iklan-iklan yang ada di tivi. Ambil contoh iklan pasta gigi sensitif. Menurut pengamatan, semua gigi adalah sensitif. Pemirsa diberi ketakutan-ketakutan bahwa jika gigi cepat linu jika memakan es batu maka itu termasuk gigi sensitif, pasta gigi harus khusus pasta gigi sensitif.

Banyak diantara kita yang tergiur. Awalnya termakan oleh ketakutan hingga ketakutan merasuki. Selanjutnya, akhirnya, berupaya sedapat mungkin mengusir ketakutan itu dengan memakan mentah-mentah solusi yang ditawarkan pihak lain tanpa pertimbangan orang-orang terdekat kita. Sama seperti kasus yang dialami Tony Stark.

Ketakutan, kecemasan, kekhawatiran perlu dimanajemen secara baik lewat pertimbangan banyak hal. Yang paling penting adalah mengomunikasikan dengan tim yang kita miliki. Tim? Ya karena kita tidak hidup sendiri di dunia ini. Ada istri, anak, ayah, ibu, teman-teman, organisasi adalah tim yang kita miliki. Jika dikelola secara baik, ketakutan-ketakutan yang ada akan mengubah kita menjadi pemberani.

Salam super.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s