Ulasan Film: Cokroaminoto Guru Bangsa

Adalah sebuah langkah berani yang diambil oleh Garin Nugroho dalam memilih judul filmnya. Seperti yang kita tahu, yang biasanya ditonjolkan tiap mendekati 2 Mei adalah tokoh pendidikan alias guru. Siapa lagi kalau bukan Ki Hajar Dewantoro. Salah seorang tokoh pendidikan yang tergabung dalam tiga serangkai bersama dengan Cipto Mangun Kusumo dan Douwes Dekker. Nantinya 3 orang inilah yang akan memunculkan politik balas budi dari Belanda.

Cokroaminoto, seperti yang ada di buku-buku sejarah, adalah pemegang organisasi besar di Jawa yang bernama Serikat Islam. Haji Omar Said Cokroaminoto, dalam bayangan saya, sesuai dengan yang ada di fotonya adalah sosok yang selalu tersenyum, woles, kebapakan, dihiasi dengan kumisnya yang melintang dan ditambah peci. Tapi bagaimana penggambaran sosok Cokro di film ini?

Film ini berjalan sejalan dengan buku-buku sejarah yang telah kita kunyah mulai dari SMP.

Secara cita rasa, film ini tak ubahnya seperti snack besar dengan bumbu-bumbu yang menarik. Makanan utamanya? Makanan utamanya ya buku-buku sejarah Nogroho Notosusanto dan sebagainya.

Bumbu-bumbu di film ini berupa keluhan para produsen batik pribumi, termasuk istrinya Cokroaminoto yang rugi karena motif-motif batik khusus untuk golongan tinggi priyayi ternyata boleh dibeli dan dipakai oleh rakyat jelata sehingga para priyayi tidak minat lagi membeli batik.
Cokro digambarkan dari awal hingga akhir adalah sosok yang kritis, tegas ahli mengobarkan semangat dalam berpidato. Nah bumbunya yang lain adalah dibalik sosoknya yang tegas tersebut, ia ternyata juga hobi menonton teater dan menyanyi.

Sedangkan alur cerita kurang lebih sama dengan di buku sejarah. Seting di tahun 1911 sampai 1930-an. Awalnya adalah Serikat Islam bernama Serikat Dagang Islam. Karena bentrok dengan para pedagang Cina yang berujung kerusuhan, maka SDI dibekukan oleh pemerintah Hindia-Belanda. Samanhudi selaku pendiri SDI kemudian melihat track record Cokroaminoto yang sukses memegang SDI cabang, mengajak Cokro untuk kembali membangkitkan SDI dengan nama baru, Serikat Islam di pusatnya di Surabaya. Selanjutnya SI diawasi penuh oleh pemerintah Hindia-Belanda karena dengan membolehkan yang namanya organisasi pribumi, ibarat memelihara bom waktu. Hal-hal yang menyebabkan bom ini bisa meledak cukup banyak, yang terutama adalah rakyat tertindas pastinya suatu saat bisa meledak. Disamping itu dengan merdekanya tanah baru ini ibarat kue besar yang akan dikuasai banyak pihak, ada satu pihak yakni tokoh-tokoh Belanda yang berkhianat dengan pemerintahannya sendiri yang melandaskan pemikirannya pada pemikiran sosialis-marxis-komunis. Yakni Sneevliet yang berlandaskan pada Revolusi Bolsevik. Yang sedikit membedakan antara film ini dengan buku sejarah adalah tentang organisasi bentukan Sneevliet yang bernama ISDV. Di buku sejarah disebutkan jika tokoh-tokoh muda ISDV sengaja disusupkan ke SI untuk memecah SI. Sedangkan di film ini, tokoh-tokoh muda cikal-bakal PKI seperti Semaun, Darsono, Muso, Alimin adalah murni anak didik Cokroaminoto.

Judul filmnya adalah Cokroaminoto: Guru Bangsa. Jika dilihat dari tujuannya, Cokro minimal sudah mengantarkan anak-anak bangsa untuk memerdekakan diri. Di rumahnya sendiri digunakan sebagai kos anak-anak muda dengan jiwa muda. Ada Semaun, Muso, Darsono. Juga ada Kusno/Sukarno yang nantinya menikah dengan Untari, anak sulung dari Cokroaminoto.

Seperti lepas dari gigitan buaya kemudian masuk ke terkaman singa, pencerahan yang dilakukan Cokro kepada para anggota SI ibarat pisau bermata dua, memiliki efek samping berupa masuknya paham/pemikiran revolusi komunis yang maunya serba instan.

Menurut film ini, pernyataan sama rata sama rasa bersumber dari Cokroaminoto. Kita tahu bersama kalau itu adalah semboyannya PKI. Pernyataan yang sangat bisa ditafsirkan berbeda. Hingga nantinya SI terpecah antara golongan yang ‘sabar dan teliti’ dalam ‘berhijrah’ menuju kemerdekaan dengan golongan yang hobinya ‘revolusi dan terburu-buru’.

Masalahnya hanya saja saat itu negara ini baru memiliki pengalaman ingin merdeka sehingga tak sempat menanggung pemikiran-pemikiran luar yang masuk sebagai penyebab pecahnya persahabatan. Namun setidaknya sudah cukup tepat bila Cokroaminoto digelari guru bangsa, mengajarkan strategi-strategi bidang politik dan ekonomi, mengajari anak-anak muda bangsa ini melepaskan diri dari pemimpin wakil-wakil boneka di Volksraad, melepaskan diri dari penjajahan.

***

Sebagai penyeimbang, baca juga ulasan dari Prof. Mansur Suryanegara berikut ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s