Whiplash: Antara Dendam dan Pembuktian Diri

Apa jadinya jika ada dua orang yang sama-sama ambisius dan egois bertemu dan konsen pada hal yang sama ?

Itulah yang terjadi di film Whiplash. Tokoh satu adalah senior, seorang konduktor yang tidak bisa mentolerir sedikitpun kesalahan dalam grup bandnya. Sedangkan tokoh yang satunya adalah seorang murid yang ingin menunjukkan bakatnya, ingin menembus batas kemampuannya.

Whiplash sendiri adalah sebuah judul lagu yang biasa dimainkan di grup musik jazz sekolahan tempat kedua orang itu berada. selain Whiplash, yang sering dibuat latihan adalah Caravan.

Awalnya hubungan keduanya tampak baik ketika setelah sang murid memainkan drumnya dengan bagus dan memenangkan sebuah festival jazz. Hingga kemudian ada sebuah insiden ketika tampil yang menyebabkan keduanya konflik dan keduanya dikeluarkan dari sekolah.

Memang semenjak sang murid direkrut masuk ke personilnya sang guru, temperamennya berubah, menjadi emosional sama seperti gurunya. Itulah alasan ayah si murid untuk setuju dengan dikeluarkan anaknya dari sekolah tersebut. Dan si anak juga setuju untuk beristirahat beberapa waktu dari aktivitas menggebuk drum.

Beberapa waktu berjalan. Si murid melihat nama mantan gurunya menjadi bintang tamu di suatu cafe kecil di sebuah pinggir jalan kota. Jika ada orang yang saling berseteru dan membenci, orang itulah yang selalu dipikiran. Mungkin seperti itu yang terjadi. Antara cinta sekaligus benci ditambah rindu. Si murid kemudian masuk ke klub itu untuk melihat performa ‘tokoh pujaan’nya.

Merekapun bertemu. Apa yang terjadi? Kejadian berikutnya adalah sebuah ajang balas dendam. Meski diawali basa-basi kalau konduktor itu butuh pemain drum di grup barunya yang beberapa hari lagi akan tampil di JVC. Dengan kata lain, mantan muridnya ditawari untuk masuk ke grupnya. Ditambah lagi lagu-lagu yang nanti dimainkan di JVC adalah lagu-lagu yang biasa dimainkan sewaktu di sekolah. Sang murid mulai terbetik untuk menyentuh stik drum lagi, rindu untuk membuka luka lama yang benar-benar luka di tangan saat menabuh drum dengan kecepatan 2 kali tempo yang sebenarnya.

Tadi disebut ajang balas dendam karena ternyata sang konduktor memang sejak awal tidak menyiapkan pemain drum di grupnya, karena seharusnya dia biasanya menyiapkan pemain drum selalu dua orang, satu utama dan yang lain cadangan.

Acara itupun tiba. Mantan muridnya datang dan langsung menempati kursi pemain drum. Lagu yang dimainkan ternyata berbeda! Lagunya lagu baru yang belum pernah dimainkan sewaktu di sekolah. Di hadapannya tidak ada partitur lagu baru tersebut. Apa yang terjadi? Ajang balas dendam sang konduktor apakah sukses atau tidak?

Penilaian akhir: film ini cukup menarik. Alur berjalan lancar. Bumbu dan komposisinya lumayan pas. Jika dinilai antara 1-10, film ini mendapat 9. Ada 2 adegan yang penggambarannya berlebihan. Pertama, darah yang muncrat dari jemari si murid dan mengotori ruang studio. Kedua, sang guru terlalu sering melempar alat-alat musik ke tembok. Lebay saja.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s