Menyunting Embun

Kemarau-hujan saat ini semakin membakarkan kulit tanah, panas dan sebah. Sang tanah berharap datang pagi. Menunggunya.
Karena pagi membawa tetesan-tetesan embun. Uap-uap pagi yang terjun bebas dari langit, bersatu membuat bulatan, langsung tertuju tertarik gravitasi, tanpa perlu menabraki partikel-partikel polusi karena memang pagi belum tercemari.

Sang tanah pun termabukkan kering, sakau. Berharap kalau tetesan itu tak segera menemui kulitnya,tapi mampir dulu di kelopak dedaunan hijau. Agar tetesan itu ikut berwarna hijau. Coklat dan hijau. Berpadu. Membasahi kerongkongan kulitnya yang galau, terpanggang siang tadi, yang lampau.

Benih-benih tanaman sudah beberapa yang tertanam di dalam tubuh sang tanah, namun tak jua tumbuh lepas. Sekarang dia teronggok bodoh sambil bertanya tak puas, kemanakah gerangan benih itu berada, apakah larut ke lautan saat banjir musim penghujan lekas tak berbekas, atau masihkah ada di dalam perutnya tapi mengering mengelupas?

Seperti pagi-pagi berlalu sekejap, menunggu pagi, menunggu embun terjatuh di pangkuan terjerembab, tuk segera ditangkap dan dipinang dengan penuh harap, menemani tangisan onggokan tanah yang kering tak sembab-sembab.

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s