Bandengan – Teluk Awur

Yang muncul dalam bayangan kalau bicara mengenai pantai-pantai di utara Jawa, khususnya Jepara, yang langsung terbayang dalam pikiran adalah pantai yang ombaknya kecil-kecil, bahkan tak ada ombak, dengan pasir pantai yang hitam berlumpur dan tempat yang kotor. Sebenarnya dapat dilogika, mengapa ombak Pantai Utara kecil-kecil di banding Pantai Selatan? Hayo kenapa? Karena di Pantai Selatan ada Nyai Roro Kidul yang temperamental? Lho katanya logika? Bukan, ombaknya besar karena di Pantai Selatan tak ada pulau-pulau yang merintangi laju angin yang menggerakkan ombak. Beda dengan Laut Utara Jawa yang tertutupi pulau Kalimantan dan Sumatera. Saat para keponakan bermaksud piknik main-main air di pantai utara Jawa, malas, itulah rasa yang pertama muncul, karena kondisi pantai tadi dan juga paling-paling agak sama dengan waduk Gajah Mungkur yang juga ombaknya kecil, yang membedakan hanya rasa airnya. Tapi tak mengapalah.

Ternyata sesampainya di salah satu pantai yakni di Pantai Bandengan, bayangan itu langsung sirna. Pasir pantainya putih, lumayan bersih dan terawat. Setelah masuk dari pintu loket, kemudian menyusuri lokasi, pemandangan kanan jalan tampak amat sangat ramai. Terus jalan terus ke arah barat akhirnya menemukan lokasi yang lumayan sepi. Tapi, tapi… agak aneh pantai ini. Aneh dan ganjil alias tidak alami, seperti habis dioperasi plastik. Setelah tanya-tanya sama penjual makanan terjawablah kalau pantai paling barat ini adalah pantai ‘palsu’. Palsu maksudnya pantai ini adalah perpanjangan dari pantai dekat pintu depan loket tadi. Dilihat dari struktur pasir dan komposisi pantainya, tampak kalau ‘daratan’nya adalah hasil dari urukan, tapi tidak mengapa, yang penting masih bisa bermain air, bermain pasir dan suasana yang agak sepi, supaya bisa menikmati alam ini dengan khusyuk dan syahdu.

Foto0906

Foto0926

Foto0930

Besoknya pantai yang dikunjungi adalah Teluk Awur. Disarankan kalau ke tempat ini pagi-pagi, karena kalau sudah siang sudah ramai akan manusia dan tak ada tempat parkir kendaraan. Tak perlu takut karena kedinginan karena meski pagi, tapi airnya hangat.

Dup(1)Foto0943

Foto0949

Foto0950

Foto0951

Jepara memang tak terlupakan, masjid-masjidnya dibangun dengan megah dan yang paling penting adalah ukir-ukirannya. Kebetulan tukang sewa ban di Teluk Awur adalah seorang ustadz yang juga seniman ukir. Dia terpaksa menyingkir dari hingar-bingar ukir-ukiran yang berkembang menjadi industri, karena merasa tak mampu mengikuti perkembangannya. Dia justru mencari nafkah dengan menyewakan ban dan jasa toilet+kamar mandi dan tetap menjalankan keahlian mengukirnya kalau sedang menunggu penyewa ban, atau kalau ada permintaan memperbaiki ukiran dari seseorang.

Sebelumnya kalian lebih suka dengan cerita/novel yang tokohnya sedikit dengan jalan cerita yang sederhana, atau lebih suka cerita yang melibatkan banyak tokoh dengan alur cerita yang rumit?

Kalau berbicara mengenai daerah pesisir utara Jawa, yang muncul adalah cerita kerajaan Islam pasca runtuhnya Majapahit. Tokoh-tokohnya amat sangat banyak karena melibatkan perseteruan antar dinasti keluarga dengan dukungan dewan ulama-ulama yang lazim disebut wali. Sering dengar tokoh-tokoh seperti Jaka Tingkir, Raden Patah, Aryo Penangsang, Ratu Kalinyamat, Sutawijaya, Sunan Kudus, Muria, Kalijaga dan lain-lain? Itulah. Banyak intrik perebutan kekuasaan yang melibatkan pemuka agama.

Sewaktu kuliah dulu di Pendidikan sejarah UNS, materi kisah sejarah ini masuk ke materi Indonesia Madya yang diampu oleh dosen yang sudah profesor. Tapi meskipun beliau sudah magister, bagi saya pribadi, materinya amat sangat tidak memuaskan. Tidak puas karena sumber yang digunakan waktu kuliah adalah Babad Tanah Jawi yang kalau dibaca, banyak sekali kata-kata puitis, permisalan, yang lebih condong ke buku sastra daripada buku sejarah. Dan menurut orang-orang yang ahli sejarah, kenapa jaman itu hanya ada satu buku sejarah (Babad tanah Jawi), karena pembuatan buku tersebut adalah permintaan rezim kala itu. Tentu saja alur ceritanya mengikuti pesanan sang pemilik kekuasaan. Sekarang baru muncul buku tandingannya Babad Tanah Jawi walau ‘hanya’ berupa novel. Yakni novel karya Kang Nas yang sampai 3 sekuel menceritakan kehidupan Arya Penangsang yang sama sekali bertentangan dengan yang diceritakan di babad tanah Jawi dengan latar belakang kehidupan perang dan seluk-beluk ekonomi di pelabuhan pesisir Pantai Utara Jawa ini.

Lho…. kok jadi begini, maksudnya pengin posting liburan bersama keponakan-keponakan di Jepara, malah bicara cerita sejarah yang membosankan… Oke, kalau teman-teman, liburannya bagaimana?

***

Iklan

6 pemikiran pada “Bandengan – Teluk Awur

  1. wah .. kangen bandengan nih, ke benteng portugis juga nggak ya ? 😛

  2. Jepara, Jepara,…kapan ya kesana…sering berhubungan dengan orang Jepara tapi blom pernah kesana…
    Dan pantai….tidka begitu menikmati pantai…he he he

  3. pengen juga suatu saat bisa elsplor Jepara sekitarnya banyak obyek sejeah yg bisa ditengok ya Sakti

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s