Menjadi Kaya

Dear blog, lagi-lagi saya memposting diri saya lagi. Menurut psikolog, kalau orang sering membicarakan dirinya sendiri itu adalah tanda orang depresi, tapi tak mengapa karena memang saya sedang depresi. Ada satu lagi teknologi yang hingga kini belum saya kuasai, yakni teknologi bagaimana menjadi kaya, menjadi orang kaya yang berlimpah harta. Semua ini gara-gara banyak hal, antara lain:

1. Sejak kecil sudah ditanamkan harus sekolah yang tinggi minimal S1 supaya nanti kalau dewasa bisa menjadi karyawan dengan penghasilan. Kalau bisa menjadi PNS. Belum pernah sama sekali diajarkan bagaimana berwiraswasta. Sekarang saya akhirnya sudah bekerja dengan punya penghasilan cukup dan merasa tidak perlu lagi menjadi kaya.

2. Sering merenung kalau sebenarnya saya sudah kaya karena merasa cukup dengan yang ada, tidak perlu lagi mengejar yang lain. Sehingga-sehingga kini saya takut sendiri, bagaimana kalau saya sendiri merasa kaya, tetapi wanita calon istri melihat saya sebagai orang miskin yang tidak punya apa-apa?

3. Pernah mempelajari ekonomi sewaktu SMA terutama mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi nilai mata uang. Saya sebagai lulusan jurusan IPS sewaktu SMA dulu tentu mendapatkan porsi pelajaran ekonomi lebih banyak dibanding kawan-kawan IPA. Materi itulah yang membuat saya malas menjadi orang yang berlimpah harta. Dear blog, kuceritakan kalau kurang lebih materi yang saya terima adalah seperti ini:

Nilai uang sangat tidak tentu, tidak ada patokannya. Itulah kelemahan kalau sistem ekonomi menggunakan sistem uang kertas yang antara nilai intrinsik dan ekstrinsiknya sangat tidak seimbang.
Omong-omong kenapa nilai uang kertas bisa berubah-ubah? Siapakah yang menentukan ‘harga’ uang terutama uang kertas?

Menurut apa yang saya terima, hal-hal yang menentukan nilai harga mata uang adalah:

1. Bila dibanding antara negara satu dan negara lain, suatu negara memiliki mata uang kertas yang lebih berharga dibanding mata uang kertas negara lain karena negara tersebut lebih bermartabat, memiliki harga diri tinggi dibanding negara yang lain. Jadi misalkan mata uang negaramu jauh lebih rendah dibanding mata uang negara lain itu sebagai bukti kalau negaramu memiliki harga diri yang rendah pula. Lihat saja, satu Dolar ada berapa Rupiah?

2. Dalam suatu negara, yang menentukan nilai mata uang kertas adalah suatu hal yang disebut dengan kecepatan peredaran uang. Jika uang kertas dalam negara peredarannya cepat, maka ‘harga’nya juga semakin besar. Peredaran cepat maksudnya uang cepat berpindah dari satu tangan ke tangan lain, seolah tampak diperebutkan sehingga uang jadi ‘ber-harga’ tinggi.

3. Poin ketiga ini berkaitan dengan poin kedua. Dalam suatu negara, nilai uang kertas selain ditentukan oleh kecepatan peredarannya, juga ditentukan oleh kelangkaan wujud uang itu sendiri. Maksudnya bila ‘uang’ sering kita temui sehari-hari, maka sudah pasti harganya murah atau turun. Jadi supaya uang terlihat berharga, perlu bantuan bank-bank sebagai tempat penyimpanan uang. Alur logikanya kurang lebih seperti ini: uang disimpan di bank –> jumlah uang yang beredar di permukaan tanah sedikit –> uang menjadi langka –> ‘harga’ uang akan naik.

Bila masyarakat melakukan dua hal itu, memutar uang di pasar-pasar sehingga peredaran uang jadi cepat, atau masyarakat beramai-ramai memasukkan semua uang ke bank, maka otomatis jumlah uang yang beredar akan sedikit. Sehingga akan terjadi kelangkaan uang. Akhirnya uang akan menjadi sangat berharga. Atau apabila suatu negara lebih bermartabat, tidak menjadi boneka/pesuruh negara lain, maka sudah dipastikan kalau uang kertas yang dimiliki negara tersebut akan lebih tinggi. Lantas apakah dari ketiga poin itu sudah kita lakukan? Menjadikan negara ini lebih bermartabat dan lebih berkuasa dibanding negara lain? Apakah kita gemar jual-beli di pasar? Atau apakah kita sudah memasukkan semua uang kita ke bank?

Sangat normal kalau ada kekhawatiran kalau Rupiah kita tercinta akan runtuh nilainya bila kita masih tetap menggunakan uang kertas sebagai patokan moneter negara kita. Cara lebih aman adalah dengan menggunakan mata uang yang disandarkan pada suatu benda yang punya nilai tetap, lebih stabil. Yakni pakai emas. Weks, sampai di sini muncul lagi kecurigaan kepada pemerintah, bisakah pemerintah membuat uang logam yang bersandar pada emas? Bagaimana kalau terjadi seperti jaman dulu, sewaktu uang Rp 100 tahun sekian emas yang digunakan masih murni, begitu tahun berikutnya dan seterusnya campuran emasnya berkurang karena ditambah campuran logam lain. Dan lihatlah uang logam sekarang yang sudah tak ada artinya karena terbuat dari entah, aluminium atau apa, begitu jatuh ke aspal, tergilas ban langsung penyok, tergores…

kolektor_koin

Dear blog, itulah hal-hal yang membuat saya tidak begitu bergairah mengejar uang.

Tetapi belum lama ini ada beberapa hal yang membuat berbeda. Terutama setelah blogwalking dan menemukan artikel Kiyosaki. Memang saya yang bodoh terlalu pusing dengan istilah-istilah asing misalnya quadrant, cashflow, liability, employee atau selfemployee, namun setidaknya ada satu hal, cara otak melihat harta, terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian pertama adalah untuk orang biasa yang membelanjakan hartanya untuk pengeluaran-pengeluaran. Bagian yang lain, untuk para usahawan yang membelanjakan hartanya untuk membeli aset.

Aset, aset dan aset. Kemudian saya melihat ke keadaan sekitar, tak begitu banyak harta di sekeliling saya, bagaimana bisa membeli aset?

Oh, saat tangan menelungkup ke muka, terlihat di depan mata. Kedua tangan ini adalah aset, mata ini aset, telinga juga aset yang sudah diberikan Sang Pencipta. Saya saat ini berhadapan dengan Netbuk, bisa juga ini aset, memberdayakan netbuk sebagai tempat pelatihan merangkai kata-kata, bermain apa saja dan mungkin dapat menjadi penghasil uang.

Otak saya bisa jadi pemikirannya sangat sederhana, lantas bagaimana dengan kalian, apakah kalian sudah bisa menemukan teknik terbaik memperoleh kekayaan?

***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s