Mesin Sebagai Pelayan

Apakah selama ini mesin dan semua peralatan hidup yang kita punya sudah benar-benar kita manfaatkan sesuai dengan fungsinya?

Apakah justru kitalah yang disuruh-suruh dan dikuasai oleh peralatan itu?

Dear blog, saya ingin cerita kepadamu kalau pada hakekatnya, mesin dan semua peralatan adalah untuk memudahkan pekerjaan. Tugas dari mesin adalah menyederhanakan kerja manusia.

Contoh cerita di film adalah seperti di Spongebob. Ada tokoh cerdas bernama Plankton yang menciptakan sebuah robot mesin sebagai pembantu untuk meringankan pekerjaannya, W.I.F.E. (Wired Integrated Female Electroencephalograph). Namun dalam perkembangannya justru mesin robot itulah yang kemudian menguasainya.

Ada juga contoh seperti film Eagle Eye, menceritakan robot sistem keamanan yang salah tafsir terhadap kondisi yang terjadi. Pada akhirnya robot sistem itu bergerak otomatis dan merugikan semua orang.

Beberapa hari yang lalu sudah keluar rilis Ubuntu terbaru bernama Raring Ringtail, yaitu Ubuntu versi 13.04. pada awalnya saya berniat instal supaya saya nanti bisa nyambung ngobrol di forum Ubuntu Indonesia. Tapi tidak semua yang ada di forum sudah menginstall 13.04, ada teman yang tetap pakai versi sebelumnya (12.04). Kemudian saya dengan penuh kebanggaan menyampaikan testimoni kalau 13.04 ini cukup cepat walau dipakai di ram 1 giga. Tapi kelemahannya ada beberapa aplikasi yang belum tersedia, misalnya Synaptic, Gimp, VLC, Wine dan lain-lain. Dan saya terpaksa meluangkan banyak waktu demi download dan menyeting semuanya. Saya terpaksa download ulang semua aplikasinya karena hampir semua aplikasi di 12.10 (versi sebelumnya yang saya pakai) tidak sesuai depedensinya dengan 13.04. Ketika saya curhatkan semua itu di forum, ada teman yang masih pakai 12.04 berpendapat kalau memang dirasa versi ubuntu sebelumnya masih cukup untuk menjalankan semua pekerjaan sehari-hari, buat apa harus menginstal 13.04? Dia berpendapat lagi bahwa jangan sampai kita diperbudak oleh mesin.

Waktu itu saya tersadar, memang benar kalau mesin seolah-olah menyuruh kita untuk mengupgrade dirinya karena nanti upgrade-an itulah ujung-ujungnya demi kelancaran hidup manusia itu sendiri. Bila saya mengurusi mesin dengan berlebihan, pastinya akan ada banyak urusan penting lain yang terbengkalai. Saya makin tersadar lagi waktu saya sempat masuk ke blog yang ini.

Contoh nyata lainnya, saya pernah membaca postingan blog dari orang terkenal. Orang itu menceritakan kondisi teman-temannya yang hobi membeli berbagai macam peralatan hidup tapi tidak memberdayakan peralatan itu dengan semestinya. Misalnya ada temannya yang senang membeli sendok dan garpu perak. Sendok dan garpu itu tidak digunakan sebagai peralatan makan, tapi hanya dipajang saja di lemari kaca, sedangkan yang punya, malah makan dengan sendok hadiah langsung dari sabun colek. Ada lagi temannya yang membeli karpet yang amat sangat mahal. Karpet tersebut diletakkan di ruang penghubung menuju ruang tamu. Saking sayangnya dengan karpet itu, ia berusaha untuk tidak menginjaknya. Juga dengan teman-temannya yang bertamu ke rumah tidak boleh menginjak karpet, sehingga kalau mau masuk ke ruang tamu harus jalan melipir di tepinya.

Kalau memang beli karpet tapi tidak niat untuk diinjak bukankah lebih baik kalau karpetnya tidak diletakkan di lantai, tapi di dinding saja dengan dilengkapi pigura kaca?

Saya jadi teringat dengan suatu episode Oprah Winfrey. Suatu ketika di acara tersebut ada acara yang dipandu oleh ahli tata ruangan rumah tentang bagaimana membuat ruang-ruang di rumah menjadi efisien. Waktu itu ada seseorang yang mengeluh tentang rumahnya yang semakin sempit karena ia terlalu sering membeli baju. Karena lemarinya sudah tidak cukup menampung baju-baju itu, maka bajunya diletakkan di semua ruang yang ada. Setelah rumahnya dihampiri, rumahnya ternyata amat besar. Ketika ditanya kenapa sampai bisa membeli baju sebanyak itu, ia menjawab kalau membeli baju bukan karena fungsi baju itu sendiri sebagai bahan sandang, tetapi karena nafsu yang tak bisa dikendalikan saat melihat harga obral.

Contoh lagi, beberapa sebagian teman yang hobinya menyeting sepeda motornya sendiri, hingga harus membeli peralatan bengkel khusus dan beli suku cadang. Bila suatu suku cadang tidak cocok, maka beli lagi sampai ketemu yang cocok. Hingga gudangnya penuh dengan suku cadang motor. Ada velg, batok lampu, stang, shock-breaker depan-belakang, bodi, ban dan sebagainya. Ketika ia pindah rumah dan minta tolong teman-temannya termasuk saya, saya baru tahu kalau motornya (yang sudah hampir seperti ikan tinggal tulang) itu ternyata suku cadangnya hampir muat 3 bak mobil pick-up. Sepertinya ia sudah lupa kalau motor hakekatnya hanya sebuah alat untuk mobilitas, berpindah tempat, dari satu tempat ke tempat lain. Dan tiap hari kerjanya hanya mengutak-atik motor. Rumahnya sama sekali tak terawat, kebunnya hanya ditumbuhi ilalang liar dan kolamnya sudah menjadi rumah bersalin nyamuk-nyamuk.

Dan banyak juga saya temui teman yang membeli hape tapi tak tahu cara mengoperasikannya. Seorang teman sebelumnya rela antri 2 hari hanya untuk mendapatkan I-Phone 5, padahal ia tak tahu apa perbedaan I-Phone 4 dan yang 5.

Begitu banyak harta, kesempatan dan waktu yang terbuang karena menjadikan peralatan sebagai tuannya. Memang tidak ada salahnya bila menganggap itu semua adalah hobi, sedangkan hobi kata lainnya adalah kesenangan, dan kesenangan berkawan karib dengan nafsu, dan hampir semua nafsu membuat senang (apa ada nafsu yang membuat sedih?). Jangan dilupakan, bila sudah nafsu, lupa segala-galanya.

***

Iklan

4 pemikiran pada “Mesin Sebagai Pelayan

  1. manusiawi lah…
    karena intinya manusia itu lebih suka ngejar gengsi daripada fungsi
    lupa bahwa semakin giat kita mempermudah jalan hidup, kehidupan justru akan semakin rumit

  2. endingnya itu lho 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s