Yamaha Merah

Merah adalah warna darah. Merah juga salah-satu warna penyusun pelangi, yaitu warna yang paling atas. Motor yang menemaniku ini… juga berwarna merah.

DSC00022-fr

Sudah cukup lama sebenarnya motor ini membersamai, sejak tahun 2004. Belinya pun bekas, bukan baru dari dealer dan motor ini adalah motor keempatku. Sebenarnyapun bukan motor saya, karena di STNK-nya bukan namaku, tapi nama bapak.

Saya dipercayakan oleh bapak untuk merawat motor ini. Awalnya motor yang pernah dipercayakan kepada saya adalah motor Yamaha Autolop 75. Motor jadul ini sebagai latihanku belajar naik motor selanjutnya kemudian dijual ke orang yang sedang berburu barang antik. Motorku selanjutnya adalah motor merk lain berplat merah. Yup saya pakai motor dinas dari bapak, karena bapak waktu itu adalah seorang penyuluh pertanian yang motor dinasnya amat sangat jarang dipakai. Setelah bapak mengajukan pensiun dini, motor itu pun dikembalikan ke negara, selanjutnya saya pakai motor warisan dari kakak yang sudah bobrok. Mungkin karena bapak kasihan, dia kemudian membelikan motor Yamaha Vega merah bekas ini untuk saya.

Detailnya, ini adalah motor bermerk Yamaha tipenya Vega produksi tahun 2000 berwarna merah. Tak terasa sudah berapa tahunnya… dari 2004 sampai sekarang 2013 berarti sudah 9 tahun saya membersamai motor ini mengarungi jalanan. Ada pengalaman pahit dan banyak pula pengalaman manis. Pengalaman pahit adalah saat-saat ada kalanya kecelakaan tak bisa dihindari dan kecelakaan yang saya alami tipenya sama semua, saya jatuh karena menghindari penyeberang jalan yang menggunakan sepeda onthel. Kecelakaan pertama, saya mengebut 120 km/jam (termasuk ngebut khan?) dan saat itu ada penyeberang jalan seorang bapak tua petani dengan caping menyeberang jalan besar. Sekilas kukira ia berhenti di tengah/marka jalan, jadi saya berinisiatif langsung lewat di depannya. Tak dinyana ia ternyata maju, saya panik dan mengambil arah curam ke kiri, tapi terlambat, roda depan sepeda bapak itu sudah masuk ke pijakan rem motor. Untungnya bapak itu tidak apa-apa, tapi roda sepeda depannya peyok, sedangkan saya babak belur. Kemudian kecelakaan kedua sama kasusnya, ada bapak-bapak yang juga mau menyeberang pakai sepeda onthel. Saat itu saya juga ngebut. Tampak dari posisi tubuh si bapak yang condong ke depan, saya berasumsi kalau bapak itu yakin akan menyeberang. Juga saya belajar dari pengalaman kecelakaan pertama, jadi saya ambil ke kanan, ke tengah jalan, tapi tanpa diduga, bapak itu berhenti, diam, dan akhirnya saya menabrak roda belakangnya dengan sukses. Saya terpelanting, berguling-guling di krakal kanan jalan besar, sedang bapak itu lecet-lecet. Iya itu adalah beberapa pengalaman pahit, kalau yang manis? Hoho, sebaiknya disimpan dalam kulkas kenangan saja, khawatir kalau terlalu manis nanti blog ini dikerubungi semut.

DSC00023-sb

Hal-hal penting lainnya tentang motor adalah modifikasi. Saya hampir tidak melakukan modifikasi apapun, tapi sama halnya netbook, hp atau alat-alat yang lain, setingan pribadi harus ada dalam peralatan manusia, hal ini supaya saat alat itu digunakan bisa berfungsi maksimal dan berdaya guna serta menampakkan ciri khas pemiliknya. Pertama modifikasi yang saya lakukan adalah mengganti shockbreaker belakang supaya lebih empuk. Modifikasi kedua adalah mengganti gir belakang. Untuk masalah ini sebenarnya karena gir asli standarnya sudah aus, maklum sudah bertahun-tahun. Untuk menggantinya saya ke bengkel teman sendiri, niatnya ingin tetap diganti dengan gir yang sama, gir dengan mata 35. Tetapi saat itu yang ada adalah gir lain dengan mata gir yang lebih banyak dengan mata 40. Bagi saya yang pernah SMA dan mau tak mau pernah belajar ilmu fisika, saya mengatakan ke teman pemilik bengkel itu kalau gir dengan mata yang lebih banyak, maka kecepatan top speed akan berkurang. Teman itu mengiyakan, tapi dia menambahkan juga kalau ada kelebihannya, yaitu lebih galak saat start awal. Benar juga. Waktu motor ini dibawa ke kota dengan kemacetan luar biasa, sangat cocok, karakteristik macet adalah jalan perlahan sambil sesekali berhenti, amat sangat cocok dengan gir dengan mata banyak, tidak perlu ngebut-ngebut, dan angkatan awal yang cepat. Melihat umur juga yang kian menua, hasrat untuk mengebut sudah hampir punah. Dulu yang SMA-waktu kuliah top speed bisa mencapai 140 km/jam, sekarang paling-paling 100 km/jam. Bisa ditebak lagi kalau nanti sudah menikah, top speed juga pastinya akan menurun. Mencari aman karena mungkin ada istri dan anak yang menunggu di rumah. Ngebutnya nanti saja kalau main game NFS.

Satu lagi modifikasi penting, adalah ban belakang. Saya biasa pakai ban belakang semi trail, karena bisa lebih awet bisa sampai 3 tahun. Bagi yang belum terbiasa penggunaannya akan sedikit tidak nyaman menggunakan ban ‘kembang tahu’ ini, karena memang tujuan utama penggunaannya adalah di jalan off road.

DSC00026-db

Kembali lagi ke motor merah ini. Produksinya tahun 2000 jadi sudah bisa dibilang motor pertengahan jadul. Tulisannya masih “Vega” saja belum ada embel-embel “2R”, “R” atau “ZR”. Bagi teman yang tahu apa arti embel-embel itu beri tahu saya ya? Jadul karena motor produksi sekarang lebih canggih, pakai lampu depan yang lebih dari satu, lebih terang. Panel indikator dashboard juga lebih lengkap motor jaman sekarang. Yang tidak ada di motor Vega merah tahun 2000 ini adalah indikator gigi 1, 2,3 dan 4 hanya ada gigi netral dan top dan indikator sein juga hanya satu, tidak dua-kiri-kanan. Bagi orang lain bisa jadi ini adalah kekurangan, tapi bagi saya yang sudah klop dengan motor ini, tidak masalah. Motor dan jiwa sudah menyatu maka saat melaju di jalanan cukup dengan feeling saja. Sebenarnya sempat ingin menambahkan satu panel yakni RPM meter supaya tahu kapan saatnya harus pindah gigi, tapi tampilannya akan sangat ribet, mau diletakkan di mana? Kalau terlalu banyak panel indikator juga malah buat konsentrasi ke jalan akan terpecah lebih baik tetap seperti ini, lebih simpel dan lebih sederhana.

Oh ya, tentang teman saya yang punya bengkel, sebenarnya ia adalah temannya saudara. Saudara saya juga punya bengkel tapi bengkel khusus knalpot, sewaktu saya datang ke bengkelnya buat ngecek-ngecek apa saja, langsung ia hidupkan mesinnya dan seperti dokter, ia bertindak seperti mendengarkan detak jantung si motor, lantas ia berkata, “Knalpotmu masih bagus, tapi suaranya agak kasar, pasti karbunya kotor, ayo mending ke tempat si Budi saja.”

Si Budi kalau urusan karburator memang jagonya karena sebenarnya ia biasa mengulik motor khusus buat balap liar. Tiap hari dia eksperimen dengan karbu-karbu yang sudah digerus dalamnya. Sesampai di tempat Budi, Yamaha Vega itu langsung dibongkar karbunya dan dicek. Waktu itu masih pagi, bengkelnya belum buka, dan motor Yamaha Jupiter modifikasinya belum tampak di terasnya. Selagi Budi membongkar bodi Vega, saya ke kamar kecil sebelah garasinya. Agak heran juga karena di garasinya ada motor bebek matic warna merah, padahal biasanya ada motor Jupiter miliknya.

“Lho, Jupitermu mana?”

“Udah laku dibeli orang,”

“Terus itu matic siapa?”

“Maticku dong, Xeon terbaru, ” katanya sambil mengorek-orek karbu motorku pakai jarum.

“Tumben belum diapa-apain…” maksudnya belum dimodif, padahal seingatku sewaktu beli Jupiternya yang dulu, belum ada satu hari sudah dibongkar.

“Iya, mau dimodif tapi sayang, sudah kencang kok, lagian juga irit, soalnya dia pakai karbu khusus injeksi,”

Kemudian ia menjelaskan sistem kerja karbu motor Vega saya dibanding dengan karbu injeksi Xeon RC-nya. Saya sendiri tidak begitu ngeh kalau masalah mesin, tapi ada beberapa hal yang saya tangkap dan pahami.

Dia menjelaskan sambil memperagakan karbu Vega, “Karbu Xeon itu ada saluran bensin khusus buat rpm rendah ke menengah disamping saluran utama. Biasanya karbu matic yang normal tidak ada, jadi kalau mau mulai awal, tarikan gasnya harus sampai pol baru bisa jalan…”

Saya manggut-manggut mengiyakan karena pernah mencoba motor matic milik kakak, memang seperti itu, harus putar gas yang dalam, mesin seolah menggeram dalam, baru bisa jalan.

Dia melanjutkan, “Kalau di Xeon karena karbunya ada saluran khusus, maka bukaan gas tidak perlu lebar-lebar, motor sudah bisa jalan, itulah yang bisa bikin lincah bukan cuma kalau kencang, tapi pas pelan juga bisa lincah,”

“Terus bagaimana kalau karbu buat Xeon dipasang di motor Vega?” tanyaku penasaran.

“Hahaha… pasti Vegamu terseok-seok, lihat saja sendiri, saluran khusus itu kan kecil, secara teori sih, waktu putaran rpm rendah sudah dipastikan pasokan bensin di motor yang bukan matic, akan butuh bensin banyak, sehingga motormu nanti kalau pakai karbu injeksi Xeon akan tersengal, tapi beda kalau dipasang di motor matic. Tujuan salurannya dibuat kecil itu supaya bensin yang masuk bisa menyemprot halus bercampur udara hingga semprotan bensin menjadi seperti kabut merata, jadi pembakarannya sempurna, termasuk penemuan canggih nih…”

Saya terdiam karena memang puyeng mendengarkan bicaranya, dia berkata lagi, “Ini kunci Xeon tangkap! Tolong Xeon-nya keluarkan dari garasi ya, sekalian dipanasi!”

Langsung kusambar kuncinya. Kukeluarkan Xeon dan setelah panas kucoba mengendarainya mengitari beberapa blok sekitar perumahannya. Memang benar, lincah saat awal masuk gas. Beda sekali dengan matic lain yang harus mengerang dulu baru bisa jalan. Nyaman sekali. Shockbreakernya juga pas, tidak keras juga tidak terlalu empuk padahal pakai lengan ayunnya satu.

Saat aku pulang dengan mengendarai Vega merahku, tampak jelas sekali perbedaannya, oh… jelas saja masa’ matic dibanding dengan manual ya iyalah jelas beda, langsung aku iri dengan Xeon RC, seandainya aku saat ini mengendarai Xeon
Oh, seharusnya tidak boleh, aku harus bersyukur dengan apa yang ada. Maafkan aku Vega. Sebagai tanda maaf akan kulantunkan lagu ini untukmu:

Yamaha Vega
sungguh gagah
berbalut baju merah

sedari dulu sehingga kini
belum terganti

andainya susah, hati patah ingat jaman bersama

biar si vega merah,
andainya parah, akupun bersumpah
akan kunanti dia di bengkel
berjumpa lagi

DSC00024-right

***
– ilustrasi karbu injeksi diambil dari sini

– Ayo ikutan lomba:


Iklan

13 pemikiran pada “Yamaha Merah

  1. wernane ngejreng 😛

  2. wah meh podho mbek belalang tempur kenanganku
    yamaha super deluxe ’84…

  3. Spacy-ku juga merah loh. Hehe..
    Gudlak ngontesnya ya 🙂

  4. Lombanya menang gs nieh sakti? ^^

  5. Boleh d.tes dngan motor khu ngak.
    .
    motor gue vega jg bro.

  6. sma pnyaku kui bor

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s