Episode Hujan di Depan Mata dan di Belakang Mata

vlcsnap-perfecttwo

Bagi orang-orang sains, kejadian yang terjadi di depan matanya tampak seperti kejadian yang dapat dirunut secara logika, tapi bagi orang bodoh seperti saya, bisa jadi tampak seperti hal yang lain. Misalnya saja ketika terjadi hujan, orang geografi, fisika, biologi, menganggap hujan hanyalah tampak layaknya gumpalan titik-titik air yang tadinya memuai, menjadi awan, dan ketika titik-titik air itu overloaded kemudian turunlah sebagai hujan. Bagi orang yang sibuk dan aktivis, hujan adalah saatnya untuk menggerutu karena hujan menjadikannya pasif, menghalangi semua aktivitas yang mengasyikkannya. Sedang bagi orang bodoh, seperti yang sudah kau baca di postingan terdahulu, hujan adalah hasil perkawinan dari entah saya lupa dan mengakibatkan perut awan kemudian mengandung dan lahirlah hujan. Awan itu tersenyum dan wajahnya merona bukan merah tapi kelabu. Kenapa kelabu? Karena kelabu adalah bentuk paling romantis di antara putih sucinya awan dengan hitam kelamnya langit. Kadang bila awan kelabu itu terlalu bahagia, ia ingin mengajak langit untuk tetap berwarna cerah ceria, tetapi langit ternyata lebih suka berwarna hitam. Mungkin langit kelelahan untuk tetap mengeluarkan warna birunya, sehingga lebih mudah menyajikan warna hitam (sama bagi programmer, warna hitam cukup mudah, #00000, sedangkan biru ada banyak, bagi langit, birupun tidak solid biru dari ujung utara sampai selatan, tapi juga harus didegradasikan!). Kembali ke awan tadi. Biasanya bila awan tidak berhasil membujuk langit, ia akan mengeluarkan guntingnya. Gunting itu bagi manusia disebut dengan petir. Gunting itu nanti digunakannya untuk menggunting layar hitamnya langit. Warna langit yang tergunting akan berwarna kuning terang. Tapi biasanya langit akan segera menutup kembali gaun hitamnya karena takut aurat warna kuning terangnya menyebar luas. Dan suara kres…kres…kres… guntingan itu oleh manusia lazim disebut dengan guntur.
Apakah sudah cukup sampai di sini? Oh belum, masih ada lagi satu fenomena yang oleh manusia sudah disepakati sebagai suatu hal yang indah, apa itu? Pelangi. Siapa yang membenci pelangi? Tidak ada, tapi menurut saya, pelangi adalah sebagai bentuk stempel setengah hati. Stempel warna-warni sebagai pengesahan akta kelahiran bagi anak-anak rintik hujan yang telah sukses turun di bumi. Disebut setengah hati karena, kau tahu, yang namanya stempel harusnya lingkaran sempurna, dan pelangi tidak pernah full lingkaran.
Omong-omong masalah lingkaran, lingkaran adalah salah-satu bentuk bangun datar. Ada seorang teman yang membeberkan kuliah online chatting di Irc ( alamat servernya di freenode, channelnya #ubuntu-indonesia), dia memberi pertanyaan, “Mana yang lebih mudah, menghitung 22/7 x 2r atau 4 x s?”

“Tentu saja lebih mudah menghitung 4 x s….”

“Lalu apakah roda pedati yang berbentuk kotak akan berjalan lancar?”

Semuanya merenung. Waktu itu dia sedang menjelaskan tentang perbandingan antara Windows dengan Linux. Kemudian dia melanjutkan, Linux itu ibarat lingkaran, memang berat di awal, tapi ini demi kemajuan bangsa yang menggunakan aplikasi open source yang pastinya akan melancarkan pribadi bangsa supaya hidup mandiri.

Mengenai lingkaran lagi, menurut guru matematika SMP saya, lingkaran adalah bentuk kontradiksi antara: terlalu sederhana dan terlalu rumit. Terlalu sederhana karena cukup mudah dibuat pakai jangka di atas kertas, sedang terlalu rumit karena lingkaran adalah sama saja dengan segi banyak. Coba kau gambar segi tiga, kemudian, segi empat,segi 5, 6, 7, 8,… segi 3000, pasti sudah seperti lingkaran.
Rupanya itu, kenapa stempel pelangi hanya setengah lingkaran? Supaya lebih indah jika tampak setengahnya saja, tidak tampak rumit, tidak terlalu sederhana dan tentunya tidak membosankan.

Terima kasih sudah berkunjung di blog yang super ini.

***
ilustrasi: film: The New Perfect Two

Iklan

2 pemikiran pada “Episode Hujan di Depan Mata dan di Belakang Mata

  1. baru tahu ttg stempel pelangi 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s