Menapaki Masa Lalu

muse

Di kala gamang dan lupa, lupa keadaan sekitar, lupa kerja, lupa bernafas, lupa rencana hari ini, lupa Tuhan dan lupa diri, kaki memiliki kemauan sendiri menapak anak-anak tangga di loteng rumah. Kemudian menuju ke gudang buku-buku, mencari buku yang enak dibaca, untuk memancing ingatan agar lupa ini tak semakin parah. Di rak paling bawah ada sekumpulan buku catatan sewaktu kuliah. Terus terang, diri ini lupa apa saja yang sudah tercatat di dalamnya. Seingatku, tak begitu banyak yang tangan ini telah catat, karena mata ini lebih banyak tidur di kelas sejarah, tertidur sewaktu dosen mendongengkan kisah-kisah. Tertidur mengalahkan dilema antara harus mencatat poin-poin krusial subjektivitas sejarah sebagai sebuah peristiwa penting dan sejarah sebagai sebuah dongengan pengantar tidur siang. Langsung saja kubuka lembar demi lembar catatan yang terpuruk di dasar rak. Isinya kurang lebih catatan kuliah, catatan kuliah, catatan kuliah, oh tunggu sebentar, ada komik strip yang pernah kubuat. Saya benar-benar lupa kalau pernah bikin ini komik. Komik yang digambar seadanya, mirip gambar anak TK.

mbuh

Komik itu mengisahkan seekor nyamuk sebagai tokoh utamanya. Komik ini sebenarnya jorok, khusus dewasa, karena sang tokoh utama mengalami kelainan, sewaktu mulai lahir menjadi seekor nyamuk kecil, ia sangat haus darah dan segera menuju ke perkampungan manusia. Langsung saja ia masuk ke sebuah kamar dan menusukkan mulut runcingnya ke tubuh seorang manusia. Ternyata yang ditusuknya adalah seorang perempuan, dan anggota tubuh yang ditusuknya adalah puting payudaranya, dan yang disedot bukan darah, melainkan ASI! Teman-teman si nyamuk itu berusaha memperingatkan kalau perilaku si tokoh utama itu salah, harusnya darah, tapi tokoh utama tak bergeming, selanjutnya begitulah, sang tokoh utama tidak suka dengan rasa darah, tapi lebih suka ASI. Komik ini sungguh, saya lupa kalau sudah pernah membuatnya, baru 10-20 detik saat pertama melihatnya langsung terkumpul kepingan-kepingan ingatan tersebut. Kubuka-buka lagi catatan kuliah itu, tapi rupanya saya hanya membuat satu cerita, satu chapter, tidak ada chapter-chapter yang lain. Lembar berikutnya baru gagasan, reng-rengan kelanjutan, kalau nanti sang tokoh utama akan berhadapan dengan profesor XY-Z, yakni seekor semut tua yang diminta oleh teman-teman si nyamuk untuk menyembuhkan kelainan sang tokoh utama. Tokoh lain yang ‘nantinya’ muncul adalah seekor semut kecil anak dari profesor XY-Z yang berhasrat ingin terbang, ingin menjadi nyamuk dengan memakai ransel berisi tabung jet ciptaan ayahnya. Ada lagi teman-teman si nyamuk, antara lain, nyamuk tua yang punya segudang pengalaman ditepuk oleh manusia sehingga kaki-kakinya, sayapnya rusak semua, dan ia minta bantuan profesor XY-Z untuk memperbaikinya, tapi yang terjadi ia malah menjadi setengah robot, cyborg istilahnya. Ada lagi teman nyamuk yang mengalami mutasi karena sewaktu masih menjadi jentik, ia diletakkan oleh ibunya di larutan kimia di sebuah lab. Maaf gambar detailnya tidak akan saya cantumkan di postingan ini karena gambarnya jelek sangat. Saya heran kenapa bisa membuat plot sedemikian rupa.

Lanjutkan lagi membuka catatan yang lain, ada puisi-puisi yang entah ini bisa dikategorikan puisi atau bukan,

Cuma Membalas Senyuman

seharian ini, yang kulihat adalah, Pintu Lemariku yang tersenyum padaku dan aku juga membalas senyumannya,
Luka Bekas Gigitan Anak Kucing kemarin, juga tersenyum padaku, dan aku membalasnya,
Karpet juga tersenyum padaku, Pagar tersenyum, Jalan Aspal Hitam tersenyum, Anak-anak Tangga tersenyum dan Kolam yang juga ikut tersenyum padaku.
tidak lupa lagi, Langit pun ikut tersenyum padaku,

Jadi, sepanjang hari ini senyumku tidak sendiri,

senyumku menemani dan membalas senyum-senyum mereka,
apa salahnya?
Jadi jangan kalian anggap aku gila karena senyam-senyum sendiri.
Aku tidak gila.

begini saja,
Kumohon, kepada Pintu Lemari,
kepada Luka Bekas Gigitan Anak Kucing,
kepada Karpet,
Pagar, Jalan Aspal Hitam, Anak-anak Tangga, Kolam dan Langit,

kumohon… .
berhentilah tersenyum padaku,
supaya aku tidak perlu membalas senyum kalian,

supaya aku tidak dianggap gila.
karena aku masih sangat sehat jiwa

…..

Jadi teringat lagi, ada seorang teman, tetangga kos, sesama remaja masjid, kuliahnya di universitas yang sama, tapi beda fakultas yang suka bikin puisi. Tiap ketemu kertas dan pulpen atau pensil langsung corat-coret. Makna puisinya hanya ia yang tahu, memang di mana-mana puisi seperti itu, yang tahu cuma penciptanya, atau mungkin sedikit orang yang bisa memahaminya. Setelah ia catat apa yang terlintas dalam pikirannya, ia buang tulisan itu ke tempat sampah. Saya jadi ikut-ikutan. Sebenarnya ada banyak catatan lintasan pikiran yang sempat tercatat, tapi langsung dibuang dan tak tentu rimbanya, dan hanya ada sedikit tulisan yang beruntung hinggap di lembar demi lembar kertas catatan ini.

Perlahan kusadari, buku catatan seperti sebuah jalan dari masa lalu sebagai pengingat akan diri sendiri. Sama seperti postingan-postingan blog atau karya-karya lukisan, atau karya-karya yang lain. Para penciptanya adalah para penuang waktu agar waktu tidak berlalu begitu saja. Waktu dituang ke sebuah wahana, untuk bisa ditelusuri kembali menggunakan semua indra yang ada.

***

Iklan

2 pemikiran pada “Menapaki Masa Lalu

  1. lupa
    tidak ingat
    lupa ingatan…

  2. Kayak buku diary ya 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s