Polos

Membuat postingan, sebenarnya tidak ada paksaan, tetapi kenapa hasrat ini ingin selalu membuat postingan, padahal sama sekali tidak ada yang ingin diposting? Kalau sudah seperti ini biasanya hanya memandangi saja kursor berkedap-kedip sambil sesekali melirik judul yang masih berisi teks, ‘Enter title here’ yang berwarna abu-abu. Tiap buka Add New Post cuma terus-terusan memandangi kursor itu begitu indahnya berkedip. Entah sudah berapa lama memandanginya.

addnewpost

Ingin sekali memposting mengenai tips anak, tetapi punya istri saja belum, bagaimana mau punya anak? Bagaimana kalau memposting tempat-tempat eksotis? Ah, saya amat sangat jarang bepergian dan foto-foto. Darah rendah ini juga sering bikin migren kalau keseringan bepergian. Terus bagaimana kalau posting masalah politik? Sebenarnya suka saja dengan politik, apalagi tahun 2013 ini banyak sekali intrik-intrik partai politik yang lebih seru dibanding film-film konspirasi Hollywood, tapi bukankah blogger itu sopannya tidak memposting masalah SARA dan ranah politik? Baiklah, karena sudah tahun 2013, bukankah lebih baik kalau memposting resolusi tahun ini? Ah, sama seperti tahun-tahun yang lalu, saya manusia tanpa rencana. Oke tahun ini targetnya adalah belajar mengendarai mobil, karena sampai saat ini masih belum lancar-lancar menginjak pedal kopling dan gas, belum lagi pindah gigi, belum lagi kalau parkir, belum lagi tanjakan, turunan. Ada yang mau berbagi tips? Mau posting masalah komputer, seni, handycraft, tips dan trik tentang sesuatu hal, sama saja, saya bukan ahli di bidang semua itu. Akhirnya saya tahu hingga saat ini kalau saya bukanlah seorang yang ahli di bidang tertentu. Dan hingga sekarang mata ini tetap saja menatap lembar Add New Post sambil membayangkan Spongebob yang sekian lama hanya bisa menulis ‘The’.

the

Lama-lama dipikir, bukankah lebih baik kalau halaman ini tetap saja polos dan bersih dari kata-kata? Kita cukup membayangkan saja apa yang akan tertulis, terketik di sana. Karena yang tertulis bisa jadi apa saja. Tergantung imajinasi kita.

Bayangkan perbedaan antara buku tulis yang putih bersih dengan buku tulis yang sudah berisi coretan. Buku tulis yang masih belum terisi coretan malah lebih berharga. Bisa dijual lagi. Kalau buku yang sudah berisi coretan, paling-paling dijual ke tukang loak terus harganya sudah jauh berkurang, mungkin jadi bungkus tukang cabe di pasar. Tapi tergantung isi coretannya juga, kalau buku tulis itu miliknya Mozart, Pramoedya Ananta Toer atau Bung Karno, bisa jadi malah lebih mahal karena berisi ide-ide brilian. Akan tetapi paling-paling kebanyakan isi dari buku tulis yang sudah diisi adalah coretan-coretan tak bermakna, sampah pendidikan yang dipaksakan untuk dicatat, mengejar nilai semu pemuas nafsu sesaat. Seharusnya buku catatan sekolah itu disimpan baik-baik, bagai diary yang berharga karena memuat info-info kehidupan ini. Lantas bagaimana nasib buku catatan kalian sewaktu masih SD sampai kuliah, apakah masih ada?

Kembali lagi ke masalah ‘polos’, sekarang coba bayangkan tubuh, kulit antara orang yang bertato dengan yang masih polos, enak dilihat yang mana? Bagi saya, saya suka yang polos, tidak ada pahatan tatonya. Bagi kalian yang sudah ditato, saya mohon maaf, pemikiran orang beda-beda. Tetap saja, meski ada yang berpendapat kalau tubuh itu ibarat prasasti yang indah kalau dihias dengan tato. Kulit yang polos lebih mudah diimajinasikan terisi apa saja. Bayangkan kalau sudah ada isinya, mau diimajinasikan apa lagi…

Terus kalau bodi mobil, motor atau laptop, jendela rumah, biasanya ditempeli stiker macam-macam. Enak mana dilihat, yang penuh stiker atau yang polos? Bagi saya enak yang polos, karena yang polos itu lebih elegan.

🙂

***

Iklan

15 pemikiran pada “Polos

  1. Saktiiiii…
    Lagi gak punya ide posting aja bisa bikin tulisan yang keren begini..hihihi…

    Anyway, kok Sakti bisa nonton sih episod spongebob yang dikasih PR ama miss Puff ituh..hihihi..
    Bengong di depan meja cuman dapet kata the doang..hihihi…

  2. ya bayangin aja cara bikin anak menurut sudut pandang bujangan dah…

  3. ga perlu nunggu jadi ahli untuk share suatu hal sahabat sakti 🙂
    tapi asli dech postingan ini keren 🙂

  4. Jadi pembaca diminta cuma membayangkan gitu ya 🙂

  5. teruslah menulis kawan, karena sebuah tulisan tidak akan pernah mati meskipun penulisnya sudah tiada

  6. Aku juga gak terlalu suka tatto. Suka lihatnya tapi gak suka kalau dipasang ditubuhku 🙂 hehe

  7. ujung2nya g’ nulis apa2 sakti… aiiih…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s