Iri

Masihkah suka dengan langit biru, masihkah suka dengan hujan?
Saat melihat warna biru itu, warna langit, apakah warna birunya yang kulihat dengan yang kau lihat sama?
Seperti apa warna biru yang dicerna matamu, apakah lebih indah? Iya, pasti lebih indah.

Kemudian tentang hujan, saat dia menerpamu, apakah dinginnya menyengsarakan? Apakah dinginnya menguasai seluruh kulitmu, atau berbeda, dinginnya menyejukkan?

sewaktu kau membaca karya sastra tokoh-tokoh terkenal yang hidup di abad 15-an atau sebelumnya, apa yang kau rasakan, terbuai, menikmati, atau malah iri?
Kalau aku, aku iri sekali dengan mereka, karena mereka bisa terkenal dan karyanya bisa masuk kurikulum, ditenteng dalam tas ketika bersekolah, dibahas beramai-ramai dalam pelajaran… Bila saja aku hidup sejaman dengan tokoh itu, aku pasti akan menyamainya atau setidaknya karyaku layak diperhitungkan bersanding dengan karyanya.

Ketika kau merasa iri, apa rasa iri itu sensasinya sama seperti yang kurasakan?

Saat angin menerpa, membelai pipimu, menyibak rambut, bagaimana ?

Saat… saat kau menikmati es krim vanilla, ingatkah kau pesan yang disampaikan lidah ke otak dan hatimu tentang bagaimana rasanya? Bagaimanakah seharusnya menerjemahkan rasa?

Kau mendengar,
bagaimana rasa saat mendengar sebuah tawa, suara tangis, suara denyut jantung atau bergeseknya daun-daun?

Bagaimana rasanya mati rasa?

Rasa ini masih hidup, tapi tak tahu bagaimana cara mendefinisikannya, apakah indah atau buruk.

Saat kau hidup, bagaimana merasakan hidup, apakah kau menikmati kesulitannya?

Saat kau mengimajinasikan Sang Pencipta adalah Yang Maha Besar, seberapa besar Dia yang ada dalam bayanganmu? Aku sering mengimajinasikan Dia sedang berada dalam sebuah ruangan, tapi itu tidak mungkin, kalaulah Dia berada dalam ruangan, berarti ruangan itu lebih besar dari-Nya, dan Dia bukan lagi Yang Maha Besar. Bagaimana kalau Dia adalah ruangan itu sendiri? Padahal ruangan terbesar adalah alam raya ini, apakah Dia lebih besar dari alam raya ? Sampai sebesar apa kau mengimajinasikan-Nya, atau jangan-jangan Dia tak mampu terimajinasikan karena Dia menguasai Segala Sesuatu, baik yang di dalam maupun di luar logika? Bagimana imajinasimu tentang-Nya?

Aku iri sekali denganmu, ingin kumasuk ke dalammu dan mengecek, apakah warna langitmu lebih indah dariku, apakah hujanmu seperti penjara yang membebaskan, apakah kesulitan dan kemudahan hidup kau nikmati dengan iringan tawa dan tangis bahagia, apakah sesaknya hidup juga kau nikmati?

Maafkan aku jika menanyakan hal-hal tidak penting…

jika kau orang bodoh, apakah kau menikmati kebodohan seperti yang kunikmati saat ini?

***

Iklan

17 pemikiran pada “Iri

  1. pointnya kayaknya di akhir-akhir postingan nih ya… “iri denganmu”
    pertanyaannya berat-berat, kadang filosofis kadang juga retoris
    Selamat menikmati iri yang produktif, Bung!

  2. bodoh saja blognya keren lik…
    kalo pinter kaya apa jal…?

  3. Kadang kadang kalo mampir sini aku harus baca berulang ulang untuk mencoba mengerti esensi dari postingan mu lho Sakti…

    mau ngomong iri aja sampe berbelit belit puitis romantis begitu yah…hihihi…
    Keren tapinya 🙂

  4. intinya Sakti galau ya 😛

  5. saya iri pingin bisa nulis seperti kamu Sak,,,,, puitis..

  6. SIfat syirik paLink di benci oLeh ALLAH swt… 😀

  7. Saya iri untuk bisa menulis sebagaus sastrawan. Hehehe….

  8. apalah diri hamba
    tahu diri bodoh
    oh yang enak jadi hamba sajalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s