Menulis Itu Susah

15 Desember 2012 di Nurul Fikri Fair yang bertempat di Depok, dekat markas Brimob, ada satu acara yang diisi oleh Habiburrahman El Shirazy. Nama acaranya adalah Bedah Buku Cinta Suci Zahrana. Habiburrahman mengatakan kalau menulis adalah seperti memancing ikan dan menulis adalah skill yang harus dilatih.

Bagi saya, menulis adalah kutukan. Iya, kutukan yang datang sendiri tanpa diminta.

adianhusaini
ini adalah fotonya Pak Adian Husaini saat jadi pengisi di NF Fair 2012 (maaf… gak nyambung)


Saat bekerja atau saat membaca apapun, otak tanpa sadar terisi hal-hal yang berlainan dengan apa yang sedang saya kerjakan atau yang saya baca. Hal-hal yang berlainan itu semakin penuh dan semakin penuh mengisi ruang-ruang otak itu. Dia berenang-pinang dalam pikiran, sehingga apa yang saya baca atau kerjakan tidak konsentrasi lagi dikerjakan. Hal-hal yang berlainan itu mulai menjadi polusi yang harus segera dikeluarkan bagaimanapun caranya. Salah-satunya adalah dengan ditulis, kemudian dibuang, dimasukkan blog atau entah diapakan, yang terpenting bagaimana polusi itu segera hilang dari pikiran, supaya saya bisa membaca dengan normal lagi, supaya saya bisa bekerja dengan biasa lagi.

Sayangnya, saya selalu membiarkan polusi itu terus berlanjut dan akhirnya merusak otak, dan akhirnya lagi mengacaukan sistem kerja. Jadi jangan heran, bagi orang-orang yang sudah mengenal saya, saya seperti orang bodoh, karena memang saya bodoh dan tidak bisa apa-apa. Saya tidak pernah bisa konsentrasi, karena memang saya tidak konsentrasi. Aliran-aliran insiprasi, ide cerita, imajinasi yang memenuhi otak bagai polusi ini tak mampu tersalurkan.

Habiburrahman sudah memberi solusi, banyak-banyaklah membaca karena membaca itu akan menambah kosa-kata, bagai bayi yang meminta susu, karena belum ada kosa-kata untuk mengungkapkan, ia akan menangis dan stres. Tapi menurut saya dengan banyak membaca, justru akan menambah masalah baru. Dengan banyak membaca malah akan menambah polusi-polusi lain yang baru di otak. Satu-satunya cara adalah dengan langsung melampiaskannya. Kemana? Menurut dia lagi, bagi yang punya cam recorder, rekamlah. Bagi yang punya keyboard dan komputer dengan tuts yang masih normal, atau bagi yang masih punya pulpen dengan kertas, atau juga yang masih punya jemari lengkap untuk menulis dan menggambar, maka bersyukurlah dan segera lampiaskan.

Saya adalah seorang egois. Memosting sesuatu bukan karena saya menghargai pembaca, tetapi karena memang saya ingin memposting, segera melampiaskan ide-ide yang kuanggap sebagai polusi otak, agar kerja saya menjadi normal.

Mungkin kalian menganggap kalau ide-ide, gagasan, insiprasi adalah sebuah berkah, tapi bagi saya, ini adalah kutukan. Dan melampiaskannya dalam bentuk salah-satunya tulisan adalah susah dan menyusahkan. Menuliskannya saja susah, apalagi dengan bentuk lain, misalnya dengan merekamnya, karena saya seorang yang pendiam dan tak mampu berkata-kata. Melampiaskannya ke bentuk lukisan? Saya tak bisa, karena tangan selalu gemetar memegang kuas, apalagi harus membeli cat, kanvas dan bla-bla lainnya. Melampiaskannya dalam bentuk lagu dan lirik? Saya tidak pintar memegang alat musik. Satu-satunya cara yang kukenal hanyalah mengetik, menulis, dan menulis itu ternyata susah.

Tapi sesungguhnya semua kita disini adalah penulis. minimal memjadi penulis buku catatan dari guru yang sudah mengajari kita. Maka dari itu kita punya buku catatan pelajaran. Semua dari kita adalah penulis, terlebih bagi yang sudah sarjana, sudah bisa menjadi penulis skripsi. Tanpa sadar kita juga sudah menjadi penulis, entah itu menulis status facebook, menulis timeline di twitter, menulis daftar belanjaan, mengetik sms dan sebagainya. Sebenarnya menulis itu mudah, karena menulis sudah menjadi kebutuhan, kalau kebutuhan itu tidak dilaksanakan, maka akan mengacaukan hidup kita.

Khusus bagi saya, yang terlalu sering mengendapkan polusi ide-ide, menulis isi pikiran adalah susah, karena polusi itu terlanjur mengendap dan menjadi kerak dalam waktu yang lama. Kerak itu menyumbat aliran ide-ide baru, selanjutnya nanti ide-ide baru itu menjadi usang dan bergabung dengan kerak-kerak yang sebelumnya ada. Melampiaskannya dalam bentuk tulisan adalah susah. Adalah susah. Sumbatan itu membuat keruh pikiran, sedang ide-ide usang dan tua telah lelah berlari-lari dalam otak. Menulis hanyalah seperti menancapkan jarum, membuat lobang di otak, supaya otak yang berisi cairan polusi itu berlubang, dan serta-merta polusi itu keluar dan otak menjadi sedikit jernih, sehingga pikiran bisa digunakan lagi.

Sungguh, menulis itu susah.

***

Iklan

7 pemikiran pada “Menulis Itu Susah

  1. semoga ke depannya nggak susah lagi ya buat menulis

  2. menulislah untuk menjernihkan pikiran d rasa

  3. saya pun susah untuk menulis komentar di sini, bingung mau berkomentar apa

  4. kucing putih naik panggung,
    iya nih, yang mbalas komentar juga bingung

  5. idemlah saya juga merasa kesulitan saat menuliskan apa yang ada dalam pikiran….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s