Sabar

kelopak mata sebentar terpejam
mengikuti pikiran terkapar-tergeletak,
sibuk mencabuti jarum-jarum jam,
supaya tak lagi mendetakkan suara tak..tak..tak…

inginnya membujuk si mentari
supaya kembali ke timur
apa daya lihatlah diri
tak kuat menahan beban hingga tersungkur

inginnya menggulung lagi lembaran-lembaran mahkota bunga mawar
masuk terlipat ke dalam dia punya kuncup
mahkotanya terkembang ribuan layar, berlembar-lembar
hingga waktu berakhir takkan pernah cukup

apa daya semua sudah terjadi
semoga kesabaran selalu tertuang ke wadah jiwa
karena dengan sabarnya hati
hal-hal yang tak bisa diubah dapat diterima, legawa

***

nb:

berulang kali memeras hati kering yang basah
basah oleh tangis sesal meluber
ditemani pantun-pantun tak berima
antara rinai gerimis dingin bulan Desember

2012-12-03-173354

Iklan

10 pemikiran pada “Sabar

  1. yang lalu biarkan jadi kenangan.

  2. terus terang saya kadang gak paham dengan mainan kata kata penyair. Tapi suka membacanya.

    • sama pak, saya juga gak paham
      dengan apa yang diomongkan penyair
      saya hanya berusaha meredam
      rinai pikir yang tak henti-hentinya mengalir

  3. berarti merem melek ya lik..?

  4. o, andai mata tak berkelopak,
    mata melek senantiasa
    langkah imaji tak mampu menapak
    imajinasi tersingkir berganti realita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s