Mohammad Hatta-Ilmuwan Ekonomi

Ketika berbicara mengenai ilmuwan, pasti benak kita langsung tertuju pada tokoh-tokoh sains, yang mana sains selalu identik dengan IPA atau ilmu pengetahuan alam, seperti kimia, matematika, teknik, dan sebagainya. Padahal sains diambil dari kata science yang berarti ilmu. Sedangkan ilmu itu tidak hanya milik para penggelut dunia IPA saja, semua yang dapat dipelajari disebut juga ilmu dan seorang yang ahli dan banyak mempelajari suatu ilmu disebut dengan ilmuwan.

Ketika googlingpun saat mengetik “ilmuwan muslim” di kolom search, yang muncul kalau bukan ilmuwan-ilmuwan aljabar, ya alchemist, padahal ilmu-ilmu sosial juga termasuk ilmu juga.


Berhubung sebentar lagi tanggal 28 Oktober yaitu Hari Sumpah Pemuda,
dimana para pemuda yang tergabung dalam kelompok-kelompok, bersatu dan
bersumpah dengan tiga sumpah yang terkenal. Ada sesosok yang saat itu
masih usia pemuda bernama Mohammad Hatta. Meski tidak terlibat langsung dalam perumusan Sumpah Pemuda, Hatta mempunyai peran besar dalam menanamkan bibit persatuan melalui tulisan-tulisannya yang menjadi referensi para pemuda, terutama Manifesto Politik 1925. Beliau jugalah yang menjadi rekan diskusi Mohammad Yamin saat di Jong Sumatranen Bond dan yang memprakarsai Kongres Pemuda II 1928, pencetusan Sumpah Pemuda.

Ya, di Indonesia ada begitu banyak ilmuwan ilmu sosial, yang cukup keren adalah Mohammad Hatta ini yang menggeluti ilmu ekonomi. Mohammad Hatta lahir pada tanggal 12 Agustus 1902 di Bukittinggi. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil, meninggal ketika Hatta berusia delapan bulan. Dari ibunya, Hatta memiliki enam saudara perempuan. Ia adalah anak laki-laki satu-satunya. Sejak duduk di MULO di kota Padang, ia telah tertarik pada pergerakan. Sejak tahun 1916, timbul perkumpulan-perkumpulan pemuda seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Minahasa. dan Jong Ambon. Hatta masuk ke perkumpulan Jong Sumatranen Bond.

Sebagai bendahara Jong Sumatranen Bond, ia menyadari pentingnya arti
keuangan bagi hidupnya perkumpulan. Tetapi sumber keuangan baik dari iuran anggota maupun dari sumbangan luar hanya mungkin lancar kalau para anggotanya mempunyai rasa tanggung jawab dan disiplin. Rasa tanggung jawab dan disiplin selanjutnya menjadi ciri khas sifat-sifat Mohammad Hatta.

Pada tahun 1921 Hatta tiba di Negeri Belanda untuk belajar pada Handels Hoge School di Rotterdam. Ia mendaftar sebagai anggota Indische Vereniging. Tahun 1922, perkumpulan ini berganti nama menjadi Indonesische Vereniging. Perkumpulan yang menolak bekerja sama dengan Belanda itu kemudian berganti nama lagi menjadi Perhimpunan Indonesia (PI).

Ketertarikannya kepada sistem ekonomi yang bernama koperasi karena
pengaruh kunjungan ke negara-negara Skandinavia, khususnya Denmark, pada akhir tahun 1930-an. Bagi Hatta, koperasi bukanlah sebuah lembaga yang antipasar atau nonpasar dalam masyarakat tradisional. Koperasi, baginya adalah sebuah lembaga self-help lapisan masyarakat grass-root untuk bisa mengendalikan pasar. Karena itu koperasi harus bisa bekerja dalam sistem pasar, dengan cara menerapkan prinsip efisiensi.

Koperasi juga bukan sebuah komunitas tertutup, tetapi terbuka, dengan
melayani non-anggota, walaupun dengan maksud untuk menarik mereka menjadi anggota koperasi, setelah merasakan manfaat berhubungan dengan koperasi. Dengan cara itulah sistem koperasi akan mentransformasikan sistem ekonomi kapitalis yang tidak ramah terhadap pelaku ekonomi kecil melalui persaingan bebas (kompetisi), menjadi sistem yang lebih bersandar kepada kerja sama atau koperasi, tanpa menghancurkan pasar yang kompetitif itu sendiri. Tapi, ini tidak berarti, bahwa koperasi itu identik dengan usaha skala kecil.

Kwik Kian Gie menyebutkan dalam salah satu ceramahnya tentang begitu maha-hebatnya pemikiran koperasi dari Hatta ini:

“Kita bayangkan adanya 200 peternak sapi perah di suatu desa tertentu yang bekerja sendiri-sendiri tanpa organisasi koperasi.

Di kota tetangganya ada 25 pengusaha yang masing-masing mengeluarkan modal Rp. 5 milyar secara merata. Dengan modal Rp. 125 milyar ini mereka mendirikan pabrik pengolahan susu segar untuk membuat susu bubuk dan susu segar yang siap untuk diminum. Lalu mereka juga membeli armada angkutan untuk pengumpulan susu segar dari peternak sapi di desa sekitar pabriknya.

Para peternak lalu bergabung mendirikan koperasi dengan lingkup pekerjaan yang terbatas pada pembinaan, peningkatan produktivitas, peningkatan kesehatan sapi, pengumpulan dan penjualan susu segar. Koperasi ini sebagai wadah tunggal lalu berhadapan dengan usaha pabrik tadi. Karena para petani sudah melakukan pengumpulan susu dari para anggotanya dan berhasil mengusahakan transportasinya sendiri, usaha para pemodal besar membubarkan armada angkutannya. Mereka lalu hanya menunggu saja sampai koperasi peternak susu mengantarkan susu segarnya untuk dibeli dan diproses.

Dengan demikian ada dua buah organisasi, yang satu koperasi para peternak sampai pada pembinaan, peningkatan produktivitas, peningkatan kesehatan sapi, pengumpulan dan penjualan susu segar. Yang lain adalah kelompok 25 pemodal besar yang mendirikan pabrik pengolahan susu, dan bentuknya adalah juga koperasi, dengan pemilikan modal merata, masing-masing Rp. 5 milyar.

Koperasi petani sapi perah tadi berkembang, memupuk modal terus menerus, sehingga mampu membeli pabrik pengolahan milik 25 pemodal besar tadi. Koperasi peternak ini lalu memaksa membeli pabrik pengolahan dengan ancaman akan mendirikan pabrik sendiri, dan pabrik pengolahan tadi tidak akan mendapatkan susu segar lagi. Koperasi pengolahan susu bertekuk lutut dan menjual seluruh pabriknya kepada koperasi para peternak susu perah. Koperasi peternak susu perah, yang mulanya jelas-jelas koperasi, baik dalam bentuk maupun dalam jiwanya, sekarang sudah bergaya pemodal besar, memaksa dan memakan pabrik milik pemodal besar. Koperasi peternak sapi perah sudah menjadi lebih besar lagi daripada unit produksi pabrik pengolahan dari para pemodal yang bermodalkan Rp. 5 milyar seorang.

Manajemen koperasi ini bisa menjadi profesional, rasional dan sangat
efisien, seperti yang kita semuanya harapkan, supaya koperasi menjadi
besar, kaya dan kuat menggaji para manajer yang profesional, rasional dan efisien.

Sekarang siklusnya sudah lengkap untuk mempertanyakan sekali lagi : Apakah keseluruhan koperasi peternak sapi perah, pabrik pengolahan, perusahaan transportasi, bank dan perusahaan asuransi ini masih koperasi, baik dalam bentuk maupun dalam jiwanya menurut UUD 45 dan GBHN ? Besarnya, manajemen-nya dan perilakunya sudah tidak ada bedanya dengan perusahaan-perusahaan raksasa lainnya. Tetapi para pemiliknya masih sekelompok orang yang sama rata. Jumlah pemiliknya sudah berkembang menjadi puluhan ribu orang.”

Begitulah, bila saja manajemen suatu koperasi adalah rapi dan hebat, bisa jadi koperasi berpotensi raksasa, koperasi ini berkembang terus. Cakupan geografisnya sudah sangat luas, dan jumlah anggotanya sudah sangat besar. Bahkan para anggota lalu mendirikan asosiasi asuransi jiwa sendiri, yang berkembang menjadi koperasi asuransi jiwa yang besar seperti halnya dengan Bumi Putera 1912. Langkah selanjutnya adalah membentuk asosiasi tabungan berbentuk koperasi, yang juga berkembang menjadi raksasa semacam Raffeisenbank dan Boerenleenbank, yang lalu bergabung menjadi Rabobank yang raksasa dan multinasional. Bank yang berbentuk koperasi ini mulai membentuk konglomerat perusahaan-perusahaan.

Pemikiran-pemikiran ilmuwan ekonomi seperti Hatta inilah yang pemikirannya mampu dikembangkan pesat. Model koperasi yang awalnya hanya grass-root, hanya untuk rakyat kecil, tapi bila diseriusi bisa saja menjadi besar dan kuat.

Meskipun Mohammad Hatta bersekolah di negeri Belanda dan menjadi elit pemuda, beliau tetap berjiwa nasionalis, mencurahkan jiwa dan raganya buat bangsa. Dan dengan semangat membacanya yang membara, beliau mampu menciptakan pemikiran koperasi yang begitu hebat, karena hanya dengan membacalah, baik membaca buku maupun kejelian membaca situasi, semua pintu-pintu ilmu akan terkuak.

Daftar Pustaka

http://kolom-biografi.blogspot.com/2009/08/biografi-mohammad-hatta.html
http://bahasa.kompasiana.com/2012/09/12/menggali-roh-membaca-dari-bung-hatta/
http://djadja.wordpress.com/2011/07/11/bung-hatta-koperasi-jati-diri-ekonomi-yang-terhempas-karena-nafsi-nafsi/
http://kwikkiangie.com/v1/2011/03/tinjauan-perekonomian-indonesia-khususnya-koperasi-dan-ukm/

***
Postingan ini tidak diikutsertakan dalam lomba apapun, tapi merupakan tugas dari tempat kerja, sekalian diposting saja karena isinya bagus 🙂

Iklan

14 pemikiran pada “Mohammad Hatta-Ilmuwan Ekonomi

  1. andai banyak orang spt bung Hatta di negeri kita ya

  2. Sama seperti komennya Mba Elly, ekonomi Indonesia pasti kuat ya andaikan banyak orang yang seperti beliau..

  3. Bung Hatta adalah salah satu dari sedikit pemimpin visioner dan berprinsip kuat..

  4. Bung Hatta, patut diteladani 🙂

  5. ilmuwan sosial juga hebat, kan?

  6. kita tunggu aja Hatta Hatta berikutnya dari negeri ini 🙂

  7. Have a good day yah …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s