Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Sebelum kita membicarakan tawuran sebaiknya kita buka dulu di kamus, apa makna dari tawuran. Dari aplikasi StarDict yang memuat Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi tahun 2005, diperoleh arti, tawuran berasal dari kata benda, ta-wur, yang artinya perkelahian beramai-ramai atau perkelahian massal. Khusus pengguna Linux, kalau mau mendownload starDict cukup masuk ke terminal, kemudian ketik :

sudo apt-get install stardict

Kembali ke artikel mencegah dan menanggulangi tawuran, berarti seharusnya postingan ini berisi dua hal, yakni mencegah yang berarti menahan, merintangi supaya tawuran tidak terjadi, dan menanggulangi yang berarti membuat tanggul, membendung, yang artinya sama, menahan juga. Lho, kenapa dua kata yang artinya sama digunakan secara bersamaan, mencegah dan menanggulangi? Karena ini adalah salah satu gaya bahasa yang menyangatkan, membuat jadi sangat.

Kembali ke postingan mencegah dan menanggulangi tawuran, sebenarnya kita sudah tahu jawabannya, jawaban yang selalu didengang-dengungkan baik oleh pemerintah, kepolisian, guru, sekolah maupun tokoh dan lembaga-lembaga kependidikan, kurang-lebih:

– harus ada pendidikan keluarga yang harmonis, karena tidak mungkin oknum siswa yang tawuran berasal dari keluarga yang harmonis
– memperbanyak ekstra kulikuler sekolah yang mampu menampung aspirasi dan ambisi siswa agar terlampiaskan/tersalurkan bakatnya
– hubungan komunikasi yang baik dan mesra antara sekolah-guru-siswa, serta
– hukuman yang berat bila ada siswa kedapatan tawuran agar ada efek jera

Sebenarnya kita sudah tahu jawabannya, tapi kenapa oh kenapa tawuran masih saja terjadi bukan saja pada sekolah tapi juga tawuran antar geng, blok, atau bonek seperti yang banyak terjadi? Apakah mereka semua tawuran gara-gara terlalu banyak nonton film Tawur Tepuh? Oh Saur Sepuh ? Lantas bagaimana kalau adanya kegiatan ekstra kulikuler malah menjadi pisau bermata dua, malah semakin mengasah kemampuan anak-anak untuk lebih hebat lagi ketika tawuran, misalnya ekstra panahan, taekwondo, karate atau wushu? Atau bagaimana pula jika ekstra olahraga misalnya futsal atau basket yang awalnya adalah pertandingan persahabatan antar sekolah malah jadi pemicu munculnya tawuran antara suporter?

Baik disadari atau tidak, tawuran adalah sebuah kebutuhan, kebutuhan karena adanya perasaan untuk melawan suatu “musuh bersama”. Keinginan untuk melawan “musuh bersama” itu akan menguatkan jalinan intern di dalam suatu kelompok. Jadi kebanyakan anak-anak geng akan loyal satu sama lain, setia kawan. Perasaan itulah yang membuat seolah tawuran adalah menyenangkan. Coba pikirkan saat salah satu oknum siswa yang baru-baru ini membunuh tertangkap dan diwawancarai, bahwa ia sama sekali tidak menyesal, bahkan merasa puas sudah membunuh. Kira-kira begitu kenapa tawuran selalu saja ada dan ada dimanapun di muka bumi.

Lalu bagaimana pencegahannya? Apakah pemerintah perlu membuat dan menciptakan “musuh bersama”? Oh, itu bukan mencegah, tapi membuat jalan lain. Ada sebuah grup band besar di Indonesia yang saat konser, mereka berpendapat kalau adanya seragamlah yang membuat siswa-siswa sekolah tawuran. Jadi sebaiknya pakaian “seragam” dibebaskan saja. Pendapat band tersebut memang ada benarnya, tapi juga ada tidak tepatnya. Benar karena seragam adalah simbol pembeda antar sekolah, sedangkan tidak tepat karena fungsi seragam sendiri bisa untuk pendisiplinan siswa dan juga kontrol kerapihan.

Jadi teringat cerita seorang ustadz, beliau bercerita kalau di dekat rumahnya berdiri dua sekolah yang bersebelahan, anehnya kedua sekolah itu sama sekali belum pernah tawuran, padahal bersebelah-sebelahan. sekolah itu adalah SMA 76 dengan SD 51. Pada waktu bulan puasa kemarin, siswa SD 51 sering sekali memprovokasi SMA 76 dengan ramai-ramai membeli es krim potong dan menjilatinya di samping pagar SMA 76. Coba bayangkan keadaan siang-siang, panas, terus puasa, perut lapar keroncongan, tapi kenapa siswa SMA 76 tidak jua menyerang SD 51?

Oke cukup sekian becandanya, saatnya serius, lantas bagaimana pencegahan tawuran? Jawabannya ada pada pendidikan moral dan kerohanian baik dalam keluarga maupun sekolah. Memang untuk membendung film-film atau game-game bertema kekerasan sudah tidak bisa, karena sudah umum di masyarakat. Film atau game kekerasan itu sudah begitu menyebar dan telah dianggap biasa dan inilah penyumbang terbesar kenapa kekerasan merajalela. Satu-satunya solusi adalah sekolah mengembangkan lagi ekstra kulikuler yang berasaskan kerohanian, misalnya Rohis (Kerohanian Islam) atau mungkin kerohanian agama yang lain, karena hingga sampai saat ini belum pernah ada berita kalau Rohis SMA 34 menyerang Rohis SMA 77, misalnya. Negara inipun sudah memiliki asas alias dasarnya paling awal adalah kerohanian yakni Ketuhanan yang Maha Esa. Jadi perlunya pembinaan kerohanian ini karena sudah pasti, agama mengajarkan kedamaian, toleransi dan menghargai sesama manusia.

***

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Indonesia Bersatu : Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

Iklan

11 pemikiran pada “Cara Mencegah dan Menanggulangi Tawuran

  1. semoga menang ya kontesnya

  2. Terima kasih atas partisipasi sahabat.
    Salam hangat dari Surabaya

  3. Persaingan maupun rasa ingin mengalahkan satu sama lain harus diluruslkan dan diarahkan ke arah positif. Misalnya dengan menggelar kompetisi.
    Toh! saat ini sudah ada kompetisi semacam DBL, dan banyak lagi lainya. Jadi tawuran itu sudah nggak jaman.
    Yang perlu kita perbaiki Terutama adalah pola pikir anak didik kita.
    Salam hangat 2pai.
    Semoga dunia pendidikan kita smakin maju ya Pak!

  4. malah kepincut sama stardictnya hehe.. pengen donwload juga πŸ˜€

    *sukses ya kontesnya πŸ™‚

  5. kunjungan pertama..salam kenal ..
    oya sukses ya di kontesnya Pakdhe πŸ™‚

  6. mendekatkan anak pada moral akan mudah untuk tidak tawuran aku juga belum lihat berita ponpes A tawuran dg ponpes B

  7. semoga ini akhir tawuran remaja kita, duh ngeriiii jika ini terus terjadi 😦

  8. semoga dengan diadakan kontes ini bisa membawa banyak perubahan…

    Sukses GAnya ya Mas….

  9. Tawuran oh tawuran πŸ˜€

  10. Sukses kontesnya Mas.. πŸ™‚

  11. komunikasi yang mesra juga mestinya terjadi antara ortu dan sekolah. sehingga, segala perkembangan anak bisa dikomunikasikan dengan baik, tanpa ada saling tuduh.. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s