Migrasi

Sejatinya saya adalah seorang introvert, maka dari itu untuk mengatasinya saya berusaha untuk extrovert di blog saya ini.

Bagi seorang yang sering berganti kampung halaman, maka ia sewajibnya menjadi seorang yang extrovert, karena belajar banyak kebudayaan dari tempat ia tinggal, banyak punya teman, banyak berkomunikasi dan sebagainya. Namun rupanya ini tidak berlaku bagi saya, mengikuti dinas orang tua yang sering berpindah rumah justru membuat anak ini tidak bisa ke mana-mana, mengurung diri di kamar dan bermain sendiri, seperti sufi.

Tapi ada baiknya juga sering berpindah kampung halaman, kita tidak terikat lagi dan tidak peduli lagi dengan yang namanya sukuisme atau primordialisme atau apalah namanya. Sebagai buktinya sewaktu saya masih di Takalar, Sulawesi Selatan, teman-teman SD waktu itu sangat mengidolakan PSM (Kalau tidak salah, itu kepanjangan dari Persatuan Sepakbola Makasar). Saya ingin seperti mereka, ingin juga mendukung PSM, tapi hati ini tidak bisa dibohongi, sepertinya hampa rasanya. Ini bukan klub saya. Begitupun ketika sudah pindah ke Wonogiri, ingin sekali mendukung Persiwi atau juga PSIS, tapi tetap sama, hampa rasanya, tidak ada fill babarblas, mungkin inilah nikmatnya bila kita sama sekali tak punya rasa fanatisme buta.

Pembicaraan kita berlanjut ke penggunaan sistem operasi komputer. Awalnya belajar komputer di SMP, pakainya komputer yang booting pakai disket yang lebar, tipis, bisa buat kipas-kipas. Baru ketika kuliah semester 1 dapat warisan komputer dari kakak, itupun Pentium 1 pakai Windows 97. Selang beberapa waktu nemu CD booting Millenium Edition (ME) akhirnya dicoba dan akhirnya sukses. Dan hari-haripun diisi dengan ME.

Yang namanya bosan pasti selalu melanda manusia. Waktu itu ada adik tingkat menemukan majalah InfoLinux jadul yang masih ada bonus CD-nya. Isi CD salah satunya adalah distro minimalis Linux yang namanya DSL (Damn Small Linux) tapi lupa versinya, di majalah itu juga disertakan cara membuat CD booting buat DSL-nya. Kita bersama-sama pun coba install itu DSL, hasilnya cukup keren (bagi kami). Dengan hanya butuh 1 MB saja, sudah bisa untuk instal DSL. Saya pun ikut menginstal DSL itu berdampingan dengan ME di Pentium 1. Tapi karena pemakaian DSL kaku (mungkin karena otodidak, tidak ada master Linux pendamping yang mengajari), ribet, tiap buka program, harus ketik teksnya, lagipula Linux itu miskin game, maka sudah bisa ditebak, sebagian besar waktu dihabiskan memakai ME, paling-paling DSL dibuka kalau mau scan virus disket (waktu itu belum jamannya flashdisk, maklum di desa).

Ketika sudah kerja dan gajian pertama, langsung beli notbuk murah meriah. Sebenarnya notbuknya kosongan alias belum ada OS-nya, sama penjualnya dikasih bonus OS yakni XP dan selama 2 tahun itu XP setia menemani, walau ketika sedang kena virus bikin stres, karena kalau anti virus dipakai buat scan, pasti ada saja file-file system yang terhapus dan akhirnya harus recovery lagi bahkan install ulang.

Suatu ketika ada teman yang menceritakan soal Linux Mint yang katanya keren. saya kemudian dikasih dua CD booting dengan penjelasan masing-masing versinya yang saya sendiri masih bingung, masuk telinga kiri, mental lagi keluar telinga kiri. Apa boleh buat, kedua CD itu saya terima dan disimpan di tempat CD hingga berbulan-bulan lamanya tak tersentuh, berdebu dan terlupakan. Lagipula bayangan masa lalu pakai DSL masih membekas, tidak tahu caranya install aplikasi, ribet harus buat swap, apa itu mount, terminal dan yang terpenting: GAMENYA MANA?

XP kembali menjadi teman setia menjalani waktu. Namun tetap saja kesabaran ada batasnya, lagi-lagi masalah virus, sempat terbersit untuk kembali menjajal Linux, tapi bayangan kerepotannya masih tetap ada. Setelah berhari-hari berpikir, bayangan kerepotan itu terkalahkan oleh adanya virus di Windows. Dengan semangat 45, kembali bongkar-bongkar tempat CD, mencari CD Linux yang katanya keren itu. Pertama dicoba satu CD, di sampul CD belum ada judulnya. Tak mengapa yang penting install dulu. Setelah diinstall baru tahu kalau itu adalah Linux mint 9 bernama ISADORA. Tampilan cukup keren, mirip Windows, bahkan ada aplikasi Wine yang bisa untuk membuka .exe, itu artinya aktivitas game Windows jalan terus, hore. Setelah sekitar 4 hari-an, terpikir juga untuk bagaimana cara mengoneksikan ke wifi atau modem. Cukup heran juga karena cara-cara install modem sudah sesuai dengan petunjuk, tanya teman juga sama, bahkan katanya tak perlu install, sudah otomatis konek, cuma daftar negara dan setingan GSM-nya, tapi tetap saja tidak bisa. Coba ke tempat teman yang pintar Linux yang rumahnya bisa wifi-an, tetap sama, notbuknya dia pakai Ubuntu, bisa detek wifi, tapi notbuk ISADORA ini tetap tidak bisa. Stres muncul. Terus dicoba install ulang itu ISADORA, tetap tidak bisa, apakah karena namanya ISADORA akibatnya menjadi DO RA ISO? Lagi-lagi kepikiran untuk migrasi lagi ke XP.

Setelah itu berhasil cari-cari CD booting XP, install dan beres. Oh ternyata belum beres, CD XP-nya bukan yang notbuk edition, jadi masih harus instal VGA, sound, belum lagi aplikasi penting seperti Office, dll. Tambah stres sambil membandingkan Linux yang sekali instal sudah otomatis ada aplikasi-aplikasi yang dibutuhkan. Sampai saat itu masih belum kepikiran kalau masih ada satu CD Linux lagi yang belum dicoba.

Ketika itu notbuk saya masih tetap pakai XP bisu yang resolusi gambarnya kecil (belum install sound dan VGA). Geledah-geledah lagi brankas CD untuk cari itu driver macam-macam. sampai ketemu CD yang bentuknya sama seperti CD booting Isadora, langsung seketika itu teringat kalau itu CD Linux Mint versi yang lain dari Isadora. Masih pikir-pikir lagi, mau lanjut tetap pakai XP dan mencoba instal Mint versi ini?

Karena dengan pertimbangan instal Linux itu cepat, kalau tidak puas tinggal install lagi XP-nya, maka keputusan pun diambil: instal Linux mint versi lain ini. Instalasi beres, buka aboutnya. Linux ini kelanjutan dari Linux Isadora, yakni Linux Mint 10: Julia. Meskipun tampilannya agak jelek dari Isadora, tidak ada Winenya, yang terpenting sekarang adalah koneksi internetnya, langsung modem GSM ditancap, oh ajaib, langsung ngedetek, langsung diminta registrasi negara dan jenis GSM-nya, hore langsung konek.

Asal sudah bisa koneksi internet, menginstal apa saja mudah, Wine, themes, dll. Semua sudah terbalut paket-paket. Lalu kapan migrasi OS lagi? Sepertinya Julia ini cukup menyenangkan dan memabukkan (apa gara-gara Wine ya?), tidak akan migrasi dulu ah…

***

Iklan

2 pemikiran pada “Migrasi

  1. astaga, berapa kali gonta ganti tuh?

  2. hahahaha….. sama dulu aku sering gitu…. make windows, masalah virus nyoba linux, ribet, ganti windows, masalah virus lagi, ganti linux, sampe akhirnya di install dual OS ini laptop Windows sama Ubuntu.
    sampe sekarang aku selalu makek Ubuntu kalo lagi boring sama windows begitu juga sebaliknya. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s