Pohon Tumbang dan Ceritanya

Sebuah cerpen

Di suatu siang yang garang, sebuah pohon di pinggir sungai

kegerahan. Dia mulai mengibas-ibaskan telapak daun di

dahannya yang kecil. Matanya terpejam, karena tak mampu

lagi menentang kemilau kuningnya sang mentari. Pohon itu

merasa matanya telah buta. Kelopak mata kulit kayu miliknya

sudah kering dan pecah-pecah dan sudah pasti tertembus oleh

sinar matahari. Telapak-telapak daun juga ikut membantu

menahan terjangan sinar matahari yang menyerang, tetapi

tetap sinar itu masih saja menjalar menembus matanya. Pohon

itu telah menyangka, inilah akhir hidupku, mataku hampir

buta, getahku mengering, semua gara-gara matahari panas

kuning sialan itu. Tetap bagaimanapun ia masih bersyukur.

Untung saja akar-akarnya masih mencengkeram erat tanah.

Untung saja ia masih diberi kesempatan untuk menyeruput

butiran-butiran air sungai yang mengalir di dekat jemari

akarnya. Untuk saat ini, pohon kecil itu masih bisa

bertahan di tengah terpaan panas yang dialaminya.


Di tengah hujan cahaya matahari yang menusuk-nusuk kulit

bagaikan ribuan jarum, pohon kecil itu merenung dengan

berbagai pertanyaan yang menjelma menjadi kabut dan

kemudian menyelubungi pikirannya. Bagaimana bisa aku lahir

di tempat seperti ini ? Dia melihat sekelilingnya. Di

depannya ada sungai kecil dengan air yang terus

mengeluarkan suara gemericik tak habis-habis. Di samping

kiri dan kanannya hanya ada batu-batu besar yang menutupi

pandangannya. Selama ini yang dia lihat hanyalah sungai

kecil yang curam, di bawahnya lagi ada kubangan besar dan

di bawahnya lagi ada kubangan air yang lebih besar lagi.

Pohon itu kembali mengulang pertanyaannya, bagaimana bisa

aku tumbuh di tempat seperti ini ? Kenapa hanya aku

satu-satunya pohon di tempat ini ? Mana pohon yang lain ?

Ketika seekor bangau mendarat di kubangan air dekat akarnya

untuk meminum air di situ, si pohon memberanikan diri untuk

menanyakan pertanyaan, Bagaimana bisa aku tumbuh di

tempat seperti ini ?

“Ha ha ha ha… .” Tawa bangau tergelak. “Dasar pohon yang

bodoh, sampai setinggi ini kau masih tak tahu bagaimana kau

bisa di sini ?”

Si pohon mulai kesal, ia ingin sekali memukul bangau yang

sekarang sudah terbang mengelilingi si pohon dengan tawa

yang mengejek, tetapi untuk menggerakkan dahannya saja ia

sudah kesulitan, tubuhnya sudah mengering terpanggang

jilatan api matahari, bisa-bisa tangan dahannya malah

patah.

“kuberi tahu kau, bisa saja kau berada di sini karena kau

dulunya adalah benih yang terbawa hembusan angin jauh

terpisah dari rahim ibumu.” Ujar bangau sambil bertengger di

lengan dahan si pohon. “Atau juga mungkin dulunya kau

adalah benih makanan burung lain dan kau termasuk beruntung

karena tak jadi tinggal di perut burung itu, tetapi kau

terjatuh di sini dan tumbuh di sini.” Lanjut bangau sambil

mengepakkan sayapnya dan kemudian terbang bergabung dengan

teman-teman bangau-nya yang lain.

“Beruntung ? Beruntung apanya ? Lebih baik aku mati di

perut burung sewaktu aku masih menjadi benih daripada aku

merasakan gigitan-gigitan sinar matahari dan juga

kungkungan dinding batu-batu besar di belakangku yang

memenjara pandanganku.” Kata si pohon memprotes jawaban

bangau.

Pohon itu tertunduk dengan mata yang masih terpejam sambil

menikmati sinar matahari yang bagai pisau mengiris-ngiris

kulitnya. Tiba-tiba dirasakannya ada naungan hitam yang

menutupi kelopak kulitnya. Tiba-tiba saja kesejukan

merasukinya. Sebelumnya ia menyangka ada segerombolan awan

yang membentengi panah-panah sinar matahari yang menusuk

kulit. Setelah ia melihat ke atas, ternyata bukan. Yang

dilihatnya adalah bayangan seperti burung besar dengan

sayap yang lebar dan berputar-putar semakin ke bawah, ke

arahnya. Ternyata makhluk itu bukanlah burung, tapi mirip

burung dengan sayap besarnya ada tiga helai. Mahluk itu

kemudian jongkok di tepian kubangan air sungai dan meminum

air yang ada di sana. Si pohon tertegun, makhluk apa ini ?

Rambutnya panjang berwarna hitam, tubuh serta

sayap-sayapnya berwarna putih, makhluk apa ini ? Bentuknya

seperti manusia, tetapi bersayap. Si pohon tenggelam dalam

kata-kata pikirannya sendiri.

Setelah puas meminum air, makhluk putih bersayap tiga ini

melihat ke sekelilingnya. Dilihatnya ada sebatang pohon di

dekatnya, ia menghampiri pohon itu kemudian menyandarkan

punggungnya ke kaki-kaki si pohon. Sayap-sayap makhluk itu

membelai kaki si pohon seolah menutupi kaki-kaki pohon dari

tikaman sinar matahari. Sebenarnya si pohon merasakan beban

yang teramat berat menindih kakinya, tetapi belaian sayap

yang lembut dari makhluk ini begitu menentramkan hatinya.

“Perkenalkan aku adalah bidadari, mohon biarkan aku tidur

sebentar di sini.” Makhluk itu berbicara kepada pohon.

Tanpa perlu mendengar ucapan si pohon yang

tenggorokannyapun sebenarnya tercekat, si bidadari putih

ini langsung tertidur. Si pohon belum pernah merasakan

dadanya bergetar begitu hebat. Dilihatnya wajah bidadari

yang sedang tertidur itu, begitu jelita melebihi jelitanya

permukaan sungai yang ada di hadapannya.

Dahan-dahannya yang semula kaku kini mencair. Ia membalas

belaian sayap dari bidadari dengan belaian serta bisikan

gesekan gemerisik daun-daunnya. Si pohon merasa

melayang-layang, bagaikan dirinya pun memiliki sayap

seperti sayapnya bidadari. Ia juga ikut tertidur dengan

mimpi-mimpi indah bersama bidadari putih itu. Dirasakan di

mimpinya tubuhnya berubah menjadi mirip dengan bidadari,

dengan wajahnya tampan, dengan kulitnya yang coklat lengkap

dengan sayapnya yang berwarna hijau. Rupanya daun-daun

hijau miliknya saling menyatu dan berarak membentuk dua

sayap hijau yang indah. Pohon yang telah menjelma menjadi

bidadara tampan itu terbang, dahannya memeluk pinggang si

bidadari, sedang sayap-sayap hijaunya mengepak-ngepak

bersama-sama dengan sayap-sayap putih bidadari. Hingga

mereka berdua sampai pada ranjang pelangi, didudukkannya si

bidadari di tepi ranjang warna-warni itu dan mereka berdua

bermesraan dengan ditutupi selimut sayap-sayap mereka yang

putih dan yang hijau sampai matahari tersenyum sambil

mengenakan jaket senjanya yang oranye.

Mimpi si pohon kemudian berakhir, juga kenangan mimpi

bermesraan dengan bidadari putih berakhir karena si pohon

terbangun. Dilihat ke arah kaki-kakinya, rupanya bidadari

putih telah pergi. Si pohon kecil merasa bahwa ada yang

aneh dengan dirinya, iya memang ada yang aneh dengan

dirinya. Dirasakannya tubuhnya condong ke depan, ke arah

sungai. Ah… . pasti ini gara-gara disandar oleh bidadari

yang berat siang tadi. Namun semakin dirasa dan dirasa

tubuhnya semakin condong, ia hampir rubuh ! Jemari-jemari

akarnya mencakar-cakar tanah, tetapi tak berhasil.

Kreaaak….. .Brukkk ! Byuuurrrr ! Akhirnya ia pun jatuh ke

kubangan air sungai. Dirasakan tubuhnya basah, air mulai

memasuki relung-relung kulit kayu yang hampir terkelupas

terkena panas siang tadi. Memang yang pertama dirasakannya

adalah kesejukan, tetapi lama-kelamaan, seiring pulangnya

matahari senja ke sudut barat bumi, dirasakannya dingin

yang menggigil serta sesak nafas karena hidung-hidung

di dedaunannya yang hampir semuanya tercelup ke dalam

kubangan sungai. Ia tak sadarkan diri hingga keesokan pagi

saat matahari menyapanya ketika berangkat dari rumah

timurnya.

****

Pagi itu, di kaki sebuah bukit, di sebuah kubangan air

sungai, telah mengapung sebuah tubuh pohon. Pohon itu masih

bisa hidup dengan bernafas lewat daun-daun kecil yang

rupanya masih ada yang menyembul ke permukaan air. Tetapi

pohon itu kemudian sadarkan diri, dirasakan tubuhnya basah

dan dingin, dingin karena sisa-sisa embun semalam.

Dirasakannya pula kerendahan pandangan, dia hanya bisa

melihat ke permukaan air, juga ke angkasa yang biru dan

berawan. Selain itu ia tidak bisa melihat apa-apa lagi. Ia

memejamkan mata dan sedikit demi sedikit kembali tertidur,

tertidur pada ranjang air dan terus dan terus mengapung dan

mengapung. Dirasakannya pula kaki dan jari-jemari akarnya

semakin ringan karena bongkahan-bongkahan tanah di

sela-sela jemari akarnya telah ditarik-tarik oleh ribuan

butiran air sungai agar terlepas dan menuju ke dasar

sungai. Sekarang ia mengapung hingga siang menjelang dan

memaksanya untuk merasakan kembali panas menyengat dari

sang mentari.

Matahari siang nan kuning menyebarkan sinarnya merata ke

seluruh permukaan bumi yang terkena sinarnya. Hanya

awan-awan putih saja yang bisa mengurangi panasnya. Sinar

matahari itu juga sampai ke kubangan sungai tempat si pohon

tumbang dan mengapung. Sinar matahari itu memantul dan

berkilatan ketika telah sampai di permukaan sungai. Si

pohon tumbang sempat membuka matanya, tapi yang

dirasakannya hanyalah silau hingga ia hanya membuka mata

dibalik sisa-sisa dedauan yang belum tercelup oleh air.

Dilihat olehnya adalah sekumpulan monyet-monyet yang

berenang riang gembira dan ada diantara mereka yang menaiki

perut pohon tumbang dan terpeleset jatuh dan mereka

tertawa-tawa gembira sambil menciprat-cipratkan air hingga

bulunya basah semua. Pohon tumbang itu merasa bahwa dirinya

belumlah mati seluruhnya, buktinya ia masih bisa merasakan

kaki-kaki si monyet ketika menginjak-nginjak punggungnya,

ia masih bisa merasakan panasnya mentari di punggungnya dan

ia masih bisa juga merasakan hangatnya air sungai di

perutnya. Iya, hanya itu saja, tidak ada pemandangan lain.

Si pohon tumbang kembali tertidur setelah menahan panasnya

matahari di atasnya. Sesekali ia terbangun, tetapi ia tak

tahu kenapa bisa terbangun. Ingin sekali ia terus dan

menerus tidur tanpa merasakan bangun. Ia merasa dendam

dengan bidadari putih kemarin, yaitu bidadari yang telah

menyandarkan tubuhnya hingga sekarang si pohon tercerabut

dari tempatnya dan sekarang tumbang dan mengapung. Tapi ia

juga ingin berterima kasih dengan bidadari putih itu,

karena jasanya, ia sekarang telah tumbang dan tinggal

menunggu detik-detik kematiannya.

Pohon tumbang itu bosan karena belum juga ia mati. Setelah

sekian lama tertidur, akhirnya ia membuka mata. Dilihatnya

matahari tinggal setengah di dinding langit sebelah barat.

Warnanya tidak lagi kuning, juga bukan oranye, tetapi

merah. Dilihatnya pula sekelompok rusa beramai-ramai minum

air di kubangan sungai tempat dirinya mengambang. Rusa-rusa

itu berwarna merah karena bulu-bulu coklat licinnya

memantulkan sinar matahari yang merah. Setelah

memperhatikan dengan seksama, dengan sisa-sisa kekuatannya,

si pohon tumbang melihat sosok seperti bidadari putih

jongkok sambil minum tertutup oleh sekumpulan tanduk-tanduk

rusa. Tetapi bidadari ini berbeda dengan bidadari kemarin,

tubuhnya merah, sayapnya merah dan rambutnya juga merah.

Tubuhnya lebih kurus daripada bidadari putih kemarin.

Sayap-sayap miliknya juga berbeda dengan sayap bidadari

putih. Sayap bidadari merah di depannya ada sekitar delapan

helai, empat di kiri dan empat di kanan. Bentuk sayapnya

juga berbeda, lebih menyerupai daun-daun tipis dan

transparan. Lebih mirip sayap kupu-kupu, sedangkan bidadari

kemarin sayapnya begitu lebar dan lebat di tumbuhi

bulu-bulu lembut, seperti sayap miliknya burung.

Matahari merah itu kemudian lenyap, rusa-rusa pun ikut

pergi entah kemana, sekarang tinggal mereka berdua :

bidadari kecil itu dan si pohon tumbang. Tubuh bidadari

kecil ternyata tidak berwarna merah, tetapi merah muda,

sedang mulut bidadari kecil itu masih terus saja meminum

air sambil sesekali melihat ke arah pohon tumbang yang

mengapung di depannya. Bidadari itu melihat kiri dan

kanannya, sepi, rusa-rusa itu sudah hilang dari pandangan.

Bidadari itu kemudian berdiri dan mencelupkan kakinya ke

kubangan. Dia terus mencelupkan kaki kecilnya hingga

seluruh kakinya terbenam. Tidak itu saja, rupanya ia ingin

berendam, ia menceburkan dirinya hingga tercelup semuanya

sampai pada sayap-sayapnya. Kembali bidadari mungil itu

melihat pada batang pohon yang mengapung di dekatnya,

kemudian didekatinya batang pohon itu, dipeluknya dan naik

duduk di atasnya. Kemudian menceburkan dirinya lagi dan

kemudian memeluk tubuh pohon itu lagi.

Belum pernah si pohon merasakan lembutnya kulit si

bidadari. Ia masih ingin hidup untuk bisa merasakan lebih

lama sentuhan kulit pohon miliknya dengan kulit si

bidadari, tetapi apa daya getahnya semakin mengerontang,

daun-daun nafasnya telah kering berguguran, tercecer

mengikuti arus sungai, tak mungkin lagi bisa berbunga, tak

mungkin lagi bisa wangi. Sekarang ia menunggu tubuh kayunya

lumat dan remuk dimakan waktu sambil merasakan kenikmatan

terakhir bersama bidadari kecil di sampingnya. Sebentar

lagi ia mati dan ia teringat saat-saat masih perkasa. Ia

masih teringat saat-saat masih tegak menjulang. Sekarang

pohon tumbang itu menangisi nasibnya. Air matanya mengalir

dan menyatu dengan aliran air sungai.

Malam telah menjelang, bintang-bintang menampakkan dirinya

di kolong langit. Bidadari kecil itu merasa dirinya telah

cukup berendam di kubangan itu. Ia kemudian mentas ke

daratan sambil mengibas-ngibaskan kedelapan sayap kecil

panjangnya. Ia lalu berjalan dengan kaki mungilnya.

Sayapnya masih terlalu basah untuk mengepak-ngepak terbang.

Baru saja bidadari kecil nan merah muda itu melangkah

beberapa meter, ia berhenti. Dengan tiba-tiba, ia

membalikkan badannya dan berlari menuju ke sungai tempat

pohon tumbang itu terdampar. Ia kemudian menceburkan

dirinya lagi ke kubangan sungai tempat si pohon tumbang

berendam. Dengan susah payah bidadari bersayap seperti

kupu-kupu itu mendorong tubuh pohon itu ke tepian. Setelah

itu ia naik ke daratan dan menarik akar-akar si pohon agar

sampai ke daratan. Sedangkan si pohon terkejut karena ada

yang menarik-narik jari-jemari akarnya. Sungguh dengan

susah payah si bidadari kecil itu membawanya sampai ke

daratan di sampingnya.

“Kulihat kau masih memiliki sedikit dedaunan yang hijau.

Kulihat juga jemari-jemari akarmu besar dan panjang.

Seharusnya kau tumbuh di samping kubangan sungai ini, agar

siang besok dan siang-siang seterusnya kau bisa memayungi

dan meneduhkan sungai ini.” Kata si bidadari kecil itu

kepada si pohon. “Semoga kau masih bisa hidup setelah kau

kutanam.” Lanjut Bidadari mungil. “Lalu aku akan terus

berada di sini tiap hari, dalam naunganmu.”.

Bidadari itu kemudian menanam pohon itu dengan sekuat

tenaganya. Walau tubuh si pohon masih bersandar pada batu

besar di belakangnya, tetapi jemari kaki-kaki akarnya telah

terkubur oleh tanah. Bidadari kecil kemudian mencuci tangan

dan kaki mungilnya ke sungai, lalu ia tertidur kelelahan

dengan bersandar pada pohon yang sudah ditanamnya. Sang

pohon membalasnya dengan mengatakan, “Demi warna malam yang

hitam, demi warna merahnya senja, aku akan berusaha untuk

tetap hidup dan akan meneduhkan kau atau siapa saja yang

berada di bawahku.”.

Akhirnya si pohon juga ikut memejamkan matanya

bersama-sama dengan bidadari kecil ditemani suara gemericik

sungai dari mata air bukit. Juga ditemani bintang-bintang

yang bertengger di tembok langit. Angin malam juga turut

membelai daun-daun milik pohon yang tadi tumbang menjadikan

daun-daun si pohon yang tadinya basah menjadi kering dan kembali dapat

berbisik dengan gemerisik bagai simfoni musik yang megah.

Angin malam menjadikan pohon itu dan

bidadari kecil, semakin terlelap.

***

Iklan

16 pemikiran pada “Pohon Tumbang dan Ceritanya

  1. Itu foto sendiri pohonnya?
    Cantik banget!

  2. salam kenal browww, kunjungan perdana neh ^^

  3. menarik
    bagus dan baik
    u pintar memilah sesuatu hal yang terjadi disekitar kehidupan ini menjadi lebih menarik
    salam hangat dari blue

  4. pohonnya di mana nih

  5. ahhhh aku paling bego nulis dan memahami yang beginian.. Tapi aku suka mbacanyaaa 😀

  6. Menarik bgt sob..
    Ga sia” baca panjang”..

    *Kunjungan malam..
    salam persahabatan..

  7. cantik kata dan pohonnya 🙂

  8. pengen juga liat pohon yg matanya bs terpejam….
    hehehee

    tulisannya keren 😛

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s