Imajinasi Adalah sampah

Sebuah cerpen

“Kau pernah mendengar nama John Nash?” tanya Edwin kepada Herman suatu hari, Herman adalah teman sekamarnya Edwin di asrama mahasiswa belakang kampus.


“Tahu, itu kan si Beautiful Mind?” jawab Herman.
“Kalau Smeagol?”
“Sebentar…Smeagol…Smeagol…oh…makhluk aneh di Lord Of The Ring. Kok tanya-tanya seperti itu, ada apa?”
Edwin tak bicara lagi. Ia membalikkan tubuhnya ke kanan, menghadap tembok. Dia sedang berbaring di ranjangnya, sedangkan Herman masih menekuni pekerjaannya, mereparasi radio.
“Kalau musuhnya Spider-man yang pakai topeng hijau dan terbang naik jet, kau tahu?”
“Oh… Green Goblin… iya tahu, memangnya ada apa ini? Apa ini cerdas cermat?” jawab Herman seraya tersenyum ke arah Edwin.
Edwin masih tetap berbaring. Dia merebahkan tubuhnya terlentang, menatap langit-langit kamar dan berkata, “mereka semua orang-orang aneh, mereka itu tokoh-tokoh yang kesepian yang menciptakan teman khayalan.”
“Kau benar, di samping itu mereka juga punya masalah lain, punya kepribadian ganda, kepribadian yang satu berusaha mengalahkan kepribadian yang lain.”
“Ah, iya…tapi sudahlah, sebaiknya kau selesaikan saja radiomu itu sampai selesai. Aku capek hari ini, mau tidur.”

*

Keesokan siang, Edwin sudah pulang dari kampusnya. Ia masuk ke asrama, naik tangga ke lantai dua, dan berjalan melewati kamar-kamar yang lain menuju ke kamarnya yang berada di ujung belakang.
Dia telah sampai di depan kamarnya, dibukanya pintu kamar, ia masih melihat Herman masih mengutak-ngatik radio di meja. Edwin langsung merebahkan diri, terlentang di ranjang, walau tas ranselnya masih melekat di punggung. Sambil matanya terpejam, ia berkata lirih, “Her, sudah lama aku curiga sama kamu.”
Herman menghentikan aktivitasnya, kepalanya menoleh ke Edwin, tapi Edwin masih terpejam.
“Curiga apa?” tanya Herman.
“Masih ingat pembicaraan kita kemarin? Dan hari sebelumnya? Waktu itu kita berdua pinjam film yang judulnya ‘Secret Window’ yang bintangnya Johny Depp?”
“Hm…” Herman mengingat-ingat,”ooo…tentang penulis novel yang berubah jadi gila karena punya musuh khayalan yang menjiplak ceritanya, juga karena istrinya selingkuh. Iya khan ?”
“Ha…ha…ha… sebenarnya…” Edwin tertawa kecil, tapi masih memejamkan matanya sambil otaknya berusaha merangkaikan kata-kata yang sesuai, “sebenarnya aku sudah curiga denganmu, kenapa setiap bertemu kamu, kamu selalu mengutak-ngatik radio yang sama bertahun-tahun dari yang lalu sampai sekarang, lalu kenapa semua penghuni asrama ini tidak pernah ada yang mengenalmu atau bahkan sekedar pernah melihatmu, kenapa teman-teman asrama sudah menganggapku gila karena sering melihatku bicara sendiri. Aku sudah tahu. Dua hari yang lalu, sebelum kau masuk ke kamar ini, aku sudah menyiapkan handycam yang kupasang di atas lemari, kustel rekam otomatis dan aku menunggumu masuk kamar sambil tidur-tiduran. Setelah itu kau datang, membuka pintu dan langsung menuju ke mejamu dan meneruskan memperbaiki radio,”
Herman memperhatikan dengan seksama, Edwin melanjutkan lagi, “kita kemarin bicara tentang film dengan orang-orang gila,”
Herman mengangguk. Edwin melanjutkan, “hm… siang ini aku ke tempatnya Juki untuk mentransfer rekaman handycam itu ke komputernya, lalu…”
”Tunggu, bukankah di sini juga ada komputer, kenapa harus ke tempatnya Juki?” Herman memotong.
“Benar sekali, itu supaya engkau tidak tahu, bukankah kau selalu ada di kamar ini? Juga sebenarnya handycam itu sudah ada layarnya tapi sudah buram dan kecil, sama sekali tidak jelas. Ini dia,” kata Edwin sambil mengeluarkan handycam abu-abu kecil dari dalam ranselnya, ia lalu menghidupkan komputernya, memasang kabel transfer dan menyiapkan semuanya. Ia berkata lagi, “lihatlah…lihatlah baik-baik!” kata Edwin sambil mengarahkan layar monitor ke arah Herman. Selama beberapa menit mereka berdua melihat ke dalam monitor, melihat rekaman kemarin. Dan benar. Di sana Edwin bicara sendiri sambil terlentang, sedangkan meja dan kursi yang harusnya berisi Herman dan radionya, ternyata kosong.
“Lihatlah…lihatlah ke dalam monitor, aku bicara sendiri, LIHATLAH AKU BICARA SENDIRI !” teriak Edwin.
Muka Edwin yang tadi ramah berubah menjadi beringas. Tiba-tiba tangannya mencengkeram kerah baju Herman, namun yang terlihat di pantulan kaca jendela kamar adalah Edwin yang mencengkeram kerah bajunya sendiri. Di mata Edwin – saat ini – dirinya dan Hermanlah yang sedang berguling-guling di lantai.
Edwin berkata kepada Herman, “aku harus membunuhmu Her, supaya aku bisa bebas dari kegilaan ini,”
Herman tampak ketakutan, dan menjawab dengan gemetaran, “Tung… tunggu… tunggu dulu… bukankah kita bisa berteman saja, bukankah aku selama ini tidak mengganggumu? Bukankah aku tidak pernah menentang ide-idemu? Bukankah kita selalu seiya-sekata? Kau sudah lihat di film-film yang pernah kita tonton bersama, mereka yang ada di sana adalah orang yang punya dua sifat, yang satu pemberani, yang muncul karena sebelumnya ada sifat pengecut, dan sifat pemberani inilah yang mengalahkan sifat pengecut. Mereka-mereka itu tersiksa karena ada pertentangan batin di dalam diri mereka sendiri. Tapi lihatlah kita. Kita tak pernah bertengkar, aku selalu menghormati pemikiranmu. Memang aku akui kalau aku adalah teman khayalanmu, aku adalah ciptaanmu. Kumohon, tolonglah, aku masih ingin bersamamu…”
Edwin masih mencengkeram kerah Herman. Matanya yang merah menatap lekat-lekat mata Herman yang ketakutan. Ditariknya Herman, diangkat kemudian didorong ke tembok.
Edwin berkata, “benar, kau sudah banyak menemaniku, tapi sudah saatnya kau hilang dari mukaku, aku harus membunuhmu. MEMBUNUHMU!!!!”
“Tunggu dulu, kau masih ingat sewaktu pertama kali kau menciptakan aku? waktu itu tahun 1997 sewaktu kau lulus dari SMP dan kau kagum pada tokoh pujaanmu, Herman Mc Currie, yang bisa membuat radio yang mampu menangkap siaran satelit. Dan kau sangat ingin melanjutkan sekolah ke STM agar bisa seperti Mc Currie, namun ternyata kenyataan berkata lain. Nyatanya kau dipaksa orangtuamu masuk SMU. Akhirnya kau menciptakan aku. Aku sendiri masih ingat, kau waktu itu bercermin di kaca lemari pakaianmu sambil bergaya bak Herman Mc Currie dengan rambut yang berantakan, tangan kanan memegang obeng, tangan kiri solder, dan kau berkata, “aku adalah Herman, huahahahahaha…””
“Cukup! Cukup…diamlah, memang saat itu aku berambisi untuk menjadi dia,” kata Edwin yang tanpa sadar cengkeraman tangannya melemah, “tapi sekarang aku ingin menjadi arsitek. Masa-masamu telah lewat!” Cengkeraman tangan Edwin kembali menguat dan dia berseru, “aku harus membunuhmu!”
Edwin melepas tangan kirinya. Hanya tinggal tangan kanan yang masih memegang erat-erat kerah Herman. Herman berusaha berontak dengan memukul-mukul tangan kanan Edwin, tapi Edwin masih terlalu kuat baginya. Edwin, dengan tangan kirinya, berusaha mencari-cari pisau cutter biru yang biasa dia pakai. Dibuka-bukanya beberapa laci meja yang ada di dekatnya. Akhirnya dia menemukannya. Segera ia mengambil dan mengeluarkan mata pisaunya. Tanpa ba-bi-bu lagi cutter itu dihujamkan ke perut Herman. Herman menjerit. Ia terjatuh ke lantai, memegangi perutnya yang robek dan menahan darahnya mengucur.
“Akhirnya kau mati Her, tidak ada lagi yang bisa menyebutku gila,” ujar Edwin sambil menarik nafas panjang.
Edwin terkejut. Tubuh Herman telah lenyap, namun sisa-sisa darahnya masih ada di lantai.
Entah bagaimana, kelopak mata Edwin menjadi berat. Sebelum matanya tertutup, Edwin sempat merasakan perih di perutnya. Ada sesuatu berwarna biru tertancap di sana. Kemeja putihnya bersimbah darah.

***
NB: Cerpenku 5 tahun yang lalu.

Iklan

4 pemikiran pada “Imajinasi Adalah sampah

  1. wah bahasanya kelas berat
    masa dari nama nama yang disebutin aku ga ada yang kenal
    hehe

    • ben, digawe abot sisan piye? tokoh karakter emang hanya hidup di imajinasi pencipta cerita, mereka berada di dimensi lain, dimensi asing yang hanya bisa diinetrpretasikan dan diberi nafas oleh pembuatnya. Bla.

  2. wew,, kereeennn
    untung aku pas salah jurusan gak nyampe bikin temen khayalan,, mheheheh :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s