Pengorbanan Idealisme

“Sebuah lembaga, organisasi atau perusahaan dapat diibaratkan sebagai sebuah tubuh manusia. Ada banyak bagian dengan bentuk dan fungsinya masing-masing. Ada yang berfungsi sebagai kepala untuk berpikir dan menentukan kebijakan-kebijakan, ada yang berfungsi sebagai tangan sebagai action-nya, ada yang berfungsi sebagai perut yang mengolah sumber-sumber daya sebagai tenaga penggerak dari kelangsungan hidup sebuah badan, atau ada juga bagian tubuh lain juga dengan fungsinya masing-masing. Lembaga yang sehat tentunya bila semua personil di dalamnya bertindak sebagaimana tugas dan fungsinya sendiri-sendiri dan bisa terkoordinasi dengan baik. Sebaliknya lembaga yang sakit, apabila bagian-bagiannya tidak berjalan sebagaimana mestinya, atau yang lebih buruk, bagian yang satu menyerang bagian yang lain, misalnya sebuah tubuh, bila ada tangan yang mengepal dan memukul-mukul kepalanya sendiri, maka bisa dipastikan tubuh tersebut sedang mengalami stres. Bila ada personil satu menyerang personil yang lain, maka sangat dipastikan, lembaga itu sedang tidak beres dan harus segera dibereskan.”

Kata-kata di atas adalah sebuah nasehat yang saya dapatkan dari seorang teman, ketika saya masih berada di sebuah lembaga mahasiswa sewaktu masih muda dulu (sekarang sudah merasa tua). Waktu itu memang sedang ada permasalahan. Sebenarnya bukan suatu permasalahan, hanya saya-nya saja yang membuat masalah ini menjadi ada. Sebelumnya saya masuk ke lembaga ini sebagai seorang staff humas bagian media yang berkutat di bagian pers release dan pembuatan announcer bagi teman-teman yang akan siaran di radio lokal. Nah, sebenarnya pekerjaannya cukup sedikit, jadi lebih banyak nganggurnya, apalagi tugas kuliah juga cuma itu-itu saja. Dan yang membuat darah muda saat itu bergejolak, setiap harus buat promo ketika ada program baru, harus menunggu dulu rapat tatap muka dari semua personil humas, tidak boleh kalau hanya rapat melalui sms. Apalagi ketua humas saat itu dari MIPA, sekretaris dari fakultas ekonomi, staf-staf yang lain ada yang dari sastra, pertanian dan lain-lain. Untuk menyatukan mereka semua dalam satu rapat tidak bisa mendadak, minimal 5 hari sebelumnya. Rapat pun seringnya satu bulan sekali. Jadi saya berinisiatif membuat promo-promo sendiri yang saya sebarkan sendiri, dan baru dilaporkan kalau ada rapat.

Baru tiga pekan sebar promo ke berbagai instansi, pimpinan humas sudah mengetahui kalau ada seorang stafnya yang bekerja di bawah tanah. Pada rapat humas berikutnya, ketua humas mengumumkan dan membawa juga bukti-bukti kalau ada perilaku yang bertindak tidak sesuai prosedur.

“Tanpa perlu saya sebutkan namanya, mohon apabila bertindak atas nama lembaga, harap bekerja sesuai hasil rapat, jangan bertindak sendiri-sendiri. Ini sudah saya bawa bukti salinannya silakan dilihat. sebenarnya isinya bgaus, tapi ya kalau mau menelurkan sebuah aksi, mohon berdasarkan hasil notulen rapat.” Begitu kata ketua humas yang merupakan senior saya satu angkatan di atas saya, tapi dari lain fakultas.

Saya hanya diam saja. Hanya pada saat terakhir saya usulkan bagaimana kalau rapatnya lebih sering saja. Usul saya ditanggapi beragam, tapi ada satu usul yang saya suka, yaitu dari sesama staf bagian buletin, katanya, “Rapat tidak perlu sering-sering, tugas utama kita di sini kan kuliah. Kalau urusan lembaga ini menyita waktu untuk kuliah, maka saya sih lebih memilih untuk kuliahnya daripada harus mengikuti rapat-rapat seperti ini…” katanya sambil tersenyum.

Rapatpun akhirnya bubar, sambil tetap bahwa hasil kalau rapat formal tiap satu bulan sekali.

Ada lagi satu nasehat yang saya dapatkan dari teman tetap dari satu lembaga kampus, tapi beda departemen. Waktu itu sedang rapat AD/ART, usulnya bagus sekali, yakni tentang efisiensi-efisiensi yang bisa menghemat pendanaan. Tapi ternyata usulnya ditolak oleh ketua rapat. Anehnya dia bisa menerima keputusan rapat dan tetap mengikuti rapat dengan ceria. Ketika break saya menemuinya dan mengatakan kalau usulnya bagus, tapi kalau ditolak, saya pasti memilih tetap membahas usul itu sampai titik darah penghabisan, atau memilih walk out, sambil keluar dari lembaga dan menjadi outsider yang menyerang lembaga tersebut.

Dia menjawab, “saya cukup bahagia bisa masuk lembaga ini dan bisa memberikan kemampuan yang saya punya. bila usul saya ditolak, maka untuk menerimanya adalah sebuah pengorbanan.”

Akhirnya sampai saat ini, ketika saya masuk dalam sebuah lembaga atau perusahaan, saya lebih sering diam, dan mengikuti alur tugas yang diberikan. bila ada kebijakan yang tidak sesuai pemikiran, dituliskan saja di kertas dan disimpan. kalau ditanya melalui survei perusahaan, baru tulisan di kertas itu yang disampaikan. Sesuai kodrat manusia yang sering tidak puas, menerima kritik, walaupun sangat panas di telinga, itu juga pengorbanan. Perilaku pasrah dan menerima sebuah kebijakan yang ada, benar sekali, itu juga adalah sebuah pengorbanan. Pengorbanan idealisme demi berjalan mulusnya sebuah lembaga atau perusahaan. Kalau perusahaan atau lembaga anda mempersembahkan senyumnya pada dunia, maka itu adalah wujud senyum-senyum anda yang bekerja di dalamnya.

Sungguh, postingan ini bukan untuk menasehati, karena memberi nasehat itu sangat lebih mudah daripada melakoni sendiri. Bila ada teman yang punya pengalaman tentang bekerjasama, silakan bagi pengalamannya dalam Kuis bekerjasama bersama-sama.

***

Iklan

18 pemikiran pada “Pengorbanan Idealisme

  1. Tulisan bagus, goodboy goodboy…. *sambil menepuk-nepuk pundak temen, hehehe…
    Sometimes we only can do is be silent, be patient and be carefull… ^_^

  2. dalam sebuah organisasi mmg kita dihadapkan kepada “prosedur2” yang ada….dan ini semua mmg harus ditaati sbg bagian dari konsensus awalnya. Walau mungkin menurut kt agak terlalu bertele2 dan terlalu birokrasi.. mmg itulah namanya sbh organisasi…..:-)
    salam kenal ya ๐Ÿ™‚

  3. Dulu masih ada semangat idealisme menggebu gebu ketika masih muda.. sekarang masih ada tapi kalah sama rutinitas.. Semangat.!!

  4. waktu pertama saya kerja idealisme masih 100 % dalam diri saya, tapi seiringnya waktu dan situasi konsisi idealisme menurun, saya memilih diam dan mengikuti prosedur-prosedur sebuah lembaga, walaupun hal itu terkadang sangat bertentangan dengan keinginan saya.

    Salam kenal ya …. ๐Ÿ™‚

  5. Nice artikel bro…

  6. seperti yg kita kenal SOP dan SOP…
    semangat terus dan selamat hari blogger nasional ๐Ÿ˜€

    salam

  7. Adakalana menyimpan idealisme ditoples kaca,kadang2 bisa diliat lagi, ๐Ÿ™‚

  8. Kunjungan pagi nih… ๐Ÿ™‚

  9. waduh…
    panjang juga nih tulisan…heheheh..

    mari terus bekerjasama brada…

  10. Hmm… kadang aku berpikir yang penting aku bisa mengerjakan tugas2ku sajalah, dan kebijakan2 yang dibuat gak merugikanku, lanjoot kerja aja ๐Ÿ˜€

  11. menarik tulisan anda…salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s