Simon

Hai namaku Simon. Nama lengkapku Si Monster. Yang memberi nama ini hanyalah seorang anak kecil pucat si pemilik blog ini. Awalnya dia memanggilku dengan Monster saja, kemudian karena kebiasaannya dalam memanggil sesuatu selalu ditambah Si di depannya maka jadilah namaku Si Monster. Tetapi karena lidahnya kesulitan dalam mengucapkan Si Monster maka jadilah namaku Simon saja.

Aku tidak tahu berapa umurku sekarang, tapi ada banyak hal yang kulalui bersama anak kecil ini. Ku teringat ketika waktu pertama kali perjumpaanku dengannya. Awalnya aku di buang bersama dua saudaraku yang lain di dalam kardus di salah satu tepi pertigaan di suatu kompleks perumahan pada suatu pagi. Kami bertiga saat itu masih kecil karena baru saja dilahirkan. Saat itu kami menjerit bersama dan menangis bersama hingga muncul anak-anak kecil di kompleks perumahan yang mengerubungi kami dan mengelus-elus kami. Sesudah peristiwa pengerubungan itu, dua saudaraku dibawa oleh anak-anak tadi dan hanya aku ditinggal sendirian di dalam kardus yang telah basah oleh tangisan, keringat dan pipis. Memang bulu-bulu saudaraku lebih bagus dibanding aku yang hitam dan belang-belang ini. Tak lama sesudah itu datang anak bermuka pucat yang memberiku tulang-tulang ayam sisa makanannya. Dia cuma memberikannya. Dia tidak membawaku ikut serta, tapi tak apalah yang penting aku masih bisa makan. Malam harinya aku merasa kedinginan. Kardus ini tak mampu menjadi pelindungku. Aku langsung keluar dan mencari-cari tempat yang nyaman buat tidur. Kakiku telah menyusuri selokan, kebun, dan teras-teras perumahan di kompleks ini sambil mulutku meraung-raung kedinginan, tetapi apa yang kudapatkan, aku mendapat cacian, dan bahkan siraman air dari orang-orang di kompleks ini. Setidaknya tubuhku telah menemukan sebuah tempat yaitu di gorong-gorong selokan sebuah rumah yang berkebun luas. Saat itu aku merasa itulah tempat ter-aman buatku.

Keesokannya aku bangun dan berkeliling-keliling kompleks lagi dan juga meraung-raung lagi berharap ada yang memperhatikanku atau minimal memberikanku makanan sebagai pengganjal kekosongan lambungku. Kegiatan ini berulang terus-menerus sampai tiga hari lamanya. Tempat gorong-gorong yang kurasa aman ternyata tidak aman lagi karena seorang anak kecil bermuka pucat itu telah mengorek-orek gorong-gorong itu dengan sebilah belahan bambu dan tentu saja mendorong-dorong tubuh kecilku untuk keluar dari sini. Tetapi aku masih bertahan sambil menyeringainya, berharap anak kecil itu ketakutan. Tak lama kemudian anak kecil itu menyerah dan meninggalkanku. Ternyata aku salah, ia pulang dan mengambil kepala ikan bandeng yang harumnya bukan kepalang. Kepala ikan itu diletakkannya di pinggir gorong-gorong dan memaksaku untuk keluar dan merasakannya di permukaan lidahku yang di dalamnya telah terbanjiri air liurku. Itu rupanya sebuah perangkap, karena setelah aku keluar dari gorong-gorong, dia menangkapku dan dibawanya aku ke sebuah baskom yang berisi penuh air dan aku dimasukkan ke dalamnya. Tubuhku menggigil sambil menjerit-jerit dan meraih apa saja dengan cakarku agar bisa terbebas dari baskom itu. Dia mencuciku, setelah itu membungkusku dengan handuk tebal, betapa hangatnya saat itu, dan kumerasa dialah malaikat yang sudah mengentaskanku dari kegelapan gorong-gorong. Sejak itulah aku selalu dekat dan senantiasa bermain-main dengannya.

Berbulan-bulan lambat laun fungsi-fungsi tubuhku semakin dewasa termasuk juga fungsi seksualku yang seakan terbakar dan harus disiram dengan kesejukan seekor kucing betina. Sudah tak terhitung berapa dan di mana kumenanam benih-benihku itu ke dalam perut kucing betina, kadang di kebun, di bawah pohon, di bawah kursi taman, di belakang sebuah rumah, di gorong-gorong selokan dan bahkan sampai pernah kubawa kucing cantik ke loteng rumah kepunyaan ortu anak kecil itu. Sudah barang tentu dan sudah barang pasti plafon di rumah itu pecah hingga sampai tiga buah dan itu akibat dari perbuatan liar kami berdua. Anak bermuka pucat itu mulai jengkel kepadaku. Dia sudah tidak memberiku makan lagi, tetapi bila ternyata masakannya pada hari itu adalah ayam atau ikan, aku masih diberinya sisa tulang.

Namun yang namanya asmara takkan pernah padam dan semakin menjadi-jadi, sepertinya semua makhluk hidup sudah di-install oleh apa yang namanya nafsu yang wajib untuk disalurkan. Saat itu, siang itu, tidak ada tempat yang aman dan teduh. Kembali loteng milik rumah ortunya anak itu menjadi sasaran tempat buat aku dan seekor kucing betina tiga warna kepunyaan tetangga untuk menyalurkan nafsu birahi yang meluap-luap. Sudah bisa ditebak, kembali enternit di teras loteng pecah.

Malamnya aku mendengar amarah dari ortu anak kecil bermuka pucat itu.

“Kalau kucing bengal itu tidak kamu buang, ada berapa lagi enternit yang harus pecah ? Dan kalau terjadi lagi, kamulah yang harus mengganti kerusakan enternit-enternit pecah itu !” bentak ibunya anak itu.

“Baiklah, akan kubuang Simon besok pagi”

Keesokannya saat aku sedang terlelap, anak itu membawaku menaiki motor menuju ke sebelah barat kota. Pastinya aku memberontak, tetapi cengkeraman anak itu demikian kuat sehingga aku tak berdaya. Dia kemudian menurunkanku di dalam rumah sakit Marga Husada sekitar tiga kilo-an dari rumahnya. Dasar anak kecil yang bodoh, tempat ini sebenarnya adalah restoran favoritku saat aku kelaparan. Banyak makanan enak-enak sisa makanan para pasien yang dibuang di rumah sakit ini. Dan tentu saja perjalanan dari rumah sakit ini ke rumahnya sudah kuhapal di luar kepala. Tetapi aku menyambut niat baik anak itu, ia mencarikanku tempat yang terjamin untuk perutku ini.

Sudah tiga hari aku tidak pulang ke rumah anak itu. Aku rindu padanya, lagipula rumah sakit ini telah menjadi daerah kekuasaannya kucing jabrik gendut bos mafia perkucingan atau dengan kata lain daerah ini tidak aman buatku. Aku memutuskan untuk kembali ke rumah anak itu. Sesampainya di sana betapa terkejutnya anak kecil itu melihatku lagi.

“Dasar kucing ndableg, kenapa kau bisa kembali ke sini lagi, walaupun sebenarnya aku rindu padamu, tapi bagaimanapun kau harus pergi karena tak akan ada lagi yang bisa merawatmu, sebentar lagi aku akan kerja di luar kota, dan aku takkan bisa membawamu!” teriaknya kepadaku.

“Meong…” jawabku

“Lihatlah baru saja tiga hari kamu sudah kena gudikan dan kudisan begitu… ”

“Meong…” jawabku lagi

“Aku akan membawamu lagi ke suatu tempat yang jauh tetapi akan terjamin keselamatan perutmu.” Lanjut anak kecil itu.

Dibawanya sebuah kardus dan dimasukkannya aku ke dalamnya. Lalu dinaikkan ke motornya dan kurang lebih selama 20 menit mataku tak bisa melihat apapun selain hitam gelap dan pengap. Aku takkan bisa mengenali lagi jalur-jalur perjalanan yang dilaluinya. Kemudian dia berhenti dan menurunkan kerdus itu. Sekelebat aku melihat seberkas cahaya masuk dari tutup kardus, tanpa berpikir panjang, karena aku sebagai hewan tak punya pikiran, kumenerobos tutup kardus itu sampai ke dunia di luar kardus.

Betapa terkejutnya aku. Tempat ini seperti surganya bagi para kucing, wangi tempat ini memabukkan. Ini adalah pasar ikan ! BAYANGKAN INI ADALAH PASAR IKAN !! Aku langsung berlarian riang gembira, karena sejauh mata memandang dan sedalam hidung mencium hanya ada bau ikan. Aku telah berlarian sejauh-jauhnya hingga tak menyadari anak kecil itu telah pergi. Andai bisa kulakukan aku akan berterima kasih padanya. Ini benar-benar surga dunia. Surga dunia bagi para kucing. Aku akan merindukan anak itu. Akan kusimpan kenangan dan wajahnya di dalam memori otakku. Kurasa dia juga merindukanku, karena saat kami masih bersama dia pernah mengatakan padaku kalau dia berangan-angan ingin menjadi sepertiku. Katanya enak menjadi binatang, kau hanya mengandalkan naluri dan hasrat untuk bisa menjalani hidup tanpa harus terjebak dalam sifat-sifat manusia yang menyesatkan. Dan dia bicara banyak lagi, tetapi aku tidak mendengarkannya karena tertidur dalam dekapannya.

Ah… . Aku senang berada di sini, lihatlah di sana ada banyak kucing betina. Aku akan menghampiri dan berkenalan dengan mereka.

“Hai aku Si Monster, cukup panggil Simon saja.”

***

Iklan

23 pemikiran pada “Simon

  1. Whoohoooo kucing kampung lokal yang menawaan! šŸ˜€ šŸ˜€

  2. Hahahaha coba Minori masi ada,pasti tak kenalin,dia cantik,putih abu2,whuaa jadi kangen Minori hiks..

  3. namanya bagus, kepanjangannya serem abis…

  4. Jadi ingat dengan kucing anakku. Beberapa hari hilang dan tidak pernah pulang,pas hari kelima ditemukan tetangga sebelah sudah menjadi bangkai di selokan rumah sebelah šŸ˜¦

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  5. Turut berduka juga atas wafatnya Simoncelli… pembalap urakan yang kalau gak ada dia gak ramai…

  6. penggemar kucing tho..?
    kaya si citra aja sih…

  7. Ngeri kucingnya gan…heheheh

    kunjungan dan komentar balik ya gan

    salam perkenalan dari

    http://diketik.wordpress.com

    sekalian tukaran link ya…

    semoga semuanya sahabat blogger semakin eksis dan berjaya.

  8. simon.. simon..
    kok ga noleh?

  9. Salam kenal buat Simon. eh salah maksudnya yang punya monster. he . . .

  10. kcing saya jga warnany hitam šŸ˜€
    mirip2 dikit
    wkwkwkw

  11. Waaa, kucingnya lucu. Saya juga suka kucing, soalnya :3

  12. kucingnya sangar euy….mirip james bond lagi difoto šŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s