Bahasa Cinta Sang Pelayan

Jiwa yang hebat selalu tersiksa
oleh kontradiksi yang kuat di dalam dirinya.

Itu yang menjadikannya tidak stabil.

Dia tidak yakin tapi keras kepala,
penakut tapi mudah marah,
berapi-api tapi peragu,
pemimpi tapi pesimis,
dan minder tapi tidak mau kalah.

Jika dia berhenti mengeluhkan kelemahan,
dan berfokus mengunakan kekuatan
dalam kesyukuran yang produktif,
gunung pun akan dapat dipindahkannya.

Aamiin
(Mario Teguh)

Alkisah di suatu malam, ada seorang bernama Sakti, duduk di dalam sebuah ruangan kantor. Di depannya ada monitor komputer layar datar. Di samping kirinya ada sebuah mesin penjawab telepon. Di telinganya terpasang headset yang berpadu dengan mikropon di mulutnya. Saat ini ia masih tidak menyangka kenapa bekerja sebagai petugas call centre di sebuah perusahaan penyedia layanan telekomunikasi seluler.

Hingga malam ini, tertera di email pemberitahuan pribadi khusus karyawan bahwa sedang ada cukup banyak permasalahan yang dialami konsumen malam ini, antara lain, konsumen belum bisa untuk mendaftarkan kartu perdana barunya, akses pulsa sedang ada kendala antrian jadi tidak bisa diakses, dan terakhir, tarif gratis sedang ada keterlambatan masa berlakunya, jadi sudah terbayang di benaknya akan cacian, makian dari konsumen yang sejak siang tadi sudah ia alami. Ditambah lagi sistem software untuk menangani kebutuhan konsumen aksesnya sedang lambat, atau bahkan error, jadi semakin bertumpuk sudah masalah di malam hari yang semakin dingin gara-gara ac yang sudah dingin. Gambar wallpaper kantor yang biru menggambarkan aroma laut di sisi kanannya, ataupun wallpaper di sebelah kirinya berwarna jingga beraroma daun-daun musim gugur, sama sekali tidak berpengaruh meredamkan hatinya.

Di saat ada pelanggan masuk ke mesin penjawab telepon yang ada di depan kirinya itu, tiba-tiba Sakti teringat apa yang dikatakan manajernya ketika pertama kali masuk ke perusahaan ini,
“Kalian tahu apa itu CSR? Customer Service Representative? Kata kuncinya ada di service, fungsinya melayani, itu artinya
kalian di sini tidak lebih dari seorang pelayan, mau tidak mau kalian harus menjadi pelayan!”

Kata-kata itu masih terngiang, saya adalah pelayan, pelayan dari orang-orang yang menghubungi saya saat ini, tapi kenapa saya harus menerima omelan ini? Apakah saya bersalah? Tentu tidak, yang bersalah adalah perusahaan ini, begitu pikirnya, perusahaan inilah yang bersalah karena sistemnya tidak mampu memuaskan pelanggan yang menuntut haknya. Tapi melihat sistem ini yang begitu rumit, dan begitu banyak urusan yang harus diurus, perusahaan ini tidak bisa disalahkan begitu saja. Begitu banyak kendala sistem yang tidak bisa tidak harus terjadi.

Atau bagaimana kalau saya salahkan saja pelanggan? Iya, kebanyakan dari mereka tidak puas dengan apa yang mereka dapatkan, mereka selalu ingin lebih dan lebih? Tapi bukankah semua semua dari kita seperti begitu? Semua orang juga begitu. Kau, saya, kita adalah manusia yang apabila apa-apa yang telah kita keluarkan tidak sama dengan apa yang kita peroleh, maka wajar kalau kita protes. Maka konsumen juga tidak bisa disalahkan.

Ada call masuk ke mesin penjawab telepon, maka di sinilah Sakti, di antara pusaran itu. Di dalam lubuk kepalanya saat ini berputar hebat dua bahasa yang mana yang akan digunakannya, menggunakan bahasa perang, yakni menyalahkan konsumen yang tidak pernah puas sembari menyalahkan perusahaan ini yang juga tidak becus menangani konsumen, atau menggunakan bahasa damai penuh cinta, siap menerima hantaman cercaan yang seolah-olah tidak terjadi apa-apa, walau masih terselip rasa takut, bagaimana saat custumer menanyakan hal yang belum pernah ditanyakan sebelumnya. Atau tidak ada keyakinan untuk menjawab permasalahannya, atau masih butuh waktu untuk mencari jawaban, padahal pelanggan membutuhkan waktu cepat.

Jelas sekali takut untuk menjawab. Ingin sekali menjelaskan sesuatu hingga dada ini bergemuruh, menggelegak, berapi-api, tapi saat ragu akan jawaban, menjadi perlahan meredup, ditambah lagi rasa kantuk yang mulai menyerang, yang tidak bisa musnah hanya karena dibasmi segelas kopi, atau masalah gaji yang mepet untuk biaya hidup di ibukota negara ini, atau sekedar untuk ditabung sebagai biaya nikah dan berumah tangga.

Akhirnya dengan penuh smiling voice, berharap-harap cemas, berdoa semoga permasalahan konsumen ini bisa terpecahkan. Dengan penuh syukur masih bisa hidup di dunia dan menjalani pekerjaan ini, sekiranya ia wajib menjawab panggilan telepon itu setenang mungkin, dengan bahasa penuh cinta, ia tarik nafas dan berkata,

“Selamat malam. Dengan Sakti, bisa saya bantu?”

πŸ™‚

***

β€œCerita ini diikutsertakan dalam kontes Bahasa Cinta di Atap Biru”

Iklan

26 pemikiran pada “Bahasa Cinta Sang Pelayan

  1. Wah… Mesti tetap cool saat menghadapi konsumen, meski dalam kondisi apapun ya… πŸ˜€
    Semoga sukses pada kontesnya πŸ˜€

  2. ya memang konsumen itu maunya macam macam…kadang bikin pusing kepala

  3. Kunci dalam dunia service adalah “Under promise, Over deliver..”
    jangan janjikan terlalu banyak, tapi berikan lebih dari apa yang dijanjikan.. πŸ™‚

    makasih ya Sakti, sudah dicatat sebagai peserta.. semoga kesabaran membersamaimu dalam melayani pelanggan.. πŸ˜€

    salam

  4. Oh, ada kontes ya? πŸ˜›

  5. biasanya suara CSR itu bagus-bagus lho mas, hahahaha.. CSR di provider mana mas?? sini sini saya jadi pengen nelp ngasih keluhan mendadak.. hahahahaha πŸ˜€

  6. konsumen adalah raja ? πŸ™‚

  7. saatna kita kuiiisssss πŸ™‚

  8. CSR bukannya Corporate Social Responsibilit ya…. πŸ™‚

  9. He he he. Menyadari diri sebagai pelayan? Kesadaran yang luar biasa, seandainya juga dimiliki oleh pejabat dan aparat negara. Salam kenal.

  10. Eh Sakti call center apa? Saya pernah jg jd call center Telkomsel, tapi udah lama banget, hehehe. Ngerti banget deh permasalahan yang kamu hadapi πŸ˜‰

    • rahasia, nanti kalau dh dipecat baru sakti kasih tau, hehe, senangnya ada yang bisa merasakan pahit getirnya kehidupan cc ini hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s