Menikah Sederhana

aku ingin menikahimu dengan sederhana
seperti sederhananya sajak cinta sapardi joko damono
tentang ibarat-ibarat mencinta dengan sederhana
tanpa perlu ada pertanyaan alasan rumit kuno

aku ingin menikahimu dengan sederhana
seperti sederhananya aku punya hasrat
untuk menjadi seorang lelaki sempurna
yang butuh perempuan sebagai pasangan erat

aku ingin menikahimu dengan sederhana
tanpa perlu segalanya dibuat sulit
kita bicarakan kita punya rencana
rencana yang takkan membuat dahi mengernyit

kita kembalikan arti pernikahan ke makna asalnya
yakni tentang ijab-qabul atau apalah namanya
faktor-faktor yang ada hanya
aku, kau, mahar, penghulu, wali, dan saksi secukupnya

aku dan kau bahagia
menandai ikatan sebagai solusi kehidupan
kita butuh teman-teman untuk berbagi ceria
dan kita undang mereka dengan undangan

tentang masalah undangan tak perlu kau risau
memang pernikahan butuh undangan
agar seluruh dunia yang luas ini bisa tau
kalau kita ternyata adalah sebuah pasangan

bagaimana kalau undangannya didesain, tapi tak perlu dicetak?
undangannya cukup lewat sms, email,facebook atau blog saja
untuk menekan anggaran yang mungkin bisa membengkak
atau cukup disebarkan lewat mulut ke mulut saja

tak perlu kau risau tentang adat mana yang kita pakai
yang penting kau dan aku bersanding layaknya ratu dan raja
yang terikat dan takkan tercerai-berai
di pelaminan dengan busana batik miranda nan bersahaja

tak perlu kau cemas di gedung mana pernikahan kita gelar
kita bisa pakai gedung rumah makan padang raya
karena bila tamu undangan merasa lapar
mereka bisa langsung menyantap apa yang tersedia

tak perlu kau gelisah tentang acara hiburan
cukup kita sediakan mikropon, gitar atau organ
bagi siapa saja yang mau karaoke-an
silakan maju dan buat kita-kita terkesan

aku cuma ingin menikahimu dengan sederhana
karena pikiran ini dipenuh-sesaki oleh syahwat
bagai kereta ekonomi ke depok dari Jakarta kota
saking sesaknya membuat nafas jadi berat tersendat

atau rasa kesepian ini menyebahi
menggigilkan jiwa yang sudah dingin
seperti dinginnya kereta senja progo ekonomi
dari lempuyangan menuju pasar senin

aku hanya ingin menikahimu dengan sederhana
dan membentuk keluarga yang sakinah
ada kau, aku, anak dan rumah sebagai istana
serta tantangan hidup yang tak sudah-sudah

aku mengajakmu menjadi satu
dihiasi rasa malu yang merona
supaya kau tau
aku hanya ingin menikahimu dengan sederhana

***

Iklan

30 pemikiran pada “Menikah Sederhana

  1. terharu bacanya :’)

  2. Saya juga ingin menikah yang sederhana saja,yang penting adalah maknanya

  3. semestinyalah… sederhana

    ah, semoga aku, kamu, dan kita sekalian
    bisa menjelam sahaja…

  4. dan bagian ini

    di pelaminan dengan busana batik miranda nan bersahaja

    membuat aku sukses terbahaaaak..
    maaf merusak moment
    😀

  5. aku jadi kangen dengar musikalisasi puisinya…

    menikah sederhana lebih baik, daripada pesta 3 harian tapi ngutang dan mengharap bisa impas dari kado yang masuk

  6. ikutan…..: aku dari tadi disuruh baca tulisan ini sama yang punya batik miranda padahal lagi sibuk ngerjain tugas jadi kesel2 gimana gituuu
    😦
    *maaf merusak moment bagian kedua* hahahahaha

  7. dulu aku memiliki keinginan untuk menjalani resepsi pernikahan sederhana saja
    tapi kenyataan berbicara lain
    orang tua kami berharap ramai 🙂

  8. Jangan2 gara2 baca koran Pikiran Rakyat nih, ada artikel tentang nikah muda. :mrgreen:

  9. saya juga ingin menikah dengan sederhana, ntar deh nyari calonnya dulu ahaha :mrgreen:

    bener tuh ngirit biar pada karokean aja deh, trus undangan pake media hehe.. 😆

  10. menikah dengan sederhana…oowww namana mbak sederhana to hehhee….*maap merusak moment bagian ketiga 😛

  11. saya juga pengen menikah sederhana, ntar para undangan dikasih makan nasi bungkus dari Rumah Makan Sederhana 😛

  12. Wah, sederhana nangingramai…angel iki 🙂

  13. Menunggu undangan via jejaring sosial,

    pasti meriah walau sederhana 🙂

  14. burung parkit bunga cendana
    biar irit dan sederhaha….;))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s