Tak Dapat Dilukiskan dengan Kata-kata

Menurutmu apa yang akan dikatakan air-air sungai coklat dari kota, bila ia ditanya mengapa mereka selalu saja berlari menuju ke pantai? Lalu bila pertanyaan itu juga ditanyakan kepada air-air jernih tak berwarna dari atas gunung, apa kira-kira jawaban mereka? Apakah mereka menjawab kalau mereka semata-mata hanya tunduk dan patuh pada undang-undang gravitasi?

“Iya juga sih, awalnya saya hanya ikut teman-teman saya berperosotan di aliran kali, tapi lama-kelamaan saat tiba di pantai, saya jatuh cinta pada angin semilirnya.” jawab sebutir air dari gunung.

“Benar, awalnya saya juga tunduk pada undang-undang gravitasi itu. Saat saya lahir dari sebuah pembuangan air dari sebuah rumah di sebuah kota kecil, saya langsung berhadapan dengan teman-teman yang menyambut saya di sebuah selokan menuju ke sungai besar. Setelah itu kami bermain-berkelit, bercilub-ba, di antara sampah-sampah plastik sungai besar itu, dan sampailah kami ke pantai, bertemu dengan ibu-ibu ombak yang cantik-cantik tapi cerewet.” ujar sebutir air sungai yang kulitnya coklat sambil tersenyum.

Beberapa waktu yang lalu ada yang ikut mengacungkan jarinya ke atas, ingin berbagi pengalaman, “Perkenalkan saya debu abu dari sebuah gunung di Jogjakarta. Beberapa waktu yang lalu saya keluar dari kediaman saya dan membumbung ke atas. Teman-teman saya juga ikut keluar bersama saya, ada yang lalu hinggap di atap-atap rumah dan betah di sana walau yang punya atap sudah menyiram dia, tentu saja dengan air, sekuat tenaga. Ada yang hinggap di dedaunan pohon, dan ada juga yang ikut keluar bersama lahar dingin, terjun turun bergabung di aliran sungai dan pasti kau bisa menebaknya, kemana aliran itu akan berakhir. Yup, ke pantai. Nah, saya adalah salah-satu yang sampai ke pantai dan jatuh cinta pada butir-butiran pasir pantai yang ada di sana.”

Menurutmu bila ditanyakan kepada mereka, kenapa mereka tertarik dan cinta kepada pantai, apa yang akan mereka katakan?

Butiran air dari gunung menjawab, “Saya cinta pada angin semilir pantai.”

“Kenapa suka?”

Dia berpikir sebentar dan mulai menjawabnya, “Saya suka kesejukannya.”

“Kenapa suka kesejukannya?”

“Ya… karena… kesejukannya mengingatkanku pada tempat asalku.”

“Kesejukannya seperti apa?”

” Hm…” Butiran air dari gunung terdiam lama, akhirnya tak bisa menjawabnya.

“Baiklah, berikutnya kepada butiran air sungai, kenapa kau suka dengan pantai?”

“Saya suka berkumpul dengan ibu-ibu ombak.” kata butiran air sungai mantap.

“Kenapa suka?”

“Karena ombak-ombak itu cantik dan merdu suaranya.”

“Kenapa suka dengan rupa cantiik dan suaranya?”

“Karena rupa dan suaranya menenangkan?”

“Kenapa menenangkan?”

Butiran air dari sungai terdiam lama, akhirnya tidak mampu lagi menjawab kejaran pertanyaan itu.

“Terus kepada debu Merapi, kenapa kau suka pantai?

“Saya suka pasir-pasir pantainya.”

“Kenapa?”

“Karena pelukan pasir sangatlah hangat, mengingatkanku pada tempat asalku dulu.”

“Kehangatan seperti apa yang kamu sukai?”

Debu Merapi terdiam tak bisa menjawab.

Sebenarnya apa itu perasaan suka? Apa itu perasaan cinta?

Seseorang yang spesial di hatiku bertanya padaku, “Apa yang kamu sukai dariku?”

Kujawab, “Karena kau menyejukkan, menenangkan dan menghangatkan.”

“Kenapa bisa seperti itu?”

Aku tak bisa menjawab. Terdiam. Terdiam seperti diamnya butiran air dari gunung, butiran air dari sungai, dan debu dari Merapi. Sebenarnya jawabannya sudah ada di dalam kepala, cuma tidak bisa terlukiskan dengan kata-kata.

Cuma tak bisa terkata-katakan dengan lukisan.

***

Iklan

12 pemikiran pada “Tak Dapat Dilukiskan dengan Kata-kata

  1. ah.. jd ingin tau kenapa.. πŸ˜‰

  2. si angin yang menjatuhkan daun namun tak pernah di benci itu gak ditanyain juga? πŸ™‚

  3. Saat abu vulkanis merapi bertemu ibu-ibu ombak di pantai … mak cles … segar rasanya …(abu merapi panas, air laut dingin)

  4. bales dong sesegera mungkin :p

  5. aaaaa..
    suka postingan ini.

    sering berkhayal andaikan batu, angin, debu, semuanya bisa bercerita πŸ˜€

  6. Salam persohiblogan
    Baru update dan BW lagi nih daku

    Keren keren
    Puitis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s