Mati

Kemarin pagi  Sakti baru saja masuk ke rumah bapaknya, sedang ibunya sudah menghadangnya di mulut pintu depan, sudah pakai jilbab hitam baju hitam dan rok hitam juga.

“Le, kebeneran,  ibu mau melayat, nanti ibu diampiri Om Pur berangkatnya sekitar jam 9, kamu jaga rumah ya?”

“Ya nggak bisa, nanti jam 10 masuk.”

“Yo wis, kalau begitu kunci rumah taruh di tempat biasa.”

“Yang meninggal siapa?”

“Kamu paling enggak kenal, Bude Maryani, itu ibunya mbak Yuni.”

Jam 10 lewat Sakti sudah sampai di tempat biasa. Sambil duduk melamunkan kejadian sewaktu dia di sepanjang  jalan dari rumah bapaknya ke tempat kerjanya tadi, sudah ada 3 tempat berbendera merah tandanya ada kematian di tempat-tempat tersebut.

Baru datang, tidak ada proyek, tidak ada pekerjaan.  Lebih baik ke tempat manajer, semoga ada gawean.

” Sak…Tunggu aku Sak…!” Mas Ratman memanggil.

“Ada apa sih ?”

“nanti siang ikut gak ?”

“Ada apa?”

“Lho bukannya anak-anak nanti pada mau berangkat ke layatnya Bambang ?”

“Ha ? Bambang Siapa ?”

“Lho belom tau ya ? Bambang, Bambang anak yang biasanya jaga malam, tadi pagi kecelakaan…”

“HAH ! BAMBANG !!!” Sakti teriak seakan tak percaya. “So pasti aku harus ikut.”

Siangnya setelah dzuhur, mereka semua berangkat ke rumahnya almarhum Bambang dengan mobil kantor ke Klaten, ke kediamannya Bambang.

Sesampainya di sana, mereka duduk di kursi yang telah disediakan sambil berbincang-bincang.

“Tidak habis pikir, padahal Jumat sorenya aku dan Bambang masih jalan-jalan cari nasi kucing di hik-nya mbah Ranto, tapi wajah anak itu memang sudah pucat, mungkin itu tanda-tanda kematiannya ya ?’ Ujar Broto kepada Pendi.

“Hehehe… kalau udah waktunya mau bagaimana lagi ?” Balas Pendi.

“Tabrakannya gimana sih ?”

“Tabrakan sama truk, waktu dia mau nyalip truk, ambil sisi kanan, ternyata di sisi berlawanan ada juga truk yang kencang, trus tabrakan.”

“Eh, apa sekarang sedang musimnya orang mati ya ?” Tanya Rosy.

“Mana ada musim orang mati !” kata Broto. “Trus kalau semua orang pada hidup, musim orang hidup, gitu?”

“Lihat aja di tivi, lihat aja sekarang, kemarin tetanggaku juga ada yang mati, ya iya, sekarang memang musimnya orang mati! ” Kata Rosy.

“Malaikat maut pasti  sekarang ini lagi sibuk-sibuknya.” Kata Sakti yang dari tadi diam aja.

“Kamu ini becanda aja saat-saat seperti ini.”

Semuanya diam.

Tiba-tiba terdengar suara dari pengeras suara dari dalam rumah almarhum Bambang.

“Bagi teman-temannya almarhum Bambang silakan bila mau menyolati jenazahnya Bambang.”

Merekapun segera mengambil air wudhu dan sholat jenazah di depan mayat Bambang. Setelah itu mereka pun turut mengantarkan jasadnya ke kuburan. Baru sekitar jam empat mereka telah pulang ke rumah masing-masing.

Sesampainya di rumah, Sakti merebahkan dirinya sejenak ke karpet di depan tivi. Acaranya masih sekitar liputan kematian seorang anggota DPR sekaligus manajer tim sepakbola u-23, ditambah lagi berita kematian bapak dari mantan penyanyi cilik yang sekarang jadi pemain sinetron.

Bapaknya Sakti  mendekatinya.

“Le… Bapak sedang flu nih, kamu nanti menggantikan aku ya, layat ke rumahnya Pak Haryo.”

“Pak Haryo ? Dr. Haryo Pratomo ? Rumah pojokan itu ?”

“Iya, siang tadi dia meninggal, kena serangan jantung, padahal masih muda lho, baru 45 tahun, kok ya sudah meninggal”

Sakti hanya tersenyum. “Apa memang sedang musimnya ya ?”

***

PS:

Mati adalah rahasia, siapa tau setelah memposting ini, saya akan dimatikan Sang Pencipta sebentar lagi… atau jangan-jangan anda…?

Ah… nggak usah berpikir yang tidak-tidak, nikmati saja hidup, biarkan saja Dia yang menentukan…

Iklan

5 pemikiran pada “Mati

  1. kematian kapanpun bisa datang….
    tapi yang penting bukan matinya, yang diliat adalah hidupnya :))

    stuju mbak

  2. Yah, yg penting kan gimana kita menyirami dan memberi pupuk selama masih hidup dan kalau sudah saatnya dipetik buahnya akan terasa manis 🙂
    Emang ada musimnya ya?


    hahahahah

  3. astagfirullah..jangan2 kitaaa.. ah tidaak

    ah iyaa…..

  4. Hidup dan mati adalah misteri,hanya Dia yang punya kuasa Yang Maha Pencipta.

    Di blog saya, juga ada komennya orang yang sudah mati lho …

    segera meluncur….

  5. rasanya kematian itu pernah begitu dekat.. dan ya memang, kematian itu datangnya seperti pencuri… semoga kita semua *jika waktunya tiba* diberikan khusnul khatimah.. amiin.

    amiin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s