Kenyataan yang nyata

di usia yang makin lapuk dan menua,
gara-gara diinjaki kaki sang waktu yang tak lelah berlari,
tak ada lagi sisa-sisa idealisme sewaktu dulu yang perkasa
semuanya dihajar realita, jatuh, runtuh, habis tak bersisa

bila kau masih saja memintaku untuk membawamu ke langit, menyusuri pelangi, ke bulan, bintang, awan dan hujan,
sungguh aku tak bisa apa-apa, karena memang aku tak bisa,
maka akan kupotong-potong saja lembaran langit dan tetek-bengeknya itu dengan mulutku sebisanya,
akan kukunyah-kunyah dan akan kumuntahkan ke piring,
muntahanku itu berupa campuran kata-kata,
akan kutata dulu sebelum nanti akan kupersembahkan padamu

sungguh kenyataan tak hanya bersiul keras menyadarkanku,
tapi dia sudah menamparku habis-habisan,
membangunkanku dari tidur panjang serasa berabad-abad
dengan mimpi-mimpi hampa tergantung-berayun manis minta digapai,
dan saat ini aku bangun, aku tak punya bekal apa-apa

bersyukurlah bagi kalian yang masih sadar menemukan titik-titik simpul kenikmatan dari-Nya,
dengan keluarga dan sahabat yang masih peduli,
dengan semua fungsi indera yang masih bisa bercerita sedetil-detilnya kepadamu tentang semua rasa di dunia,

bahwa itu dunia adalah kehidupan itu sendiri,
berupa bola yang masih saja berputar sesuai garis kodratnya
peran-peran panggung sandiwara masih bertukar tak berkutat di situ saja,

kuyakinkan dalam hati:
Dunia adalah tempat yang selayak-layaknya untuk ditinggali
sebuah tempat untuk mencermati keyakinan yang telah kujalani
untuk memahami-Nya, menyelaraskan antara apa yang kulakukan dengan yang Dia berikan
meski pakar-pakar keimanan mengatakan kalau iman terdiri atas beberapa persen berada di dalam logika dan beberapa persen di luar logika
justru semuanya bisa terungkap dan memasuki akal pikiran
dan saya, manusia, hanya tinggal meminta apa saja, berdoa,
lantas berusaha mematutkan diri di hadapan-Nya apakah saya pantas meminta hal-hal demikian,
langkah terakhirnya ialah bersyukur, memaksakan diri untuk berterima kasih pada-Nya, di sela-sela keimananku yang mengalami yanzid wa yanqus, menderita naik dan turun, serta didera bearish and bullish…


sumber gambar http://www.realitylapse.com/manga/

***

Iklan

11 pemikiran pada “Kenyataan yang nyata

  1. Ini termasuk apa ya. Puisi ya.

    Kalau manusia ya memang pasti hidupnya di bumi ini, sesuai dengan bagaimana asal muasal Tuhan menciptakan manusia utk hidup dan matinya di bumi. 🙂

    hehe… kita anggap puisi saja

  2. dunia adalah sebaik-baiknya tempat..

    ok…

  3. Indah nian untaian kalimat yang kau tuliskan
    Aku sendiri sedang belajar
    Berdiri tegak dalam kehidupan yang singkat ini

    benar kang,
    dunia tempatnya belajar sekaligus ujian,
    nanti hasil raport kita lihat saat dunia berhenti berputar.

  4. Tulisannya bagus, menyentuh…
    Hidup ini adalah idealnya menjadi barokah bagi semesta, tidak hanya manusia saja. Itu pesan yang sangat saya pegang erat 🙂

    nice brother… sesama teman kita sepantasnya saling memberi nasehat.

  5. assalamualaikum..
    pencarian yang panjang tentang hidup kita di bumi, hingga akhirnya hingga dan menyadari selayaknya kita hidup untuk menjalankan segala perintahNya dan menjauhi laranganNya.
    saya menyukai tulisan anda,
    semoga silatuahminya langgeng..
    salam

    wa alaikum salam. terima kasih, semoga silaturahim kita tetap langgeng, hingga akhir dunia.

  6. mimpinya jangan cuma digantung…doa selalu terbang menuju impian..:)

    mohon doanya…

  7. Karena dunia adalah selayak-layaknya tempat untuk ditinggali. Maka nikmatilah dunia ini, hiasilah dengan karya-karyamu. 🙂

    sesama manusia selayaknya saling menghiasi …

  8. berjuang terus ya sahabat 🙂

    iya, hingga titik darah penghabisan

  9. penyuka puisi juga ya???

    yup, apa boleh buat?

  10. kenyataan memang sering menyakitkan dan tak sesuai harapan. jalani saja, nikmati saja apa2 yang sudah kehidupan berikan..
    semangat ya teman 🙂

    ok pren 🙂 nasehatmu kucatat dalam palung hati sanubari terdalam

  11. nice i like this

    thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s