Misteri Sel 57


“Bri, saya tahu kamu sedang susah. Upah buruh bangunan pasti tidak cukup buat menghidupi istri dan ketiga anakmu yang masih kecil-kecil. Ini, saya punya tawaran buat kamu.”

Sabri menunduk sebagai layaknya orang susah. Sepertinya memang sudah tidak ada pilihan lain lagi selain menuruti keinginan tetangganya yang pegawai LP Winangun tersebut.

“Memang pekerjaannya seperti apa Pak Mamin?” tanya Sabri.

“Mungkin ini pekerjaan paling mudah di seluruh dunia. Kamu tinggal masuk ke sel yang saya tunjuk terus kamu bersih-bersih sel itu dan jaga barang-barang yang ada di sana selama waktu yang nanti saya tentukan. Kalau kamu terima, nanti jam 1 siang datang ke LP.”

“Baik, saya terima.” Tanpa pikir panjang, Sabri menerima tawaran itu karena memang sudah 2 bulan ini dia menganggur, tak ada pekerjaan buruh bangunan. Padahal kebutuhan hidup telah lama menghimpit dadanya, menyesakkan nafasnya.

“Baik, saya tunggu. Tapi nanti kamu menginap di sel yang saya tunjuk, mungkin bisa 1 atau 2-3 hari…”

Sabri tampak berpikir, namun 10 detik kemudian ia berkata, “Baik, itu bisa diatur.”

Pak Mamin lantas bersiap menuju ke tempat kerjanya. Wajahnya tersenyum. Satu persoalan selesai sudah. Kata-kata atasannya di LP 2 hari yang lalu masih terngiang di kepalanya: Pak Mamin, LP kita sebentar lagi kedatangan penghuni di sel 57. Kamu tahu siapa? Dia adalah anak pengusaha terkenal, Bebby Bono yang tertangkap basah sedang pesta narkoba, itu lho yang beritanya ada di koran dan tivi. Pak Benny sudah menyerahkan amplop kepada saya. Mungkin anaknya itu cuma ada di sini sekitar 1 hari saja. Tugas kamu, kamu harus mencari orang yang akan menggantikan sisa hari-harinya di sini…

Tok…tok…tok…! Suara ketukan di pintu di ruangannya membuat Pak Mamin terbangun dari lamunannya. “Oh Sabri, silakan masuk. Ini ada pakaian seragam wajib dipakai. Kamu untuk sementara setengah hari dulu, untuk selanjutnya mungkin bia berubah-ubah, bisa beberapa hari. Nanti malam jam 9 kamu bisa pulang, tapi besoknya harus ada di sini lagi jam 6 pagi atau tunggu kabar dari saya, oke?”

Sabri langsung memakai seragamnya bernomor 57 dan langsung menuju ke sel yang sama nomornya dengan seragamnya.

Malamnya ia ke ruangan Pak Mamin yang langsung berkata padanya, “Bri, ini ada sekedar balas jasa, pulanglah, tapi jangan lupa, besok tunggu sms dari saya.”

Sabri menyambar amplop yang ada di atas meja. Tanpa sabar ia membukanya. Terbelalaklah ia melihat beberapa lembar uang 50-an ribu di dalamnya. “Terima kasih Pak Mamin, Besok pagi saya ke sini lagi,” kata Sabri ceria.

Sudah 5 hari berjalan, kerjasama antara Sabri dan Pak Mamin berjalan lancar.

Tetapi hari ini kabar sms dari Pak Mamin belum jua ada, padahal hari telah menjelang siang. Sambil menunggu, Sabri mendengar ketukan di pintu rumahnya.

“Permisi, apakah ini rumahnya Pak Sabri duljoni?

“Iya itu saya, ada apa Bapak-Bapak ini ada ke sini?”

“Kami dari Tim Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Menurut data kami, anda terlibat sebagai joki napi di LP Winangun. Untuk itu…”

Kata-kata dari tamu-tamu Sabri sudah tidak bisa lagi dicerna oleh Sabri karena pandangan matanya berangsur menghitam, dan gelap. Hiruk-pikuk suara antara tamunya dengan suara jeritan istri serta anak-anaknya tak mampu menembus titik kesadarannya. Yang ada dalam benaknya sekarang adalah mulut ruang sel 57 ternyata bisa bergerak dan berkata padanya, “Oh Sabri… kau bukan lagi tamuku, tapi kau sekarang adalah penghuniku, kalau bisa untuk selamanya… haha…ha…”

gambar diambil dariΒ Β Β  http://www.realitylapse.com/manga/

 

***

hikmah:

  1. Bila ada tindak kriminal terjadi, cobalah lihat kemungkinan-kemungkinan yang menjadi latar belakangnya, agar sudut pandang tidak hanya sepotong.
  2. Kejahatan bisa terjadi bukan saja karena ada niat dari pelakunya, tetapi juga karena adanya kesempatan. Maka dari itu waspadalah!

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp.

Iklan

14 pemikiran pada “Misteri Sel 57

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.C.B
    Artikel anda akan segera di catat
    Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya

  2. Bagusss… membuat kita melihat sisi lain dari sesuatu yang telah dikesankan buruk di mata kita… nice writing Sakti.. πŸ™‚

  3. Keren sob
    saya juga baru aja bikin, masih anget
    saya ikutan KUCB meski belum tentu layak πŸ™‚

  4. Sip..sip.. keren.. πŸ™‚
    hikmahnya terinspirasi dari bang Napi ye?? hihihi… dua jempol

  5. wah dimana tuh sel ya

  6. yaaaaa … kasian pak sabri
    kalau menurut saya hikmah dari tulisan ini adalah kita harus cerdas serta hati-hati dalam mengambil keputusan. yang kedua kemiskinan bukan hayan membuat kita dekat dengan kekufuran tapi juga dekat dengan mala petaka.
    semoga kita lebih cerdas
    salam kenal mas

  7. Pak Sabri yg malang 😦
    di ambil hikmahnya gan πŸ™‚

    salam dari manado
    wiwing

    bagi yang bersimpati kepada pak sabri silakan kirim donasinya ke blblabla…hehe..

  8. wkwkw pas sekali dengan berita sekarang πŸ˜€
    sukses ya..

    tapi kok malah simpang-siur ya? Satgas= Satuan Gak Jelas? πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s