Antara Vandalisme dan Seni

lokasi: Jalan Raya antara Kantor Agraria- SMA 1 Wonogiri

lokasi: kompleks perumahan Kethu Wonogiri

 

 

Bung Sakti, apa pendapat anda tentang grafiti?

50% suka, 50% tidak suka.

Maksudnya?

Ukuran 50%-50% itu sebenarnya masih bisa berubah. Kalau grafiti itu bagus, komposisi ditambah gradasi warnanya tidak melelahkan mata, antara lekuk dan sendi-sendinya proporsional plus seimbang, atau dilengkapi konsep perspektif ditambah lagi letaknya ada di tempat yang pas, maka bisa jadi saya 100% suka.

Jadi, apakah anda mendukung seni corat-coret tembok itu?

Dibilang suka sih tidak, tapi kalau dibilang benci juga tidak. Asalkan tadi, kalau dipasang di tempat yang pas atau bentuknya bagus, ada pesan-pesan penting disebaliknya, saya pasti suka. Kalau gambarnya jelek, dan dipamerkan di tembok formal seperti perkantoran, tempat ibadah, ya pastinya saya tidak suka. Anda juga pasti tidak suka juga.

Sepertinya anda tahu banyak soal grafiti?

Ah, saya tidak tahu apa-apa soal grafiti.

Apakah anda pernah ikut kelompok grafiti dan tahu juga sistem kerja mereka, atau jangan-jangan anda sendiri adalah salah-satu dari mereka?

Haha. Teman saya dulu yang tukang grafiti, kalau saya cuma ikut menyumbang ide saja. Sewaktu SMP dulu, sewaktu kelas dua SMP, ada seorang teman yang pecicilan, nakal tapi cerdas. Saya baru tahu kalau dia itu tukang gambar grafiti sewaktu saya pinjam catatannya. Bukunya lecek, tapi tulisannya pakai font grafiti, jadinya tidak bosan kalau membacanya. Akhirnya saya ikut-ikutan gaya mencatatnya. Sekarang kabarnya dia ada di Jogja, kuliah, tapi belum selesai-selesai. Saya pernah diajak corat-coret tembok, tapi waktunya harus malam hari dan harus juga membayar iuran untuk biaya operasional, yaitu untuk membeli beberapa pilox dan cat kaleng, tapi saya menolak, disamping tidak punya uang, saya juga anti keluar malam. Selain itu saya juga belum pernah sama sekali corat-coret tembok. Untuk mencorat-coret tembok orang lain, biasanya dia dan kelompoknya minta ijin dulu ke yang punya tembok. Kalau diijinkan, maka pengerjaannya bisa siang hari, tapi kalau tidak diijinkan, maka pengerjaannya harus malam hari. Sialnya kebanyakan dari yang punya tembok strategis tidak rela kalau temboknya dicoreti. Makanya pengerjaannya harus malam hari. Ada lagi seorang teman saya. Dia pintar kaligrafi. Saya tahunya sewaktu ada pelajaran menggambar, materinya kaligrafi. Dia membuat gambar yang rumit, detailnya kecil-kecil. Saya mengatakan kepadanya kalau gambarnya bagus tapi pasti kacau kalau diwarnai, apalagi warnanya wajib pakai pastel, tidak boleh yang lain seperti spidol atau pensil warna. Dia hanya tertawa. Pada waktu penyerahan gambar ke pak guru, pak guru lantas menunjukkan gambarnya ke siswa yang lain. Semuanya berdecak kagum. Kaligrafinya bagus sekali, full color, padahal warna yang dia pakai cuma dua: coklat tua dan coklat muda!

Kaligrafi termasuk grafiti juga?

Ya iya, seni menggambar tulisan. Bisa saja gambar tulisannya nanti ditambahi gambar yang lain.

Biasanya media grafiti adalah tembok…

Bisa di mana-mana. Khusus untuk saya, saya menggambarnya cukup di kertas saja, atau kalau nanti mau dipamerkan, tinggal difoto terus diolah di komputer baru dimasukkan blog. Pernah saya coba lukis di kain kanvas, tapi hasilnya jelek sekali. Untuk mencoba di tembok, saya seumur hidup belum pernah dan tidak akan pernah.

Kapan Bung Sakti tertarik dengan grafiti?

Sejak SMP kelas dua, atau kalau sekarang kelas 8. Semasa SMA saya tidak begitu tertarik lagi dengan grafiti, tapi sewaktu kuliah semester 3, ada seorang teman yang cara mencatatnya sama persis dengan teman di SMP saya yang suka grafiti, makanya tangan saya kemudian gatal dan ikutan menggambar tulisan ceramah dari dosen di buku catatan saya. Sebenarnya saya tidak pintar menggambar, cuma suka saja.

Boleh lihat contoh grafiti anda?

Silakan lihat.

Grafiti ini sekaligus ambigram.

Ambigram?

Iya, coba saja putar 180 derajat.

Wow, sejak kapan anda mengenal ambigram?

Baru-baru saja, sejak saya kenal novelnya Dan Brown yang judulnya Angels And Demons.

Baik Bung Sakti, terima kasih atas waktunya.

Sama-sama.

***

Iklan

11 pemikiran pada “Antara Vandalisme dan Seni

  1. Sama. Gue juga antara setuju dan tidak setuju sama grafitti.
    Selama tetap manis siy gpp 🙂

  2. ini mah kotor kang.
    bukan seni sama sekali.

  3. kalo indah
    kita bisa menangkap seninya 🙂

  4. yah sama juga setengah suka setengah tidak hehe..
    sering melihatnya di Djokdja dan sekarang banyak juga di kota2 lainnya..
    hmm sepertinya perlu ya media untuk menuangkan kreatifitas mmereka.. tapi apa ya? *sokmikir

  5. Bagaimana kalau disediain kanvas yang besar supaya grafiti bisa jadi benda karya seni?

    Tapi namanya nanti bukan grafiti dooong … 🙂

    Salam kenal dari Solo

  6. ambigram.. asli saya baru denger. kalo anagram sih sudah kerjaannya.. :mrgreen: oh ya, mungkin lebih baik disediakan tempat khusus untuk grafiti dengan tema yang ditentukan ya.. bagus lagi kalo ditambah mural juga. wah pasti keren. 🙂

  7. kayaknya sulit ya bikinnya.. gimana cara nentuin sudut-sudutnya supaya bisa pas kalo dibalik..

    paling pas kalau lagi mood, apa aja gampang… asal ada niat dan kesempatan… waspadalah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s