Di sini… demam dan Rindu

Hujan mulai turun siang ini.

Kata teman, “Hujan, waktunya kita menikmatinya.”

“Bagaimana caranya?” Kataku.

“Ya, pandangi  saja.”

“Yep. Kau benar. Pandangi caranya hujan menyeruak menyembul dari perut awan-awan kelabu di langit biru.” Jam di Hp motorola bututku menunjukkan pukul 13.00. Itu waktunya aku harus masuk kantor. Tapi aku lupa karena aku sudah dinonaktifkan sang manajer semenjak kemarin sore, “Buat apa lagi masuk? Saatnya bebas.” Pikirku. “Saatnya bebas dan berhujan-hujan ria.”

Waktu berlalu hingga Ashr. Naik motor ke masjid besar. Mandi. Wudhu. Dan Ashr berjamaah.

Waktu berlalu lagi hingga sore. Migren mulai menyerang, demam mulai menyergap.

Dan sekarang, aku hanya ditemani jaket krem, segelas jahe panas dan parfum minyak kayu putih. Aku saat ini tak ubahnya seperti nenekku dulu yang kuanggap aneh. Sekarang aku juga ikut aneh.

“Terima kasih Demam, karena telah menemaniku malam ini, sambil menggenjrengkan lagu wajib para pria bujang: Munajat Cinta.”

Setidaknya rinduku terobati akan hadirnya puisi-puisi tentang hujan dan langit biru itu.

***

Iklan

14 pemikiran pada “Di sini… demam dan Rindu

  1. hehehe
    k’ sakti nie bahasa nya terlalu gimanaaa gitu…

  2. sangat menarik, makasih n terus berkarya..

  3. @k’sakti: bukan aneh kak, tapi terlalu didramatisir

  4. hehehe….
    peace….
    (^_^)

  5. mari nerhujan-hujan bersama

  6. hei, sak, lama tak mampir ternyata kau sudah pindah rumah 🙂
    selamat atas rumah barunya 😀

  7. wah pindah rumah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s