Rapat Muhasabah Kali Ini… .

Muhasabah, berasal dari kata.. . sebentar,  saya cari dulu tombol “sok tau” di belakang telinga saya sebelah kiri. Oh,pantas saja posisinya sedang off. Sebentar, saya on-kan dulu. Nah sudah.

Berdasarkan pengetahuan saya tentang bahasa Arab sewaktu di pesantren dulu, muhasabah berasal dari wazan/pola fa’ala, jadi hassaba-yuhassibu-hassib-hiisab terus yang terakhir muhassib-muhassab terus bentuk jamaknya muhassabah. Artinya, mengukur, menghitung atau menimbang. Cukup sekian dan terima kasih.

Saya akan muhasabah dulu, menghitung-hitung diri yang sekarang dan membandingkan dengan diri yang dulu. Ambil cermin. Saya hitung mata saya masih dua, seperti yang dulu, juga hidung, juga mulut. Tapi ada yang bertambah, ada kerutan-kerutan keriput di sekitar mata dan tumbuh pula kumis dan jenggot. Oh umur ini telah menua, oh, lalu apa itu muhasabah?

Sepertinya saya harus meniru perusahaan-perusahaan, kantor-kantor atau koperasi-koperasi ataupun juga sekolah-sekolah saat menjelang akhir tahun. Mereka melakukan persiapan apa namanya Rapat Tutup buku, Rapat Konsolidasi Akhir Tahun atau rapat-rapat yang serupa dengan itu. Saya akan menirunya. Mata saya harus melihat ke dalam diri bagaikan mata Spongebob yang bisa masuk dan menjelajahi ruang-ruang otaknya.

Pertama-tama akan saya undang otakku dan hatiku untuk berkumpul bersama. Tahap kedua akan kuajak mereka ngobrol tentang rencana-rencana mereka terdahulu, terus apakah capaian-capaiannya hingga saat ini yang telah tercapai. Tahap ketiga, kita bertiga akan berbincang menghadapi hal-hal tak terduga di tahun mendatang.

Segera kusiapkan surat ijin peminjaman tempat untuk rapat ini.

kepada Yth.
Otak
di tempat

Mohon ruang aulamu saya pinjam untuk keperluan rapat muhasabah. Mohon juga siapkan hal tetek-bengek lainnya dan buat supaya ruang rapatnya menjadi nyaman dan kondusif. kita tidak bisa lagi gunakan kamarnya Hati karena belum begitu bisa digunakan untuk rapat.

Atas perhatiannya terima kasih.

Berikutnya saya buat lagi surat yakni surat undangan kepada Hati.

kepada Ytc.
Hati
di tempat

Mohon kehadiran saudara pada:
hari, tanggal: Jumat, 26 November 2010
Tempat           : Aula Otak
Keperluan     : Rapat Muhasabah Akhir Tahun

Demikian surat undangan kami. Mohon dipersiapkan sebaik mungkin.

Diriku lantas tinggal menunggu waktu muhasabah itu terlaksana.

Oh, kenapa dari tahun ke tahun hanya dua itu saja, Otak dan Hati yang selalu ikut rapat? Kenapa tidak mengundang pihak-pihak lain? Tapi pihak lain? Siapa? Pernah rapat dulu sudah mengundang Mata, Mulut, Telinga, tapi yang paling vokal ya cuma dua itu, Otak dan Hati, karena Mata, Mulut dan Telinga hanya diam saja saat rapat muhasabah, maka untuk rapat berikutnya mereka tidak Diriku undang saja sekalian (mohon maaf, huruf “D” di “Diriku” memang tercetak kapital bukan karena salah ketik, tapi karena “Diriku” menjadi salahsatu tokoh sentral dalam cerita ini, sama halnya dengan “Otak” dan “Hati”). Tapi bosan juga kalau rapat kali ini hanya mengundang Otak dan Hati yang wajahnya itu-itu saja. Supaya ada sedikit perubahan, sebaiknya mengundang pihak lain, tapi siapa ya enaknya?

Bagaimana kalau mengundang Si Kelamin? Waduh, takutnya kalau dia nyerocos tentang hal-hal menjijikkan, saru dan kontroversial dan bagaimana kalau postingan ini tidak masuk kriteria dalam salahsatu lomba di suatu Blog gara-gara omongan si Kelamin? Bagaimana ini,apakah Diriku perlu jadi mengundang Si Kelamin?

Atau begini saja, dia tetap saya undang, tapi begitu ia mulai berkata-kata yang menjurus ke xxx, maka akan saya keluarkan dia.

Diriku kemudian menulis surat undangan berikutnya.

Kepada Engkau:
Kelamin
di tempat

Untuk rapat muhasabah kali ini Engkau mendapat kehormatan dengan bisa ikut menghadirinya. Silakan hadir bila memang ada waktu.

Sekian dan terima kasih.

Waktu yang ditunggu akhirnya tiba. Pertama hadir Otak dengan membawa banyak map-map tebal. Kedua muncul Hati yang juga membawa hanya beberapa lembar berkas. Yang terakhir muncul Kelamin yang tidak membawa apa-apa. Menurutku Si Kelamin pasti hanya menonton saja dan terbengong-bengong atau sedikit-dikit hanya akan mengomentari saat Otak atau Hati melakukan presentasi.

Karena semua peserta sudah hadir, maka Diriku, selaku ketua, memulai acara. “Baiklah, selamat malam semua, Selamat datang di Aula Otak untuk menghadiri rapat. Assalamu alaikum.”

Mereka bertiga menjawab serempak, “Waalaikum salam.”

“Kesempatan pertama, silakan Otak menyampaikan target-target tahun ini, dilanjutkan sudah berapa persen yang tercapai. Waktu dan tempat Diriku persilakan.”

Otak berkata, “Baik, atas kesempatan yang diberikan. Atas perintahmu Bos, saya sudah melaksanakan target-target yang sudah kau perintahkan untuk bisa menguasai dan memikirkan segala hal, mulai dari melaksanakan hal-hal teknis dengan menjadi pekerja teknisi elektronik, pada bulan berikutnya kau suruh aku untuk bekerja dalam hal statistika dengan menjadi Koordinator lapangan ketika bulan Mei di BPS. Bulan berikutnya lagi kau suruh aku untuk mengajar matematika di sebuah lembaga kejar paket B. hingga sekarang kau suruh aku untuk bekerja di lembaga keuangan yang mengurusi banyak masalah. Untuk target-target hingga saat ini sudah tercapai 95%.”

“Baiklah, untuk kesempatan berikutnya silakan Hati.”

“Terima kasih atas kesempatannya. Pada tahun ini, seperti perintahmu bos, aku kau suruh untuk terus memperbaiki kamarku yang tiga tahun lalu diguncang gempa hebat. tapi mungkin aku kali ini kurang memberimu kepuasan bos, soalnya gempa masih saja terus menerjang ruang kamarku, dan awan tebal masih menggelayutinya. hingga kini aku masih terus melakukan perbaikan-perbaikan…”

“Sebentar, saya sudah tahu itu, sudah berapa persen perbaikan yang kamu lakukan?” Diriku bertanya pada Hati.

“Ya…sekitar 45% Bos…”

“Apa…? Kau tahu sebenarnya kenapa kamu saya suruh untuk menyempurnakan ruang itu? Sebenarnya itu adalah ruang satelit pada saat data-data di aula Otak overloaded maka kaulah yang meng-handlenya sehingga kau dan Otak bisa bekerja berdampingan. Sebenarnya apa masalahmu?”

“Begini bos, apa sebaiknya kita menginstall alat deteksi dini gempa, cuaca buruk dan bencana lain di ruangku itu? Supaya kita bisa memperkirakan apa-apa saja yang akan terjadi…”

“Memang kerjamu agak mengecewakan. Tapi tak apalah. Untuk berikutnya tugasmu selain memperbaiki terus ruang itu, kau menginstall dan update terus software deteksi dini bencana-bencana itu supaya ruang itu semakin sensitif merespon segala hal. kasihan bila Otak terus menerus bekerja sendirian.”  Diriku berhenti sebentar untuk menarik nafas, lantas beralih ke Kelamin. “Min, mumpung kau hadir di sini, apa yang ingin kau utarakan?”

“Saya tidak tahu apa yang ingin saya kemukakan Bos, mungkin untuk sementara saya ikuti dulu kemana alur rapat ini berjalan.”

“Okelah kalau begitu. Selanjutnya silakan Otak untuk menyampaikan keluhan-keluhannya selama ini.”

Otak menjawab, “Bos, saya merasa beban untuk memikirkan segalanya ini sungguh telah berat, sungguh berat dan melelahkan Bos. bagaimana bila kita melakukan hal-hal yang spesifik saja, pilih salahsatu antara mengajar atau mengelola perusahaan keuangan…” Otak kemudian tertunduk lesu.

“Jadi kita harus meng-cancel beberapa target, begitu?”

“Iya Bos, biarkan saja waktu yang menjawab, biarkan saya bekerja secara terspesialisasi dan nanti akhirnya bisa menjadi profesional, walaupun bidang-bidang lain akan tertinggal, tetapi bila kita mengejar satu saja bidang, dan fokus di titik satu itu, kemungkinan besar kita kan selamat di tahun mendatang, bagaimana Bos?”

Diriku terdiam lalu menjawab pelan, “Saya tidak tahu… bidang mana yang kau sukai Otak. Atau begini saja, untuk sementara kita fokusnya ke perusahaan keuangan itu, walau sebenarnya keuangan kita sendiri masih keteteran. kalau nanti ada kesempatan lain, kita bisa coba. Itu tidak menutup kemungkinan. Bagaimana Otak?”

“Baiklah Bos akan saya coba,” jawab Otak agak mantap. tapi terlihat di wajahnya sepertinya masih ada yang mengganjal dan tak bisa dikeluarkan.

“Lalu kau Hati, sepertinya keluhanmu sudah jelas, ada tambahan lainnya?”

Hati hanya menarik nafas panjang dan mengeluarkannya dengan cepat. Lalu dengan lesu ia menjawab, “Tidak ada Bos, mungkin cukup itu dulu…”

“Baiklah, lantas kau, Kelamin, apa masalahmu?”

Kelamin tampak serius. Beberapa kali ia memperbaiki duduknya lantas mulai berkata-kata, “Bos, seb..sebenarny…sebenarnyanya…say..s-say-yya,” Kelamin tampak gagap atau malah terkesan berhati-hati sedangkan Otak dan Hati masih menyimaknya dengan seksama.

Kelamin melanjutkan, “Sebenarnya saya ingin bicara yang sebenarnya. Sas.. say.. saya sudah bosan Bos, hanya bertugas sebagai saluran pembuangan urine. Saya ingin sekali naik derajat dengan menjadi sebuah tempat penyaluran dengan fungsi reproduksi, fungsi melanjutkan keturunan.  Sudah sering kali saya ini mulai menegang dan mengeras menyesakkan nafas. Entah kenapa saya sangat ingin sekali mendapatkan pasangan. Ingin sangat kumasuki sebuah ruang di mana ruang itu memberikan kehangatan, memberikan belaian kelembutan serta membasahi aku yang kering ini…”

“Cukup Kelamin!” Tiba-tiba Diriku memotong, “Sepertinya aku tahu pembicaraanmu akan mengarah kemana. Ses…”

“JANGAN BOS!!! Jangan potong omongannya Kelamin!” Serentak Otak dan Hati yang tadi terdiam, memotong bicara Diriku dengan bersamaan. Otak dan Hati lantas saling berpandangan dan berbisik satu sama lain, selanjutnya mereka saling angguk.

Otak mulai bicara, “Kau mungkin kurang adil Bos, apa sebaiknya kita biarkan dulu Kelamin melanjutkan bicaranya?”

“Hm…oke, Kelamin, silakan bila kau mau bicara lagi.” Ucap Diriku. Tapi Kelamin hanya diam, menunduk dan menggeleng-geleng pelan.

“Baik Bos,” lanjut Otak tegas, “Saya sama seperti Kelamin, jenuh juga bila selama ini kita bermuhasabah hanya Kau, Aku dan Hati. Bosan bila aku hanya melihatmu. Ingin sekali aku bertukar pikiran dengan otak yang lain, yakni pasanganku, Pasangan Otak, tempat berbagi pemikiran, supaya sudut pandangnya semakin lengkap dan komprehensif. Ini juga bisa sebagai solusi untuk menghadapi situasi di tahun mendatang.” Otak berhenti sebentar, berpikir, lalu bicara lagi, “Selanjutnya temanku, Hati, mungkin kau ingin menambahkan sesuatu,”

Hati mulai bertutur, “Setelah kurasakan Bos, akar dari permasalahan rusaknya kamarku mungkin karena masalah ini. Bisa saja kamarku normalnya ya seperti ini. Software deteksi dini gempa sudah paling maksimal. Semakin diperbaiki sudut-sudut ruang kamarnya, malah semakin tidak karuan. Potongan-potongan dinding kamar untuk menambal tidak ada yang pas. Aku butuh pasangan bos, Pasangan Hati, yaitu sebuah Hati Lain yang mungkin agak berbeda suasana kamarnya, tapi apabila kamar dia dan kamarku disatukan, maka akan jadi sebuah kamar yang sempurna, saling mengisi dan saling melengkapi.” Hati berbicara dengan mata yang berkaca-kaca, mulut tersenyum, tetapi Hati tampaknya puas karena semua isi dalam dirinya telah terbebas.

Seketika ruang aula itu terdiam cukup lama. Diriku lantas mengambil suara, “Jadi inti dari semua ini, kalian ingin punya pasangan. Sungguh, rapat muhasabah kali ini sangat berbeda. Terasa spesial gara-gara pembicaraan kita yang terakhir tadi. Baiklah, semua target, pemikiran dan keinginan kalian sudah aku catat semuanya. Semuanya. Sedetail-detailnya. Selanjutnya semua catatan ini akan saya serahkan ke Sang Pemilik Kehidupan. Kemungkinan besar nanti, pukul tiga dini hari, saya akan menemui-Nya untuk membicarakan hasil rapat kita ini. Baiklah, kalau tidak ada lagi yang dibicarakan, hari sudah larut, mari kita tutup rapat kali ini dengan bacaan hamdalah dan doa penutup majelis. Wassalamu’alaikum.”

“Wa alaikum salam.”

Diriku melihat Kelamin pulang lebih dulu. Ia berjalan sambil berlari kecil riang. Berikutnya Hati yang pulang, ia berjalan sambil menari gembira. Yang terakhir, Diriku melihat Otak sedang membersihkan ruang aula sambil bersenandung ceria.

“Hai Otak, kalau semuanya sudah beres, matikan lampu aulanya ya?”

“Siap Bos.” Ujar Otak mantap, semantap Diriku untuk menapaki hari-hari di waktu mendatang.

***

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Muhasabah Akhir Tahun di BlogCamp

Iklan

14 pemikiran pada “Rapat Muhasabah Kali Ini… .

  1. waaaahhh kereeenn.. ini kreatif namanya..
    asli saya suka cara penulisannya 😀
    semoga semuanya bisa diperbaiki dan menjadi lebih baik di masa yang akan datang ya..

    • makasih, semoga masa yang akan datang, baik itu kedatangan detik-detik di hidupmu, kedatangan hari-harimu dan kedatangan bulanmu baik-baik saja…

  2. hahahaha
    manteb mas!
    baru kali ini saya baca ada postingan yang membicarakan masalah personifikasi hati, otak dan kelamin. TOB!

  3. asli …
    ini tulisan bagus banget.
    jarang sekali menempatkan ketiga hal dalam diri kita sebagai ‘sesuatu’ yang punya pikiran dan kemauan.

    semoga menang mas.. walopun saya ikutan.. saya jagoin kamu aja deh.. hehehe.

  4. mas, walau bagaimanapun… menikah memang dapat menjaga diri kita dari perbuatan maksiat… sekali lagi saya tekankan, menikah mas… bukan pacaran… jadi, kalau memang panjenengan telah mantap maka segeralah untuk menikah.

    tapi bukan berarti menikah itu melulu menyenangkan. menyatukan dua pikiran dan dua hati itu tidak semudah membalik telapak tangan.

    • tenang pren, pacaran gak ada dalam kamus hidup saya. Makanya saya gak tau apa itu pacaran. Sip. bentar lagi nikah, ni aja baru belajar bikin biodata tapi masih bingung, kelemahan-kelemahan apa juga harus dicantumkan di biodata ya?

  5. Langkah selanjutnya berikhtiar mencari pasangan Otak, Hati dan Kelamin mas… 🙂
    semoga target tahun mendatang dapat terpenuhi.. 🙂

    moga sukses di kontes ini dan di kehidupannya… 🙂

  6. keren dik tulisannya
    salut deh 🙂

  7. Artikelnya sudah dicatat dalam buku besar…
    Salam hangat dan sukses selalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s