Pura-pura

Sepertinya ombak pantai di Mentawai kemarin iri,
dia ingin menyaingi lebatnya guyuran wajahmu saat menggigilkan hatiku…

Mungkin Merapi kemarin juga iri,
dia juga ingin menyaingi gemuruh hatiku saat aku membaca dirimu…

lalu kenapa aku mencintaimu?
ini bukan tentang sup jagung atau apapun…
aku mencintaimu, karena kau begitu tak mungkin untuk kumiliki,

aku mencintaimu, karena aku sendiri tak tahu apa itu cinta

karena cinta itu abstrak, cinta itu tidak nyata, cinta itu bullshit…, cinta hanya khayalan…

maka dari itu aku mencintaimu.

o… bila kemudian aku melamarmu, maukah kau menerimanya?

bila kau tidak mencintaiku, maukah kau berpura-pura juga menerimanya?

lalu untuk selanjutnya kau berpura-pura berperan menjadi istri… bagiku…

tidak mengapa, sambil kuberdoa, semoga cinta datang karena terbiasa…

namun bila pernikahan kita sudah berjalan beberapa tahun, tapi cinta tak jua datang, maukah kau… tetap berperan sebagai istri, hingga stok nafasku di dunia telah expired?

maukah kau tetap berpura-pura mencintaiku?

 

 

mungkin ku tak akan bisa jadikan dirimu kekasih yang seutuhnya mencinta,
namun kurelakan diri jika hanya setengah hati kau sejukkan jiwa ini
(Ada Band-Setengah Hati)

***

Iklan

4 pemikiran pada “Pura-pura

  1. waduh mas, capek dihati kalo selalu berpura-pura. lebih baik membenci sesungguhnya, dari pada mencintai pura2

  2. kak sakti………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s