Sebuah cerpen

Di suatu siang yang garang, sebuah pohon di pinggir sungai
kegerahan. Dia mulai mengibas-ibaskan telapak daun di
dahannya yang kecil. Matanya terpejam, karena tak mampu
lagi menentang kemilau kuningnya sang mentari. Pohon itu
merasa matanya telah buta. Kelopak mata kulit kayu miliknya
sudah kering dan pecah-pecah dan sudah pasti tertembus oleh
sinar matahari. Telapak-telapak daun juga ikut membantu
menahan terjangan sinar matahari yang menyerang, tetapi
tetap sinar itu masih saja menjalar menembus matanya. Pohon
itu telah menyangka, inilah akhir hidupku, mataku hampir
buta, getahku mengering, semua gara-gara matahari panas
kuning sialan itu. Tetap bagaimanapun ia masih bersyukur.
Untung saja akar-akarnya masih mencengkeram erat tanah.
Untung saja ia masih diberi kesempatan untuk menyeruput
butiran-butiran air sungai yang mengalir di dekat jemari
akarnya. Untuk saat ini, pohon kecil itu masih bisa
bertahan di tengah terpaan panas yang dialaminya.








